Showing posts with label Prakarsa. Show all posts
Showing posts with label Prakarsa. Show all posts

Listrik Rp 10.000,00 Per Bulan di Pulau Terdepan


Di tepian dermaga Lamdesar Barat, Pulau Larat, saya bertemu dengan kelompok pengelola pembangkit listrik tenaga surya, mereka menamakan dirinya "Faduk Mavu", padanan filosofi Cahaya Pengetahuan. Hadirnya terang dan cahaya di pulau terdepan pertanda ikhwal peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan, begitu harapan masyarakat sewaktu Rapat Negeri digelar. Faduk Mavu menjadi tumpuan keberlanjutan pengelolaan energi matahari di desa tepian Arafura tersebut.

Mari tengok ke belakang dan realitas, adanya kondisi mangkrak bantuan-bantuan dari pemerintah maupun pihak lain, karena kurangnya perhatian pada pembangunan manusia, penyiapan sumber daya untuk mengelola bantuan tersebut. Mengapa? Karena dengan adanya penyiapan sumber daya manusia untuk mengelola, keberlanjutan akan kesadaran kepemilikan dan kebutuhan bersama menjadi sebuah bagian dari nadi kehidupan masyarakat.

***

Tahun 2014, merupakan sebuah catatan masyarakat Lamdesar Barat, Pulau Larat. Sebuah desa pesisir di pulau terdepan, bilangan jarak 300 mil dari Darwin, Australia  ini, mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal dengan kapasitas 50 kwp (kilowatt-peak). Hal ini menjawab kebutuhan listrik di pulau terdepan.

Kehadiran fasilitator pulau terdepan merupakan teman bagi masyarakat dalam mengelola bantuan tersebut, akhirnya dibentuklah kelompok masyarakat pengelola (KMP). Masyarakat juga dilibatkan semenjak awal pembangunan, hal ini guna menunbuhkan rasa keberpihakan dan kepemilikan bersama. Gotong royong sudah menjadi ruh negeri ini. Dari anak sekolah sampai kakek nenek ikut membantu proses pembangunan PLTS yang diawali dengan doa dan upacara adat. Mereka mengambil porsi keterlibatan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Ada yang membangun fondasi panel surya, memikul baterai, membersihkan areal, menyediakan makanan dan minuman dan banyak cerita menarik lainnya.

Dalam perjalanan proses pendampingan, sudah ada kesepakatan dalam musyawarah desa mengenai aturan dalam pengelolaan (AD/ART), besarnya iuran tiap bulan, kerja bakti membersihkan areal PLTS, hal-hal yang tidak diperbolehkan dilakukan untuk menjaga kelangsungan pembangkit.
Proses pendampingan selalu ada cerita tersendiri. Ada cerita sukses dan sebaliknya, ada cerita "lecet" di pertengahan jalan. Justru proses "lecet" ini yang akan mendewasakan semua pihak dari masyarakat maupun pendamping. 

Bukan seberapa banyak kita jatuh, tetapi apakah kita mau bangkit dan berdiri kembali?

Ketika memasuki bilangan menjelang akhir tahun 2015, terjadi keresahan yang menjadi buah bibir masyarakat. Setelah ditelusur karena adanya salah satu oknum masyarakat yang menyambung kabel secara ilegal, sehingga mengakibatkan kerusakan pada salah satu komponen PLTS. Dengan adanya kerusakan tersebut, menjadi pelajaran cukup berharga bagi masyarakat, karena ketika sebelumnya di malam hari terang, sekarang gelap dan kembali menggunakan lampu minyak atau genset warga.

Adanya kemarahan dari masyarakat terhadap oknum tersebut, menjadikannya sebuah musyawarah panjang dalam Rapat Negeri yang dipimpin oleh kepala desa. Pemberlakuan sanksi dan hukuman pun diberikan, begitu juga dengan sanksi sosial secara tidak langsung dari masyarakat itu sendiri. Saat adanya kerusakan, kelompok pengelola sudah mengerti prosedur pelaporan yang harus dijalankan. Dimulai dari pemerintah desa sampai pemerintah kabupaten. Memang butuh proses bertahap, tetapi kelompok sudah melaksanakan prosedur yang sesuai.

Jawaban atas perbaikan akhirnya datang juga di tahun 2016, dalam kurun waktu sekitar 6 bulan kerusakan, komponen tetap dipelihara dan terjaga dengan baik. Setelah adanya perbaikan, digelar kembali ajang Rapat Negeri yang dipimpin oleh Kepala Desa untuk berkomitmen bersama masyarakat dalam menjaga dan mengelola PLTS. Kini mereka menyadari bahwa pengelolaan merupakan tanggung jawab bersama.

Dengan iuran Rp 10.000/bulan, masyarakat kembali menikmati kerlip cahaya di malam gulita. Iuran tersebut dikumpulkan untuk memberikan apresiasi kinerja kelompok pengelola dan perawatan PLTS. Saat ini sekitar 188 KK, 742 jiwa merasakan manfaat dari tiga buah mata lampu yang terpasang di tiap rumah. Geliat anak-anak belajar mulai tambah semarak, ibu-ibu mengelupas kulit kacang tanah dan membuat kain tenun serasa ada harmoni dalam bunyi ombak pecah di karang ujung desa.

Di lain kesempatan, pemerintah desa akan memasukkan anggaran perawatan PLTS jangka panjang dalam dokumen RPJMDes dan RKPDes. Satu lagi bentuk bukti konkrit dari masyarakat pulau terdepan dalam menjaga sarana prasarana. Pengelolaan bantuan berbasis masyarakat menjadi kepemilikan bersama untuk sebuah keberlanjutan. Pulau terdepan mengajarkan contoh kearifan dan arti sebuah tanggung jawab. Kunci keberlanjutan dari adopsi teknologi terletak pada kolaborasi aspek teknis dan sosial. Dukungan teknis berupa pelatihan operator pengelola dan transfer ilmu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Perlahan tapi pasti, kolaborasi membuka ruang diskusi dan partisipasi untuk proses kemajuan pulau terdepan.

Pemberian bantuan sarpras berupa teknologi baru (contoh PLTS) tanpa adanya keterlibatan, penyiapan sumber daya manusia untuk mengelolanya dan dukungan teknis yang bisa diakses, bisa jadi hanya sebuah pepesan kosong untuk bicara keberlanjutan! 

Mari berkolaborasi untuk pulau terdepan NKRI!

