Showing posts with label Pulau Larat. Show all posts
Showing posts with label Pulau Larat. Show all posts

Lima Bonus dari PPKT

Selama proses pendampingan yang dilakukan fasilitator di Pulau Larat, tidak sedikit hal-hal yang didapatkan yang telah memberi pelajaran maupun pengalaman berharga. Selama kurang lebih delapan bulan hidup dan tinggal bersama masyarakat, menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, serta melibatkan diri langsung dalam setiap aktivitas yang kiranya bisa memperat hubungan fasilitator dengan masyarakat dan seluruh stakeholder yang berkepentingan. Berikut uraian singkat pembelajaran berharga yang fasilitator dapatkan selama hidup bersama masyarakat di Pulau Larat:

A. Membangun Indonesia dari Pinggiran
Membangun Indonesia dari Pinggiran, merupakan sebuah perwujudan nawacita dari Presiden RI Bapak Joko Widodo dalam mengawal pembangunan negeri dimulai dari perbatasan dan daerah terdepan Indonesia. Sudah selayaknya sebagai anak bangsa, kita juga ikut mengawal niat dan aksi baik ini demi mewujudkan sebuah taman garda terdepan yang menjadi idaman setiap warga negara. Program pendampingan efektivitas sarana dan prasarana (Prakarsa) di pulau-pulau terluar merupakan implementasi dari nawacita membangun Indonesia dari pinggiran sebagai buah kerjasama antara DFW Indonesia dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mengawal pembangunan di pulau-pulau kecil terluar (PPKT) Indonesia. Menjadi seorang fasilitator untuk mendampingi kelompok pengelola sarana dan prasarana bantuan dari pemerintah bukanlah sebuah hal yang mudah. Terkait bagaimana merubah pola pikir masyarakat mengenai bantuan itu sendiri, peran kami untuk memberikan penyadaran terhadap masyarakat bahwasanya aset itu milik mereka, milik masyarakat, sehingga perlu adanya perhatian dan perawatan dari masyarakat. Kami terus berproses dalam kurun waktu delapan bulan mendampingi kelompok pengelola desalinasi, PLTS, abon ikan dan jetty apung. Lambat laun kelompok mulai berbenah diri, mulai nampak capain dambaan, mulai mengerti akan arti sebuah pengelolaan begitu juga dengan masyarakat setempat. Membangun Indonesia dari pinggiran bukanlah sebuah keniscayaan, tetapi sebuah sentuhan dan optimisme bahwa Indonesia dibangun dari sentuhan hangat kolaborasi dari berbagai pihak yang peduli.


B. Partisipasi dan Apresiasi
Pembangunan di pulau-pulau kecil terluar (PPKT) pada dasarnya sebagai sebuah rangkaian upaya pembangunan nasional yang berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk mewujudkan tujuan nasional yang termaksud dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamain abadi dan keadilan sosial. Membangun desa-desa di PPKT memerlukan serangkaian partisipatif kolaboratif dari segenap elemen masyarakat yang ada, dimaksudkan agar aspirasi dari berbagai kebutuhan dapat ditampung dengan baik. Selama bertugas di pulau terluar, saya pribadi belajar banyak hal mengenai arti sebuah partisipasi. Saya menjadi saksi saat mengikuti sebuah Rapat Negeri di suatu desa. Rapat negeri ini dihadiri oleh segenap elemen masyarakat dari pemerintah desa, adat, majelis agama, pendidik, masyarakat umum. Rapat negeri bertujuan untuk membahas mengenai pembangunan desa yang sudah tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMD). Saat rapat negeri berlangsung, saya sebagai fasilitator juga menyampaikan ide dan pendapatnya mengenai keberlanjutan pengelolaan bantuan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Selain itu apresiasi dari pemerintah pusat atas pencapaian pengelolaan menjadi sebuah pengalaman berharga untuk pengelola bantuan, seperti teknisi dan operator kelompok masyarakat pengelola (KMP) PLTS Faduk Mavu Desa Lamdesar Barat, Pulau Larat yang diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan PLTS pada bulan Agustus 2016. Begitu juga dengan teknisi kelompok desalinasi Tavarsina desa Ritabel diberangkatkan pada awal bulan Oktober 2016 untuk Bimtek Teknis Desalinasi di Kota Tual, Provinsi Maluku.