*artikel ini menjadi headline di Kompasiana, 19/2

spacer

Tengok Singkat Pendampingan

Pantai Keliobar, Pulau Larat
Pulau Larat sebagai salah satu pulau terluar memiliki sumber daya yang beraneka ragam, seperti hasil laut maupun hasil pertaniannya. Merupakan sentra perikanan tangkap dan pengembangan rumput laut serta kacang tanah menjadi komoditas unggulan dari Pulau Larat. Dikenal dengan kekayaan biodiversitas dari tanaman langka layaknya Anggrek Lelemuku dan berbagai macam jenis burung yang ada di negeri cahaya ini (Larat berarti Cahaya). Sudah sewajarnya berada di ujung utara Tanimbar semakin sering mendapatkan perhatian dari Pemerintah baik daerah maupun pusat, baik berupa pemberdayaan masyarakat maupun bantuan sarana dan prasarana.

Proses fasilitasi dan pendampingan efektivitas sarana dan prasarana Pulau-Pulau Kecil Terluar Berpenduduk (PPKT), khususnya Pulau Larat yang terletak di Kabupaten Maluku Tenggara Barat sudah berjalan selama delapan (8) bulan. Ada beberapa catatan perkembangan yang terjadi dari bulan ke bulan yang ditemui oleh fasilitator selama berada di lapangan bersama masyarakat. Hal ini tentunya tidak lepas berkat dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Tenggara Barat, Dinas PU dan Tamben, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), Pemerintah Kecamatan Tanimbar Utara, Pemerintah Desa di Pulau Larat, Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) Desalinasi, Jetty Apung dan PLTS Terpusat serta dukungan dari seluruh masyarakat di Pulau Larat yang selalu berbaik hati kepada fasilitator. Adapuan proses pendampingan meliputi penguatan data dan informasi, penguatan kelembagaan dan SDM, pengembangan kemitraan dan pasar serta program inisiatif lainnya yang telah dilaksanakan.

Disamping itu, fasilitator juga melakukan pendekatan secara khusus dengan masyarakat guna mendukung pelaksanaan pendampingan. Seperti terlibat dalam acara di desa, diskusi santai dengan masyarakat yang sedang berkumpul, ataupun ikut dalam kegiatan sosial lainnya. Selanjutnya dari proses dan metode yang dilakukan fasilitator, didapatlah hasil yang menjadi tujuan dari program pendampingan. Meskipun hasilnya tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan, namun terdapat perbedaan dari sebelum pendampingan dan sesudahnya.

Proses pembuatan profil Pulau Larat sebagai penguatan data dan informasi dilakukan dengan serangkaian koordinasi dengan SKP terkait, survei institusional, wawancara, FGD, PRA, serta obervasi secara langsung untuk melihat kondisi real di lapangan. Selain output berupa profil pulau, untuk menambah khasanah data di dunia maya, fasilitator juga membuat blog dan tulisan terkait potensi Pulau Larat.

Ada tiga kelompok yang didampingi yaitu kelompok PLTS, Desalinasi dan UEP Abon Ikan. Proses pendampingan kelompok meliputi pelatihan administrasi, pelatihan keuangan sederhana dan kegiatan, fasilitasi pelatihan teknisi kelompok, fasilitasi pameran produk UEP dan pertemuan bulanan kelompok. Selain itu fasilitator juga membantu dan memfasilitasi kelompok pengelola sarana prasarana dalam hal perbaikan desalinasi dan PLTS. Masing masing anggota kelompok sudah semakin memahami tugasnya, dilihat dari kemampuan anggota kelompok mengatasi masalah jika terjadi kerusakan kecil dari perangkat desalinasi ataupun PLTS. Mereka tidak lagi saling bergantung, dan berusaha menyelesaikan semampu mereka. Disamping itu terjadi peningkatan kemampuan kelompok juga dalam hal penyusunan laporan keuangan, dan telah disusun juga masing - masing satu profil kelompok (profil kelompok PLTS dan Desalinasi) yang bisa digunakan kelompok untuk lebih mengembangkan pengelolaan sarpras. Sekarang sudah bisa dilihat bahwasanya masyarakat PPKT siap menjaga aset bantuan dari pemerintah yang menjadi milik mereka.

Untuk menambah warna di PPKT, fasilitator merintis Rumah Baca sebagai wadah anak-anak di Pulau Larat untuk menemukan jendela dunia dan menemukan potensi yang ada serta dalam menjalin tenun nusantara, dibuatkanlah jejaring anak nusantara yang diberi nama Sahabat Nusantara, program sahabat pena antara Indonesia Bagian Timur dengan Indonesia Bagian Barat.

spacer

Profil untuk Newsletter Prakarsa-KKP

WIDO CEPAKA WARIH

Fasilitator yang biasa dipanggil Wido ini adalah keturunan Jawa yang lahir dan dibesarkan di Purworejo, Jawa  Tengah. Sulung dari dua bersaudara ini berhasil menyelesaikan studinya di Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (UI) angkatan 2009.

Semasa kuliah, Wido aktif dalam kegiatan organisasi kampus mulai dari Himpunan Mahasiswa Geografi (HMG), Koperasi Mahasiswa FMIPA UI, Ikatan Mahasiswa Geografi (IMAHAGI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia. Wido juga berkesempatan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XXIV Makassar, Pertukaran Pelajar di University of Malaya, Malaysia dan menjadi perwakilan dari Universitas Indonesia dalam ajang Indonesia Japan Joint Symposium (IJJS) di Chiba University, Jepang. Wido juga pernah bekerja dalam bidang pemetaan sebagai GIS Analyst di dua perusahaan swasta.

Ketertarikan Wido dalam dunia pemberdayaan masyarakat dan pendampingan dimulai ketika saat menjadi Pengajar Muda (PM) dalam Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Saat itu Wido menjadi PM di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Selain bertugas sebagai pengajar di sekolah dasar, Wido juga menggerakkan segenap elemen masyarakat untuk terlibat dan peduli pada pendidikan. Bahwasanya pendidikan adalah tugas dari setiap insan yang terlahir, pendidikan menjadi milik bersama secara kerja bakti dari kolaborasi semua elemen.
Saat ini Wido sedang menjalani tugas sebagai Fasilitator Pulau-pulau Kecil Terluar (PPKT) Berpenduduk di Pulau Larat, Kab. Maluku Tenggara Barat. Kecintaannya pada negeri ini, berbagi dan dorongan untuk terus belajar menjadi motivasi kuat memilih untuk mendampingi masyarakat di PPKT.