C. Belajar Toleransi dari Sudut Negeri


Toleransi itu bukan hanya diajarkan, tetapi juga dirasakan secara langung dari guru kehidupan. Selama delapan (8) bulan tinggal dan menyelami kehidupan masyarakat di Pulau Larat, fasilitator belajar banyak hal mengenai arti sebuah toleransi. Tersebutlah pada sebuah desa di mana ada PLTS, fasilitator tinggal bersama orang tua angkat dan menjadi satu-satunya muslim di desa tersebut. Saat itu sudah memasuki bulan Ramadhan, begitu juga dengan fasilitator menjalankan ibadah puasa. Orang tua angkat sudah menyiapkan makanan dan minuma untuk berbuka ketika menjelang waktu berbuka itu tiba, bahkan terus menanyakan keadaan fasilitator apakah masih kuat, masih sehat, bagaimana kondisi tubuh. Ini sebuah perhatian tulus dan seorang orang tua angkat di sebuah desa pulau terluar.

D. Sekolah Kepemimpinan dan Pengembangan Diri
Tinggal bersama dengan masyarakat dalam jangka waktu tertentu dalam proses pendampingan merupakan sekolah kepemimpinan bagi fasilitator. Ada banyak dimensi kepemimpinan yang berkembang dari fasilitator seperti Facilitating for Change (mendorong orang lain untuk mencari kesempatan melakukan pendekatan-pendekatan yang berbeda dan inovatif dalam menghadapi masalah dan peluang; memfasilitasi terjadinya penerapan dan penerimaan perubahan di tempat kerja), initiation acting (aksi inisiatif), decision making (kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami isu, masalah serta peluang; membandingkan data dari berbagai sumber untuk menarik kesimpulan; menggunakan pendekatan yang efektif untuk memilih serangkaian tindakan atau menyusun solusi yang tepat; mengambil tindakan yang konsisten dengan fakta, keterbatasan dan konsekuensi yang ada), dan Building Positif Working Relationships/BPWR (kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan hubungan kolaboratif untuk memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan kerja).

E. Pemahaman Akar Rumput
Grass root understanding (pemahaman akar rumput) merupakan sebuah modal bagi setiap anak bangsa untuk memahami apa yang terjadi di tingkat paling bawah. Realitas dan kondis real yang terjadi dalam pergulatan kehidupan masyarakat khususnya di pulau-pulau kecil terluar. Menjadi seorang fasilitator merupakan sebuah kesempatan berharga untuk memahami dan mendalami geliat permasalahan yang terjadi di masyarakat. Diharapkan kita dapat menyerap sebanyak apapun yang dapat kita lihat dan rasakan atas realitas yang ada, sebagai dasar yang kuat untuk menjadi pemimpin di masa mendatang. Dengan pemahaman akar rumput, seorang pemimpin diharapkan dapat menyentuh sampai ke tingkat akar rumput.

spacer

Menimba Kearifan dari Pulau Terluar


Kalwedo, kidabela!
Membawa semangat kalwedo dalam ruh setiap kehidupan masyarakat Maluku, terutama di kepulauan Tanimbar, kita semua bersaudara, kita semua harus bersatu. Inilah semangat kolaborasi sedari dulu yang ingin dibawa dan dibuat lebih “keren” di masa sekarang. Mengapa? Maluku Tenggara Barat sebagai salah satu lokasi Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (PSKPT) memerlukan kolaborasi, gandeng tangan serta turun tangan dari semua pihak. Bukan hanya tugas dari pemerintah daerah saja, tetapi didukung dengan semangat “Kalwedo” dari seluruh elemen masyarakat Tanimbar.

Kabupaten Maluku Tenggara Barat merupakan salah satu kabupaten Kepulauan di Provinsi Maluku yang terkonsentrasi pada gugus Kepulauan Tanimbar dengan luas keseluruhan 52.995,20 km2 yang terdiri dari wilayah daratan seluas 10.102,92 km2 (19,06%) dan wilayah perairan seluas 42.892,28 km2 (80,94%). Jumlah pulau-pulau kecil sebanyak 174 dan 122 diataranya telah bernama, panjang garis pantai sekitar 1623.27 km dan 4 (empat) pulau kecil terluar sebagai titik pangkal perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Australia menjadikan kabupaten Maluku Tenggara Barat sebagai kawasan yang sangat strategis.