Selain pendampingan sarana dan prasarana, fasilitator juga mengajak semua pihak untuk terlibat dalam mengelola sumber daya yang ada, salah satunya adalah potensi masa depan anak-anak di Pulau Larat melalui Gerakan Rumah Baca. Buku merupakan gerbang mereka untuk melihat dunia di luar sana. Sebagai inspirasi menggantungkan mimpi di sudut-sudut negeri setinggi langit menjulang. Mutiara yang akan menjadi harapan masyarakat di Pulau Larat.

Pulau Larat merupakan surga yang tersembunyi dengan sejuta makna dan potensinya. Sebagai salah satu ikhtiar bersama yang mengajak kolaborasi segenap pihak, maka muncullah inisiatif untuk membuat wahana bercerita kepada dunia melalui laman http://pesonalarat.blogspot.com. Laman ini merupakan sebuah jendela untuk membuka ruang kepedulian akan Pulau Larat. Semoga niat dan ikhtiar baik ini menjadi aksi yang terus positif dengan keterlibatan lebih luas.

Menjadi seorang Fasilitator bukan hanya bercerita mengenai bagaimana serunya mengarungi Laut Arafura dengan perahu ketinting, berceloteh riang bersama nelayan, atau menemani seorang nelayan rumput laut ketika sedang memerika long line budidaya, ataupun berbagi keceriaan bersama anak-anak negeri ketika senja menjelang di sebuah dermaga kecil desa di ujung timur pulau, tetapi sebuah proses pembelajaran tiada henti bersama kearifan masyarakat.

Dari masyarakat di Pulau Larat, kita bisa belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal, belajar kearifan lokal dan budaya mereka, belajar untuk tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar serta belajar memaknai setiap kebahagiaan.


spacer

Merah Putih Berkibar di Pulau Terluar Indonesia


Ini cerita mengenai keseruan kegiatan Aksi Tepian Negeri di Pulau Larat. Langit kala itu menjadi saksi berkumandangnya Indonesia Raya dengan lantang dan berkibarnya Sang Saka Merah Putih dengan gagah disertai semangat kolaborasi masyarakat di desa Lamdesar Barat. Berikut cuplikan singkatnya:


Upacara Bendera 71 Tahun Indonesia Merdeka

Pukul 08.30 WIT masyarakat sudah mulai bersiap-siap menuju ke lapangan upacara bendera peringatan 71 tahun Indonesia Merdeka. Upacara kali ini diadakan di lapangan desa (depan lokasi pembangunan balai desa Lamdesar Barat). Masyarakat akan menjadi peserta upacara yang terbagi ke dalam tiap rukun tetangga (RT). Pemerintah desa pun telah berkumpul di salah satu rumah milik kepala urusan pemerintahan desa untuk dikawal pasukan Paskibraka menuju lapangan upcara.

Pukul 09.00 WIT masyarakat dan siswa-siswi SD Kristen Lamdesar Barat dan SMP Satu Atap Lamdesar Barat sudah bersiap di lapangan upacara. Pemerintah desa mulai bergerak menuju lapangan upacara dikawal oleh pasukan Paskibraka. Upacara dimulai dengan cukup khidmat dan tenang walaupun cuaca di lapangan cukup terik panas. Pembacaan teks proklamasi dibacakan oleh ketua pemuda desa dengan lantang dan semangat laiknya Sang Proklamator kita, Soekarno. Tiba saatnya pengibaran bendera yang sudah ditunggu-tunggu oleh peserta upacara, pasukan Paskibraka mulai bergerak memasuki lapangan upacara dengan penuh semangat. Pasukan berhenti di depan tenda peserta pemerintah desa untuk menerima bendera yang akan dikibarkan pada upacara tersebut. Salah satu pasukan menerima bendera dari kepala desa Lamdesar Barat dengan penuh takzim dan penghayatan. Pengibaran sang saka Merah Putih berlangsung dengan penuh syahdu dan haru diiringi nyanyian Indonesia Raya dari peserta upacara, Indonesia Raya mengumandang dengan lantang di langit pulau terluar Indonesia bersamaan dengan berkibarnya Sang Saka Merah Putih dengan gagah.
Setelah upacara selesai, peserta upacara bersalaman satu sama lain, mengungkapkan rasa terima kasih atas apresiasi ikut menjadi bagian dari sejarah memeriahkan upacara kemerdekaan di pulau terluar.
Sebelum beranjak ke kegiatan perayaan selanjutnya, peserta uoacara istirahat sejenak menikmati kue buatan dari perempuan di desa Lamdesar Barat. Malam sebelum tanggal 17 Agustus 2016, perempuan-perempuan di desa Lamdesar Barat dengan giat dan tanpa mengenal lelah mempersiapkan kue-kue tradisional untuk menjadi hidangan setelah selesai upacara bendera.


Masyarakat mulai berkumpul di dekat tenda dan di bawah pohon rindang, sembari menyaksikan dan memberikan dorongan semangat kepada peserta baris berbaris dengan kreasi dari tiap rukun tetangga (RT). Peserta baris berbaris memakai baju khas dan unik dari tiap RT masing-masing, seperti anak-anak yang menggunakan baju dari tokoh salah satu sinetron, ada pasukan yang menggunakan baju putih, baju Pramuka, dan baju sekolah SMP. Setiap peserta baris-berbaris akan melewati rute keliling desa dan kembali lagi ke alapangan upacara. Setiap peserta baris-berbaris yang kembali ke lapangan upacara mendapatkan sambutan yang meriah dari masyarakat. Ada saah satu kelompok peserta baris berbaris di mana ketika memasuki lapangan upacara membuat suatu gerakan khusus saat aba-aba buka barisan, peserta langsung berjoget dengan khas dan sangat lucu sehingga membuat masyarakat yang menyaksikan tertawa, bahkan ada yang ikut berjoget.


Kegiatan penutup perayaan upacara bendera hari ini ditutup dengan perlombaan senam dari tiap-tiap RT di bawah pohon rindang. Salah satunya adalah senam Lambe-lambe yang khas dari Maluku. Masyakarat juga ikut senam bersama dengan pemerintah desa. Masyarakat menikmati dan menghayati setiap rangkaian peringatan upacara bendera 71 tahun Indonesia Merdeka. Suatu bentuk rasa syukur, masih diberi kesempatan hingga saat ini untuk menikmati dan mengisi peringatan kemerdekaan Indonesia dengan kerja nyata dan kolaborasi positif. Sesungguhnya istilah “keren” itu ketika kita bekerja bersama untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bersama.



Rumah Baca Desa Lamdesar Barat, Pulau Larat

Kegiatan rumah baca dimulai pada siang hari tanggal 17 Agustus 2016. Fasilitator Parakarsa bersama dengan anak-anak membuka buku dari kardus yang dibawa dari Jakarta. Awalnya baru beberapa anak saja yang ikut berkumpul di rumah baca, lama kelamaan anak-anak yang lain mulai berdatangan ke rumah baca karena penasaran dengan keseruan yang kami buat.


Ketika buku-buku sudah dikeluarkan dari kardus, mereka langsung menyerbu dan memilih buku-buku untuk diihat dan dibacanya. Ada total 128 buku untuk rumah baca ini. Sering terdengan keceriaan dan tawa dari beberapa anak yang sedang membaca buku. Beberapa anak cukup tertarik dengan salah satu buku, yaitu buku profil Oulau larat yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka langsung megetahui kalau itu pulau tempat mereka tinggal. Mereka tertawa saat melihat foto-foto di dalamnya, komentar dan diskusi kecil pun terjadi di anatara mereka mengenai isi buku profil Pulau Larat tersebut. Keyika dihadapkan pada peta Pulau Larat di buku tersebut, mereka juga mengetahui posisi dan lokasi desa Lamdesar Barat dalam pulau tersebut. Mereka menulusuri rute-rute perjalanan ketika mereka akan keluar dari desa Lamdesar Barat menuju kota Larat (sebutan untuk pusat Pulau Larat). Imajinasi mereka terbang dibawa dengan foto dan cerita dari buku tersebut.


Rumah baca tidak hanya anak-anak saja yang ikut berkunjung, tetapi juga pemdua dan seorang ibu yang ingin ikut membaca, begitu juga dengan ketua BPD Lamdesar Barat pun tidak mau ketinggalan dengan keseruan rumah baca. Beliau langsung mengambil buku pelajaran SD sambal nostalgia ketika dahulu beliau menjadi seorang pendidik dan kepala sekolah di SD Kristen Lamdesar Barat.


Fasilitator memberikan penjelasan kepada anak-anak mengenai sebuah buku dan isi di dalamnya, seperti ensiklopedi mini. Untuk menarik anaka-anak, fasiitator juga bercerita dan berdongeng kepada anak-anak. Ternjadi tanya jawab ketika kami sedang berinteraksi. Sebagian anak-anak, fasilitator berikan penjelasan dan pelatihan singkat sederhana mengenai pembuatan katalog buku secara sederhana yang terdiri atas judul buku, pengarang dan penerbit, Harapannya mereka juga ikut peduli dan menjaga buku-buku tersebut. Di kesempatan itu juga, fasilitator bercerita mengenai laut dan isinya dengan membawa sebuah buku. Anak-anak cukup antusias dan tertarik aplagi ketika mereka langsung menanggapi hewan-hewan yang ada di laut dan bercerita kondisi laut di sekitar desa serta bagaimana cara menjaga laut dengan sederhana seperti tidak membuang sampah di laut.



Pemutaran Film Anak-anak

Pemutaran film dilaksanakan padi hari Kamis tanggal 18 Agustus 2016 dimulai sekitar pukul 11.00 WIT sampai kira-kira pukul 15.00 WIT bertempat di lokasi rumah baca (rumah salah satu masyarakat). Penonton berasal dari anak-anak sekolah yang biasa datang ke rumah baca untuk membaca buku.

Film yang ditonton sebanyak lima (5) judul film dan satu (1) senam, lebih detailnya sebagai sebagai berikut:

  1. Kawan di Rawa Biru - Pustaka Anak Nusantara (mengisahkan mengenai adat sasi, kehidupan masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan kekayaan hasil laut melaui cerita dan kisah anak-anak di Merauke, Papua)
  2. Sahabat Lautku - Pustaka Anak Nusantara (film anak-anak ini mengambil setting lokasi di Manado Tua, Sulawesi Utara. Kisah tentang Kristie dan teman-temannya ketika bermain menyelam di laut Bunaken dan bercerita mengenai binatang-binatang bawah laut di sana, cerita mengenai bagaimana membakar ikan yang diperoleh dari laut dengan sederhana)
  3. Telur-telur Penyuku - Pustaka Anak Nusantara (tentang kehidupan penyu di desa Saubebah, Sorong, Papua Barat)
  4. Kutahu Dunia Air (kehidupan biota laut)
  5. Denias (Senandung di Atas Awan) - kisah anak untuk bersekolah
  6. Senam Penguin (senam seperti tarian penguin)

Proses pemutaran film berlangsung dengan lancar dan cukup seru. Anak-anak banyak bertanya mengenai film yang ditontonnya. Ketika ada salah satu segmen yang memutar tentang kehidupan bawah laut, sontak mereka mengambil buku profil Pulau Larat yang di dalamnya ada gambar-gambar mengenai biota laut, kemudian mereka mencoba untuk mencocokkan gambar tersebut dengan film yang mereka tonton.

Pemutaran film diselingi dengan pemutaran senam Penguin, tanpa dikomando anak-anak langsung menirukan gerakan senam penguin dengan diberikan arahan dari fasiitator. Sangat lucu dan membuat kami tertawa bersama di siang yang cukup panas saat itu. Tertawa bersama, bercanda bersama menjadi hal sederhana yang kami lakukan. Setelah selesai pemutaran film, fasilitator memberikan review mengenai film yang sudah diputar tersebut dan memberikan beberapa pertanyaan kepada anak-anak, alhamdulillah mereka dapat menjawab dengan lancar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh fasilitator. Kegiatan pemutaran film ini berlangsung dengan sangat sederhana tetapi mengandung makna dan arti yang sangat dalam untuk anak-anak di desa Lamdesar Barat dalam mengenali dan menjaga lingkuangan laut di sekitar mereka tinggal. 