Sebagaimana diatur dalam Perpres 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar mengandung 3 prinsip, yaitu: wawasan nusantara, berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Sehingga, perlu adanya sebuah pendampingan untuk menunjang kebutuhan dan menggali potensi masyarakat yang diimplementasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikananan melalui Dirjen Pengeloaan Ruang Laut dengan melatih dan mengirimkan para fasilitator pulau-pulau kecil terluar berpenduduk. Adapun komponen program pendampingan pulau-pulau kecil terluar terdiri atas:

  1. Penguatan data dan Informasi di PPKT. Adanya pemetaan isu, tokoh masyarakat, profil pulau dan pendamingan pernecanaan desa.
  2. Penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) sarana dan Prasarana yang menjadi fokus pendampingan. Pendampingan penguatan kapasitas SDM, pelatihan teknis dan manajemen, penguatan kelembagaan dan pengembangan program inisiatif.
  3. Pengembangan kemitraan dan kerjasama. Adanya identifikasi dan fasilitasi mitra potensial, pengembangan usaha ekonomi produktif serta pengembangan program inisiatif KMP.

Pulau Larat dengan luas wilayah sekitar 124,89 Km2 merupakan salah satu dari empat pulau kecil terluar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang berdasarkan Perpres 78 tahun 2005 termasuk salah satu pulau terluar dari 92 pulau terluar berpenduduk yang ada di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga. Pulau Larat terletak di sebelah utara dari Pulau Yamdena (pulau terbesar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat). Secara administrasi seluruh desa-desa di Pulau Larat termasuk dalam wilayah Kecamatan Tanimbar Utara Kabupaten Maluku Tenggara Barat Propinsi Maluku. Berdasarkan data BPS MTB, 2014 Kecamatan Tanimbar Utara terdiri dari 8 desa dan 1 kampung dan khusus di Pulau Larat hanya terdiri dari 7 desa. Secara keseluruhan desa-desa di Pulau Larat terletak di sepanjang pesisir utara Pulau. Ketujuh desa di Pulau Larat tersebut antara lain Desa Ritabel, Desa Ridool, Desa Watidal, Desa Keliobar, Desa Kelaan, Desa Lamdesar Barat dan Desa Lamdesar Timur.

Pulau Larat merupakan pulau yang sudah memiliki infratruktur sarana dan prasarana yang memadai, seperi pelabuhan kapal barang, fery dan dermaga Jety Apung. Terdapat kantor pemerintahan, kantor Camat, Kantor KB, pos militer, kantor Pos dan Bank BRI. Saat ini sedang dilakukan proses pengerjaan jalan Trans Larat yang akan menghubungkan semua desa-desa di Pulau Larat, sehingga dapat mempercepat persebaran dan pertumbuhan ekonomi serta aksesbilitas yang memadai.

Masyarakat di Pulau Larat cukup beragam jenis mata pencahariannya. Ada yang berprofesi sebagai guru, PNS, nelayan, petani dan pembudidaya rumput laut. Potensi terbesar di Pulau Larat adalah perikanan tangkap, budidaya rumput laut dan kacang tanah. Saat ini harga rumput laut mengalami penurunan, yaitu Rp 3.000 - 4.000 per kg rumput laut kering. Hal ini sangat dirasakan betul oleh pembudidaya, sehingga beberapa pembudidaya mulai beralih ke kacang tanah. Untuk penerangan di Pulau Larat sudah terjangkau instalasi listrik PLN yang beroperasi dari pukul 18.00 – 06.00 WIT, hanya saja di dua desa paling ujung timur bagian pulau, yaitu desa Lamdesar Barat dan Timur masih padam hingga kini, dikarenakan beberapa instalasi tiang listrik mengalami kerusakan seperti patah maupun jatuh.

PLTS Terpusat di desa Lamdesar Barat dan Desalinasi Air Laut merupakan bantuan sarana dan prasarana pulau terluar yang diberikan oleh Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) kerjasama dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Saat ini kondisi kedua sarpras tersebut (PLTS dan desalinasi) sudah dapat beroperasi dengan baik setelah mengalami perbaikan/revitalisasi pada bulan Agustus dan November 2016. Pada tahun 2016 ini, sebuah apresiasi dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam hal memberangkatkan teknisi PLTS dan Desalinasi untuk mengikuti bimbingan teknis bagi pengelola bantuan. Harapannya, ini sebagai sebuah langkah awal kemandirian dalam pengelolaan, ke depannya diharapkan apabila terjadi kerusakan dapat diatasi terlebih dahulu oleh teknisi lokal/kelompok.