Mini Kelas Inspirasi

Kegiatan mini kelas inspirasi diadakan setelah upacara bendera dan pada saat pemutaran film di rumah baca. Fasilitator mengajak anak-anak untuk bermain bersama dan belajar bersama. Berkumpul dengan mendengarkan cerita dan dongeng dari fasilitator mengenai kehidupan di laut, biota laut, menjaga laut dan asyiknya bermain bersama di laut. Laut sebagai bagian dan sumber kehidupan kita. Menjadi bagian dari cerita perjalanan anak-anak di sini kelak. Pemaparan dilanjutkan pada saat kegiatan pemutara film karena waktunya sangat cocok untuk menjelaskan berkaitan dengan film mengenai kehidupan laut seperti kisah anak-anak di Papua, kisah penyu dan cerita anak-anak saat menyelam di Sulawesi Utara.


Terjadi umpan balik yang cukup positif saat kegiatan ini berlangsung. Anak-anak cukup antusias mendengarkan cerita dari fasilitator. Selain itu, fasilitator juga mengajarkan mengenai senam penguin pada tahap awal. Senam ini sangat menarik dan lucu untuk menarik perhatian dan antusiasme anak-anak. Fasilitator juga memberikan pembelajar dan pelatihan singkat mengenai pembuatan katalog buku untuk rumah baca mereka, harapannya agar anak-anak terlibat dari awal dan diberikan apresiasi untuk menjaga keberlangsungan rumah baca.


Kegiatan kelas inspirasi ini berlangsung sederhana (mini kelas inspirasi) dalam jumlah yang kecil tapi meaningful (berarti). Semoga kegiatan selanjutnya menjangkau lebih banyak lagi anak-anak yang mengikuti. Kegiatan ini dipadukan dengan permainan-permainan sederhana dan ice breaking agar menjadi lebih semangat dan gembira.


ATN 2016

Satu Aksi untuk Tepian Negeri
spacer

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat


Nelayan di Pulau Larat

Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, dan relasi sosial. Dengan itu mereka bisa bertahan dan berkembang meniti kehidupan, dengan rumput laut, ikan, kacang tanah hingga kain tenun.

Wido Cepaka Warih, fasilitator Prakarsa KKP menuliskan dan mengirimkan temuan-temuannya selama berada di pulau yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia itu. Ragam foto dan narasi ini serupa tawaran untuk meraba urat nadi kehidupan di Pulau Larat versi fasilitator PPKT. 

Simak yuuuk!

***
Masyarakat Larat dan rumput lautnya
Masyarakat Larat dan rumput lautnya

Semenjak rumput laut mulai tertebas harganya, sebagian masyarakat di Pulau Larat memilih meninggalkan budidaya rumput laut. Beragam persoalan menjadi batu ganjalan bagi pembudidaya. Selain harga yang tak stabil mereka juga diserang penyakit. “Rumput laut kami terkena penyakit ice-ice, sekitar tahun 2014. Semenjak itu harga turun terus,” ungkap Ibu Maya sembari menunjukkan bekas lahan budidaya metode longline rumput laut di Desa Ritabel.

“Sekitar tahun 2012-an harga agar-agar (rumput laut) kering setiap kilogram mencapai Rp 15.000. Kalau sekarang hanya laku Rp 4.000-5.000,” kata Om Kui, seorang petani rumput laut di desa Lamdesar Timur, Pulau Larat.

“Ketika rumput laut berjaya, jalanan setapak depan rumah-rumah itu tertutup sama jemuran agar-agar. Masyarakat bisa menyekolahkan anaknya sampai lanjut kuliah, usaha dagang, buka warung, bangun rumah, banyak lagi pokoknya,” sambung ibu Maya.

Hingga Juni 2016, pemerintah daerah tak tutup mata melihat persoalan rumput laut. Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, berbagai bantuan seperti bibit rumput laut maupun pelatihan pengolahan budidaya dan hasil rumput laut tak lepas dari agenda rutin dinas terkait. Tujuannya demi kemandirian masyarakat Larat dalam mengelola sumber daya yang ada.

Pasar ikan di Larat
Pasar ikan di Larat

Selain gambaran status rumput laut dan dinamikanya saat ini di Larat, gambaran tentang potensi perikanan juga penting untuk diceritakan. Informasi awal tentang ini saya temukan saat bertemu dengan dua orang nelayan di Pulau Lelingluan yang sedang memanggul ikan bubara dan sakuda.
“Ayo mas, satu ikat Rp 35.000 saja ini, ikan masih segar baru nyampe subuh tadi,” salah satu penjual menawarkan ikan bawaanya
“Mama, ini ikan apa?”, tanya fasilitator DFW (Destructive Fishing Watch) yang sedang bertugas di sini, ikan yang berbeda.”Ikan samandar, harga seikat Rp 35.000, enak dan empuk dagingnya,” ujarnya. Transaksi pun terjadi, ternyata satu ikat isinya ada 15 ekor ikan samandar sebesar telapak tangan orang dewasa. Untuk jenis ikan sakuda maupun kakap seukuran pergelangan tangan orang dewasa kita bisa membelinya seharga Rp 50.000-60.000, apalagi ketika anda lihai menawar dibumbui dengan obrolan hangat akan mendapatkan harga yang lebih murah.

Menurut Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang dilansir dari data Dinas Kelautan dan Perikanan, di tahun 2013 produksi perikanan di Tanimbar Utara (Pulau Larat) sebesar 1.382 ton dan mengalami penurunan sebanyak 1.207 ton di tahun 2014. Untuk melihat potensi perikanan ini kita perlu melihat angka armada dan alat tangkap yang dipergunakan oleh nelayan Pulau Larat.

Jumlah perahu/motor tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan Pulau Larat adalah perahu jukung sejumlah 190 dikuti perahu kecil 168, perahu besar 33, motor tempel 139, dan kapal motor 26. Armada tersebut beberapa bersumber dari bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Masyarakat di Pulau Larat sebagian besar menggunakan pancong, sero, dan jaring insang untuk menangkap ikan dalam kesehariannya. Belum tersedianya cold storage di Pulau Larat juga berpengaruh terhadap nilai tambah perikanan tangkap. Selama ini, nelayan memanfaatkan es produksi rumahan, itupun hanya bertahan beberapa hari saja.

Suasana di dermaga, tempat nelayan sering mendaratkan hasil tangkapan
Suasana di dermaga, tempat nelayan sering mendaratkan hasil tangkapan

Buce, Ketua Kelompok Nelayan Barrakuda, ketika ditemui di rumahnya juga mengatakan hal yang sama. “Kami kalau melaut jauh-jauh tidak sebanding antara BBM, es dengan jumlah tangkapan. Di sini belum ada pabrik es atau penyimpanan ikan, ini yang kami harapkan dari pemerintah baik pusat mapupun daerah, agar nantinya perikanan di Pulau Larat ini bisa maju dengan dukungan sarana dan prasarana yang ada,” katanya.