Diharapkan melalui program pendampingan masyarakat ini bisa menjadi stimulus untuk masyarakat setempat agar lebih percaya diri untuk membangun desa dan mengajak kolaborasi semua yang perduli akan kemajuan daerahnya. Laut merupakan masa depan kita, di laut kita jaya, laut adalah halaman depan rumah kita! Semoga kolaborasi terus tumbuh dan terjalin seperti halnya gandengan rantai baja yang saling melengkapi. Lebih ringan bukan kalau dipikul bersama, dan terasa indah proses kerja yang terjadi. Kami percaya dan bisa!

spacer

Tengok Singkat Pendampingan

Pantai Keliobar, Pulau Larat
Pulau Larat sebagai salah satu pulau terluar memiliki sumber daya yang beraneka ragam, seperti hasil laut maupun hasil pertaniannya. Merupakan sentra perikanan tangkap dan pengembangan rumput laut serta kacang tanah menjadi komoditas unggulan dari Pulau Larat. Dikenal dengan kekayaan biodiversitas dari tanaman langka layaknya Anggrek Lelemuku dan berbagai macam jenis burung yang ada di negeri cahaya ini (Larat berarti Cahaya). Sudah sewajarnya berada di ujung utara Tanimbar semakin sering mendapatkan perhatian dari Pemerintah baik daerah maupun pusat, baik berupa pemberdayaan masyarakat maupun bantuan sarana dan prasarana.

Proses fasilitasi dan pendampingan efektivitas sarana dan prasarana Pulau-Pulau Kecil Terluar Berpenduduk (PPKT), khususnya Pulau Larat yang terletak di Kabupaten Maluku Tenggara Barat sudah berjalan selama delapan (8) bulan. Ada beberapa catatan perkembangan yang terjadi dari bulan ke bulan yang ditemui oleh fasilitator selama berada di lapangan bersama masyarakat. Hal ini tentunya tidak lepas berkat dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Tenggara Barat, Dinas PU dan Tamben, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), Pemerintah Kecamatan Tanimbar Utara, Pemerintah Desa di Pulau Larat, Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) Desalinasi, Jetty Apung dan PLTS Terpusat serta dukungan dari seluruh masyarakat di Pulau Larat yang selalu berbaik hati kepada fasilitator. Adapuan proses pendampingan meliputi penguatan data dan informasi, penguatan kelembagaan dan SDM, pengembangan kemitraan dan pasar serta program inisiatif lainnya yang telah dilaksanakan.

Disamping itu, fasilitator juga melakukan pendekatan secara khusus dengan masyarakat guna mendukung pelaksanaan pendampingan. Seperti terlibat dalam acara di desa, diskusi santai dengan masyarakat yang sedang berkumpul, ataupun ikut dalam kegiatan sosial lainnya. Selanjutnya dari proses dan metode yang dilakukan fasilitator, didapatlah hasil yang menjadi tujuan dari program pendampingan. Meskipun hasilnya tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan, namun terdapat perbedaan dari sebelum pendampingan dan sesudahnya.

Proses pembuatan profil Pulau Larat sebagai penguatan data dan informasi dilakukan dengan serangkaian koordinasi dengan SKP terkait, survei institusional, wawancara, FGD, PRA, serta obervasi secara langsung untuk melihat kondisi real di lapangan. Selain output berupa profil pulau, untuk menambah khasanah data di dunia maya, fasilitator juga membuat blog dan tulisan terkait potensi Pulau Larat.

Ada tiga kelompok yang didampingi yaitu kelompok PLTS, Desalinasi dan UEP Abon Ikan. Proses pendampingan kelompok meliputi pelatihan administrasi, pelatihan keuangan sederhana dan kegiatan, fasilitasi pelatihan teknisi kelompok, fasilitasi pameran produk UEP dan pertemuan bulanan kelompok. Selain itu fasilitator juga membantu dan memfasilitasi kelompok pengelola sarana prasarana dalam hal perbaikan desalinasi dan PLTS. Masing masing anggota kelompok sudah semakin memahami tugasnya, dilihat dari kemampuan anggota kelompok mengatasi masalah jika terjadi kerusakan kecil dari perangkat desalinasi ataupun PLTS. Mereka tidak lagi saling bergantung, dan berusaha menyelesaikan semampu mereka. Disamping itu terjadi peningkatan kemampuan kelompok juga dalam hal penyusunan laporan keuangan, dan telah disusun juga masing - masing satu profil kelompok (profil kelompok PLTS dan Desalinasi) yang bisa digunakan kelompok untuk lebih mengembangkan pengelolaan sarpras. Sekarang sudah bisa dilihat bahwasanya masyarakat PPKT siap menjaga aset bantuan dari pemerintah yang menjadi milik mereka.