Potret dalam Kacang Botol

Selain menyimpan potensi perikanan, Larat dikenal dengan potensi pertaniannya, seperti kasbi (singkong), umbi-umbian lain, pateka (semangka), jagung, dan kacang tanah. Saat menjumpai masyarakat di salah satu desa Pulau Larat yaitu Desa Lamdesar Barat, kita akan melihat potret aktivitas masyarakat sedang menjemur dan mengupas kacang tanah di selasar rumah.

Dengan jarak 50 km ke pusat Larat, masyarakat Lamdesar Barat biasa menjual kacang tanah yang telah dikelupas dengan harga Rp 20.000-25.000 per kg. Tumpukan karung kacang tanah seakan menjadi saksi jerih payah selama bekerja berladang. Dalam satu karung besar terdapat 30-40 kilogram kacang tanah masih dengan kulitnya. Untuk menghasilkan satu karung kacag tanah bersih (sudah dikelupas kulitnya), mereka harus mengelupas 3-4 karung kacang tanah.

Kacang botol khas Larat
Kacang botol khas Larat

Lebih serunya lagi, setelah pulang sekolah atau di waktu senggang, anak-anak di Lamdesar Barat tidak mau ketinggalan berbagi keceriaan dengan mengelupas kulit kacang tanah. Terkadang memang, tangan mereka lebih cepat dari tangan orang dewasa mengupas kulit kacang. Akan nampak senyum bahagia dan gigi putihnya ketika mereka diberi uang jajan Rp 30.000 per karung kacang tanah bersih seusai ikut mengupas. Semakin banyak karung dengan isi 30 kg per karung, maka akan semakin lebar senyum mereka, artinya akan mempunyai tabungan untuk membeli keperluan sekolah.

“Kalau untuk kacang botol, yang ditaruh di botol seukuran air mineral harganya Rp 15.000, sedangkan botol kaca bisa Rp 25.000-30.000,” ujar Bapak Pice yang juga mempunyai ladang kacang tanah.
“Kalau sekarang sudah mulai enak, sekitar dua bulan lalu, karena ada truk yang masuk ke sini, jadi gampang jual kacang ke pusat Larat, kalau tempo lalu, ketika akan menjual dalam jumlah banyak, kami harus pakai perahu ketinting dan ongkosnya lebih mahal,” sambung Pice saat sedang menjemur kacang tanah depan rumahnya.

Angin segar harapan berhembus ke Larat. Jalan trans Larat sudah mulai dikerjakan tahun ini. Beberapa tahun lagi semua desa akan merasakan lancarnya akses dan distribusi hasil panen, sehingga harapan mereka dapat meningkatkan roda perekonomian selama ini semakin cerah.

Tenun dari Bumi Lelemuku
Bukan hanya rumput laut, ikan, dan kacang tanah. Di Larat terdapat anggrek endemik namanya lelemuku. Ini dapat pula dikembangkan terutama bagi pencinta bunga.

Pemandangan matahari terbenam di Larat
Pemandangan matahari terbenam di Larat

Selain itu, kurang lengkap rasanya kalau berkunjug ke Pulau Larat jika tak membawa oleh-oleh berupa kain tenun yang dibuat dengan tangan langsung (hand made) oleh masyarakat Larat. Hampir semua perempuan di desa bisa membuat tenunan, baik dalam bentuk scarf maupun syal.

Untuk selembar syal, mereka bisa menjual dengan harga Rp 150.000. “Satu syal bisa dua sampai tiga hari buatnya, tergantung kesibukan, kalau mau dikasi nama orang juga bisa di syalnya, atau memilih warna kombinasi benang dan corak syal,” terang Mama Desa Lamdesar Barat. Belajar dari kesabaran memintal benang-benang halus dan ragam corak warna, membuat kita akan jatuh cinta pada kearifan masyarakat di Larat.

Dari masyarakat di Pulau Larat, kita bisa belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal, belajar kearifan lokal dan budaya mereka, belajar untuk tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar.


Artikel ini dimuat di:
spacer

#24 Lingkaran Positif di Bumi Duan Lolat (Sebuah Kolaborasi dengan Penyuluh Perikanan)

Kantor PSKPT Saumlaki, MTB

Pagi ini di negeri Duan Lolat (sebutan untuk Kabupaten Maluku Tenggara Barat) cuaca nampak cerah dan bersemangat. Ku jelang sinar mentari pagi dengan mencuci setumpuk pakaian kotor. Mungkin pernah ada yang bertanya seperti halnya kejadian serupa saat aku mencuci motor di masa yang lalu, "buat apa dicuci toh nanti kotor lagi". Aku hanya tersenyum menanggapi gurauannya.Jalanan di depan sekretariat nampak sepi tidak seperti biasa, aku baru teringat kalau hari ini kantor yang berjajar seri di sepanjang jalan yang memuat nama proklamator republik ini libur. Hanya terlihat beberapa pemuda yang berlari kecil, seorang ayah yang memboncengkan sang putri di motor keluaran Jepang menuju ke suatu lokasi yang sudah disepakati, maupun Pak Panus dan Pak Maikel (keluarga baru di sekretariat PSKPT Saumlaki) tengah menyeka peluhnya sembari memperbaiki papan nama sekretariat.Satu persatu terdengar deru roda besi mulai berdatangan dan parkir di depan garasi mobil. Sambil tersenyum dan tertawa renyah mereka menyapa kami. Nampak benar semangat mereka pagi menjelang siang ini. Kiranya mereka penasaran diundang secara khusus oleh sekretariat PSKPT Saumlaki. Ada apakah gerangan? Terbesit tanda tanya di benak mereka.

Ya, mereka adalah orang keren yang menjemput kehormatannya menjadi Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) untuk mendampingi masyarakat di Tanimbar. Pak Nas (Field Manager) menyilakan mereka untuk masuk ke ruang tamu agar lebih santai dan akrab perbincangannya. Sambil menunggu kedatangan yang lain, aku, Mele, dan Pak Nas ngobrol ringan terkait beberapa isu mengenai kelautan terkini. Pak Nas menyampaikan kepada para penyuluh maksud dan tujuan mengundang mereka semua kemari. Pak Nas ingin mengajak kolaborasi untuk membuahkan aksi nyata. Dimulai dari pemaparan mengenai apa itu PSKPT, dilanjutkan dengan penyampaian tujuan dan mendengar sharing dari teman-teman Penyuluh. Maluku Tenggara Barat merupakan salah satu kabupaten yang menjadi lokasi Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu. Bahkan di tahun ini, Ibu Susi (Menteri KKP) menginginkan adanya ekspor perdana dari beberapa lokasi PSKPT. Sebagian dari penyuluh sudah pernah mendengar mengenai PSKPT karena sebelumnya kami pernah sharing pada waktu workshop diversifikasi hasil olahan perikanan tempo hari.