Untuk menambah warna di PPKT, fasilitator merintis Rumah Baca sebagai wadah anak-anak di Pulau Larat untuk menemukan jendela dunia dan menemukan potensi yang ada serta dalam menjalin tenun nusantara, dibuatkanlah jejaring anak nusantara yang diberi nama Sahabat Nusantara, program sahabat pena antara Indonesia Bagian Timur dengan Indonesia Bagian Barat.

spacer

Profil untuk Newsletter Prakarsa-KKP

WIDO CEPAKA WARIH

Fasilitator yang biasa dipanggil Wido ini adalah keturunan Jawa yang lahir dan dibesarkan di Purworejo, Jawa  Tengah. Sulung dari dua bersaudara ini berhasil menyelesaikan studinya di Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (UI) angkatan 2009.

Semasa kuliah, Wido aktif dalam kegiatan organisasi kampus mulai dari Himpunan Mahasiswa Geografi (HMG), Koperasi Mahasiswa FMIPA UI, Ikatan Mahasiswa Geografi (IMAHAGI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia. Wido juga berkesempatan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XXIV Makassar, Pertukaran Pelajar di University of Malaya, Malaysia dan menjadi perwakilan dari Universitas Indonesia dalam ajang Indonesia Japan Joint Symposium (IJJS) di Chiba University, Jepang. Wido juga pernah bekerja dalam bidang pemetaan sebagai GIS Analyst di dua perusahaan swasta.

Ketertarikan Wido dalam dunia pemberdayaan masyarakat dan pendampingan dimulai ketika saat menjadi Pengajar Muda (PM) dalam Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Saat itu Wido menjadi PM di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Selain bertugas sebagai pengajar di sekolah dasar, Wido juga menggerakkan segenap elemen masyarakat untuk terlibat dan peduli pada pendidikan. Bahwasanya pendidikan adalah tugas dari setiap insan yang terlahir, pendidikan menjadi milik bersama secara kerja bakti dari kolaborasi semua elemen.
Saat ini Wido sedang menjalani tugas sebagai Fasilitator Pulau-pulau Kecil Terluar (PPKT) Berpenduduk di Pulau Larat, Kab. Maluku Tenggara Barat. Kecintaannya pada negeri ini, berbagi dan dorongan untuk terus belajar menjadi motivasi kuat memilih untuk mendampingi masyarakat di PPKT.

Selain pendampingan sarana dan prasarana, fasilitator juga mengajak semua pihak untuk terlibat dalam mengelola sumber daya yang ada, salah satunya adalah potensi masa depan anak-anak di Pulau Larat melalui Gerakan Rumah Baca. Buku merupakan gerbang mereka untuk melihat dunia di luar sana. Sebagai inspirasi menggantungkan mimpi di sudut-sudut negeri setinggi langit menjulang. Mutiara yang akan menjadi harapan masyarakat di Pulau Larat.

Pulau Larat merupakan surga yang tersembunyi dengan sejuta makna dan potensinya. Sebagai salah satu ikhtiar bersama yang mengajak kolaborasi segenap pihak, maka muncullah inisiatif untuk membuat wahana bercerita kepada dunia melalui laman http://pesonalarat.blogspot.com. Laman ini merupakan sebuah jendela untuk membuka ruang kepedulian akan Pulau Larat. Semoga niat dan ikhtiar baik ini menjadi aksi yang terus positif dengan keterlibatan lebih luas.

Menjadi seorang Fasilitator bukan hanya bercerita mengenai bagaimana serunya mengarungi Laut Arafura dengan perahu ketinting, berceloteh riang bersama nelayan, atau menemani seorang nelayan rumput laut ketika sedang memerika long line budidaya, ataupun berbagi keceriaan bersama anak-anak negeri ketika senja menjelang di sebuah dermaga kecil desa di ujung timur pulau, tetapi sebuah proses pembelajaran tiada henti bersama kearifan masyarakat.

Dari masyarakat di Pulau Larat, kita bisa belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal, belajar kearifan lokal dan budaya mereka, belajar untuk tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar serta belajar memaknai setiap kebahagiaan.


spacer

Surga Tersembunyi di Pulau Larat


Lelaki tua itu sedang sibuk membersihkan mesin ketinting yang baru saja diambilnya di gudang rumah. Tampak cekatan tangan terampilnya, membongkar mesin yang sudah mempunyai banyak kenangan berharga semasa rumput laut mengalami kejayaannya. Kendati demikian, lelaki yang sudah mencintai laut, tidak demikian seperti kata orang-orang. Dalam kondisi apapun, akan selalu bersama dengan lautan yang lama telah diarunginya.

Aku dipanggilnya untuk ikut serta melihat dan mengecek lahan budidaya rumput laut miliknya. Sudah beberapa hari ini angin mulai kencang kembali. Mungkin banyak beberapa rumput laut yang jatuh dari talinya, sehingga perlu diikat kembali. .
Dari kesederhanaan dan kecintaan beliau pada laut, aku belajar banyak hal. Belajar bagaimana untuk selalu menghargai proses dan berjalan terus dalam kondisi musim apapun yang menerpa. Meminjam istilah dari sesorang yang saya kagumi, "Tabah sampai akhir !"


Pikat Pantai di Pulau Larat

Ada yang bilang kalau pantai adalah muara dari segala kepenatan dan ruang untuk melepas semua keluh kesah dan itu menjadikannya semua kebahagiaan. Bermain dengan pasir putih dan birunya laut, membuat aku seakan lupa akan segala badai yang menerjang.

Pulau Larat ternyata menyimpan banyak lokasi tersembunyi yang belum diketahui banyak orang. Cocok buat Anda yang suka lokasi wisata yang menantang dan masih alami. Ada deretan garis pantai yang siap memanjakan Anda semua.



Salah satunya adalah nuansa pasir putih dan bersihnya Pantai Keliobar. Pantai ini terletak di pesisir utara pulau Larat tepatnya di sebelah barat desa Keliobar. Anda akan disuguhkan dengan romantika nuansa dan harmonisasi antara langit dan laut yang berpadu dalam birunya. Berteduh di bawah pohon kelapa yang rindang, siap dipetik kelapa hijau ketika haus. Nikmat bukan?


Cerita mengenai lelaki tua dan pantai Keliobar hanya bagian kecil dari surga yang tersembunyi di Pulau Larat. Masih banyak lagi yang nantinya akan kita lihat dan rasakan bersama, seperti wisata mangrove di pesisir desa Kelaan dan Lamdesar Barat, snorkling ditemani bintang laut dan ikan yang lucu, memanah ikan, melihat proses pembuatan kain tenun Tanimbar, keceriaan anak-anak di Pulau Larat, mencicipi ikan segar dan sejuta cerita :).


spacer

Lamdesar Barat di Timur


Perjalanan kali ini tentunya akan membawa cerita dan kisahnya. Bukan perjalanan biasa, tetapi dalam rangka mengemban sebuah tugas. Tugas yang menyenangkan tentunya, karena dapat belajar banyak dari masyarakat dan mengenal mereka lebih jauh.
Tersebutlah suatu desa di ujung timur Pulau Larat bernama Desa Lamdesar Barat. Jangan sangka walaupun toponimi desa mengandung unsur arah mata angin, tetapi letak sebenarnya di lokasi adalah di sebelah timur.
Menurut penuturan dari Bapak Zadok Abiatar Fun (Kepala Desa Lamdesar Barat), asal usul nama dimulai ketika dahulu Lamdesar masih menjadi satu. Kemudian ketika dipisahkan mulai timbul permasalahan toponimi. Berhubung dari lokasi saudara kandung Desa Lamdesar Barat, yaitu Desa Lamdesar Timur yang sekarang dapat melihat jelas ujung timur Pulau Yamdena, oleh karenanya desa tersebut diberi nama Desa Lamdesar Timur. Di sebelah timurnya baru diberi nama Desa Lamdesar Barat. Begitulah kiranya.
Ini menjadi perhatian di mana peta pada umunya sebelum adanya revisi menampilkan toponimi desa Lamdesar Barat dan Timur sesuai arah mata angin. Dampaknya ke beberapa kebijakan pembangunan terjadi hal yang membingungkan, baik dari pusat maupun pemerintah daerah. Terkait dengan bantuan-bantuan maupun program yang diberikan. Untungnya hal itu sudah berlalu dan menjadikannya sebuah perbaikan dari ikhwal pengalaman di masa lampau. Begitu pentingnya pengaruh toponimi suatu daerah dan sejarah di baliknya perlu mendapatkan perhatian dan kerjasama dari semua pihak. Baik dari pemerintah daerah dan pusat. Pola komunikasi dari tingkat desa ke pusat maupun sebaliknya menjadi kunci sebuah sinergisitas pembangunan.
***
spacer