Basilur Arbol salah satu penyuluh yang ditugaskan di kec. Tanimbar Utara menyampaikan bahwa di tahun ini target untuk pembentukan koperasi nelayan seluruh Indonesia kurang lebih 600 koperasi. Ini yang dia dapatkan ketika mengikuti kegiatan di Ambon tempo lalu. Ada beberapa keluhan yang masuk mengenai status KTP nelayan. Slamet mengiyakan agak kesulitan mendapatkan nelayan yang mempunyai KTP dengan status nelayan, ada yang petani malahan. "Teman-teman nanti bisa dilihat kondisi di lapangan seperti apa, apakah pendapatan orang itu lebih banyak di laut atau di darat? Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk di laut maupun di darat? Agar data benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan", sambung Pak Nas. Daud yang saat ini bertugas di kec. Wuarlebobar menambahkan bahwa di pesisir timur Tanimbar ini, paling banyak ditemukan nelayan sambilan, artinya mereka akan melaut ketika mulai masuk musim barat. Begitu juga dengan keberadaan perahu-perahu nelayan yang ada. "Untuk tahun ini, Maluku Tenggara Barat mendapatkan kuota kartu nelayan sebanyak 3000", tambah Erlina yang saat ini beroperasi di Tanimbar Selatan.Aku sedikit menambahkan, kita nanti bisa buat bersama-sama kalender musim dari tiap kecamatan, agar bisa tahu lebih detail kegiatan masyarakat di sana. Kalender musim ini nanti juga berguna untuk analisa selanjutnya. Sebagai moderator, Basilus Arbor mencatat beberap poin penting terkait hasil sharing tadi. Basilus menyampaikan untuk pembentukan koperasi yang perlu diingat adalah penguatan kapasitas kelompok terlebih dahulu. Jangan dipaksakan, kita lihat perkembangan dan menjalani setiap proses yang ada. Hal ini diamini oleh penyuluh yang lain. Untuk penyuluh juga sudah ada wadah agar bisa menuliskan setiap perjalanan dan isu yang didapat dari lapangan.

Menulis bukan lagi menjadi hal berat, tetapi sudah menjadi kebutuhan kita untuk memberitahuan kepada khalayak ramai mengenai apa yang terjadi. Menulis juga sebagai jejak memori yang akan diingat selalu ketika nanti dibutuhkan. Mele salah satu fasilitator yang bertugas di Pulau Selaru juga menambahkan bahwa kita harus cukup cerdik untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, salah satunya bisa bekerja sama dengan RRI Pro 1 Saumlaki. Aku dan Mele sebelumnya pernah berbincang hanya dengan Pak Jei dari RRI mengenai kesempatan kami untuk sewaktu-waktu siaran di sana. Beliau pun cukup antusias bahkan mempersilahkan.

Gayung pun bersambut, kami juga mengajak teman-teman penyuluh untuk berkolaborasi menceritakan kekerenan masyarakat di Tanimbar. Tak terasa matahari sudah sepenggalah tingginya. Dan yang kebih konyol lagi kita lupa memperkenalkan diri lebih dalam di awal tadi. Tapi tak apalah, kami cukup bisa seketika cair layaknya sobat lama. Akhirnya aku, Mele dan Pak Nas bisa mengenal Obeth, Basilus, Felix, Erlina, Slamet, Apolos dan Daud. Di akhir sesi perkenalan disertai guyonan ringan, Basilus membacakan beberapa kesimpulan termasuk pertemuan rutin yang akan diadakan tiap awal bulan. Sekretariat PSKPT akan selalu menjad tempat dan saksi kolaborasi positif. Sungguh bahagia di tanah rantau ini, aku bertemu dengan orang orang keren yang idealis membangun negeri. Kami dipertemukan dalam lingkaran positif yang akan terus menularkan virus positif ini ke orang lain. Semoga niat baik akan diwujudkan dalam kolaborasi aksi positif selalu mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami siap mendampingi tangan-tangan optimis masyarakat Tanimbar. Kalwedo ! 

Saumlaki, 16 April 2016
spacer

Surga Tersembunyi di Pulau Larat


Lelaki tua itu sedang sibuk membersihkan mesin ketinting yang baru saja diambilnya di gudang rumah. Tampak cekatan tangan terampilnya, membongkar mesin yang sudah mempunyai banyak kenangan berharga semasa rumput laut mengalami kejayaannya. Kendati demikian, lelaki yang sudah mencintai laut, tidak demikian seperti kata orang-orang. Dalam kondisi apapun, akan selalu bersama dengan lautan yang lama telah diarunginya.

Aku dipanggilnya untuk ikut serta melihat dan mengecek lahan budidaya rumput laut miliknya. Sudah beberapa hari ini angin mulai kencang kembali. Mungkin banyak beberapa rumput laut yang jatuh dari talinya, sehingga perlu diikat kembali. .
Dari kesederhanaan dan kecintaan beliau pada laut, aku belajar banyak hal. Belajar bagaimana untuk selalu menghargai proses dan berjalan terus dalam kondisi musim apapun yang menerpa. Meminjam istilah dari sesorang yang saya kagumi, "Tabah sampai akhir !"


Pikat Pantai di Pulau Larat

Ada yang bilang kalau pantai adalah muara dari segala kepenatan dan ruang untuk melepas semua keluh kesah dan itu menjadikannya semua kebahagiaan. Bermain dengan pasir putih dan birunya laut, membuat aku seakan lupa akan segala badai yang menerjang.

Pulau Larat ternyata menyimpan banyak lokasi tersembunyi yang belum diketahui banyak orang. Cocok buat Anda yang suka lokasi wisata yang menantang dan masih alami. Ada deretan garis pantai yang siap memanjakan Anda semua.



Salah satunya adalah nuansa pasir putih dan bersihnya Pantai Keliobar. Pantai ini terletak di pesisir utara pulau Larat tepatnya di sebelah barat desa Keliobar. Anda akan disuguhkan dengan romantika nuansa dan harmonisasi antara langit dan laut yang berpadu dalam birunya. Berteduh di bawah pohon kelapa yang rindang, siap dipetik kelapa hijau ketika haus. Nikmat bukan?