Rumah Baca Pulau Larat dalam Newsletter DFW Indonesia

Akhirnya secuil energi positif dari rumah baca Pulau Larat dapat disebarkan secara luas melalui newsletter DFW Indonesia dalam edisi Aksi Tepian Negeri 2016. Newsletter tersebut menjadi slah satu di menu stand DFW dalam kegiatan Festival Philanthropy Indonesia. Stand ATN sempat dikunjungi oleh Mensos dan Bapak Andy F. Noya.
Dunia PPKT memang memiliki kearifan dan keunikan sendiri. Karenanya, keunikan tersebut harus disebarluaskan karena kita bagian dari Indonesia.
spacer

Selamat pagi, Bu :)

Selamat pagi, Bu :)
Di perjalanan menuju pasar ikan Larat. Awalnya aku tidak menoleh ketika ada yang memanggil dengan ucapan tersebut. Aku kira ada orang lain yang dipanggil. Aku pastikan kembali ternyata hanya aku seorang yang dipanggil.
"Iya, Bu, selamat pagi, Bu mo pi mana? (mau pergi ke mana), kata orang yang memanggilku. " Bu? (sambil menunjuk aku sendiri), jawabku. "Iya, Bu itu kepanjangannya dari Bung". 
Owh begitu, selamat pagi juga, Bu, bet mo pi pasar ikan dulu, mo beli ikang (ikan) dolo.
Selamat !
***
*bet (beta): saya
pi: pergi
Bu: bung
selamat: diucapkan ketika akan berpisah atau bepergian
#catatanmaluku #tanimbar #pulaularat


















spacer

Video "Potret Rumah Baca Pulau Larat"



Dipublikasikan tanggal 31 Agt 2016
Rumah baca ini berada di desa Lamdesar Barat, Pulau Larat, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, merupakan salah satu bentuk kegiatan Aksi Tepian Negeri (ATN) 2016 yang diprakarsai oleh Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Rumah baca Pulau Larat dirintis oleh Fasilitator Program Prakarsa 2016 (Wido Cepaka Warih).



Walaupun tinggal di pulau-pulau terluar, mereka (anak-anak) mempunyai semangat yang tinggi dalam membaca. Terlihat antusiasme ketika mereka bermain dan belajar di rumah baca. Buku adalah teman dan sahabat terbaik bagi mereka. Buku jendela untuk melihat dunia luar dan merangsang imajinasi serta mimpi-mimpi. Mari ikut bersama-saam untuk merawat mimpi anak-anak di sudut negeri!

***
.

Keceriaan sore hari saat di rumah baca. Terdengar gelak tawa dan bahagia ketika mereka melihat kata yang terangkai indah dalam susunan padu sebuah cerita anak. Mimpi anak di ujung timur Arafuru. Mari merawat mimpi pemimpin masa depan.

***
Buku ini sangat berarti buat kami. Jendela masa depan, mengantarkan ke dalam alam mimpi dan imaji. Terima kasih atas buku yang menginspirasi kami semua.



***
Bahagia itu sesederhana melihat mereka antusias membaca buku yang kami bawa. Bahagia itu melihat mereka saling berbagi atas apa yang mereka baca. Bahagia itu sesederhana menemani mereka di rintisan rumah baca hingga senja menjelang. Iya, ini tentang mereka. Anak-anak di timur Arafura.



***
Bahkan ada yang sampai lupa pakai baju setelah pulang sekolah langsung datang untuk membaca buku. Buku yang menarik perhatiannya ternyata buku kumpulan lagu-lagu wajib dan nasional. Terdengar lirih senandung Indonesia Raya dan Halo-Halo Bandung dari sang maestro kecil. Inilah potret anak Indonesia di Pulau Larat, Kab. Maluku Tenggara Barat.

spacer