Cerita mengenai lelaki tua dan pantai Keliobar hanya bagian kecil dari surga yang tersembunyi di Pulau Larat. Masih banyak lagi yang nantinya akan kita lihat dan rasakan bersama, seperti wisata mangrove di pesisir desa Kelaan dan Lamdesar Barat, snorkling ditemani bintang laut dan ikan yang lucu, memanah ikan, melihat proses pembuatan kain tenun Tanimbar, keceriaan anak-anak di Pulau Larat, mencicipi ikan segar dan sejuta cerita :).


spacer

Rumah Baca Pulau Larat dalam Newsletter DFW Indonesia

Akhirnya secuil energi positif dari rumah baca Pulau Larat dapat disebarkan secara luas melalui newsletter DFW Indonesia dalam edisi Aksi Tepian Negeri 2016. Newsletter tersebut menjadi slah satu di menu stand DFW dalam kegiatan Festival Philanthropy Indonesia. Stand ATN sempat dikunjungi oleh Mensos dan Bapak Andy F. Noya.
Dunia PPKT memang memiliki kearifan dan keunikan sendiri. Karenanya, keunikan tersebut harus disebarluaskan karena kita bagian dari Indonesia.
spacer

Melebihkan Usaha

Terkadang ada kalanya di mana mengeluh menjadi santapan yang mengenyangkan sekaligus pembenaran atas sebuah realita. Menjadi pencarian alasan demi alasan untuk menutupi segala pembelaan diri. Selayaknya manusia yang memberikan segala cipta daya untuk menarik atas keluhan yang diciptakannya.
Boleh saja, hanya jika energi negatif terus tersebar menjadikan pemikiran menjadi tidak sehat. Sudah saatnya berhenti untuk mengeluh atas segala permasalahan yang dan akan dihadapi. Menghadapi masalah memang harus urun dan terjun di dalamnya, bukan menghindari sedikit demi sedikit karena itu akan menjadikannya sebuah tumpukan kumulatif.
Melebihkan usaha atas setiap pemecahan solusi dari permasalahan akan menjadikannya ringan. Memang berat ketika dipikirkan sendiri, sangat berat ketika mencari solusi sendiri. Karenanya, perlu adanya sebuah kolaborasi, kerja "bareng", gandeng tangan atas segala tantangan yang ada. Bukankah lebih ringan ketika kita " memanggul" beban yang berat secara bersamaan, lihatlah bagaimana kuatnya rantai ketika bergandenganndengan erat.
Senyum positif akan memberikan energi positif di sekitarnya. Mari sebarkan energi  positif itu ke lingkungan terdekat kita. Berpikir positif membuat hidup lebih bahagia, bahwasanya kebahagiaan bukan dicari tetapi diciptakaan apalagi bersama-sama. Yuk gandeng tangan :)


spacer

Makan Malam di KRI Banda Aceh

Bagi saya bertugas di Pulau Terluar adalah sebuah anugerah dan pelabuhan menjadikannya rindu. .

Di suatu sore yang cerah, KRI 593 Banda Aceh merapat ke Pelabuhan Saumlaki. Bergegaslah saya menuju pelabuhan melihat kapal sepanjang 125 m merapat. .

Kebetulan komandan KRI, Letkol Edi sedang ada di luar kapal sembari memegang HT untuk mengoordinasi anggotanya. Dengan niat ingin masuk KRI, saya perkenalkan diri dan tugas saya selama di sini. Beliau sangat ramah dan menyambut baik untuk masuk ke dalam KRI.

Sampai di KRI, beliau mengajak makan malam bersama sembari tukar cerita dengan kami terkait misi kali ini. Beliau juga meminta pandangan mengenai kondisi di pulau. .

Setelah makan malam yang istimewa, kami diizinkan melihat isi KRI. Naiklah sampai ke beberapa penjuru dan berceloteh riang dengan para perwira di dek Heli. Malam ini bahkan ditawari untuk menginap di KRI karena Jumat akan bertolak ke Keimana.

Selamat bertugas kembali KRI 593 Banda Aceh
Jalesveva Jayamahe !

spacer

Selamat pagi, Bu :)

Selamat pagi, Bu :)
Di perjalanan menuju pasar ikan Larat. Awalnya aku tidak menoleh ketika ada yang memanggil dengan ucapan tersebut. Aku kira ada orang lain yang dipanggil. Aku pastikan kembali ternyata hanya aku seorang yang dipanggil.
"Iya, Bu, selamat pagi, Bu mo pi mana? (mau pergi ke mana), kata orang yang memanggilku. " Bu? (sambil menunjuk aku sendiri), jawabku. "Iya, Bu itu kepanjangannya dari Bung". 
Owh begitu, selamat pagi juga, Bu, bet mo pi pasar ikan dulu, mo beli ikang (ikan) dolo.
Selamat !
***
*bet (beta): saya
pi: pergi
Bu: bung
selamat: diucapkan ketika akan berpisah atau bepergian
#catatanmaluku #tanimbar #pulaularat


















spacer

Video "Potret Rumah Baca Pulau Larat"



Dipublikasikan tanggal 31 Agt 2016
Rumah baca ini berada di desa Lamdesar Barat, Pulau Larat, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, merupakan salah satu bentuk kegiatan Aksi Tepian Negeri (ATN) 2016 yang diprakarsai oleh Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Rumah baca Pulau Larat dirintis oleh Fasilitator Program Prakarsa 2016 (Wido Cepaka Warih).



Walaupun tinggal di pulau-pulau terluar, mereka (anak-anak) mempunyai semangat yang tinggi dalam membaca. Terlihat antusiasme ketika mereka bermain dan belajar di rumah baca. Buku adalah teman dan sahabat terbaik bagi mereka. Buku jendela untuk melihat dunia luar dan merangsang imajinasi serta mimpi-mimpi. Mari ikut bersama-saam untuk merawat mimpi anak-anak di sudut negeri!

***
.

Keceriaan sore hari saat di rumah baca. Terdengar gelak tawa dan bahagia ketika mereka melihat kata yang terangkai indah dalam susunan padu sebuah cerita anak. Mimpi anak di ujung timur Arafuru. Mari merawat mimpi pemimpin masa depan.

***
Buku ini sangat berarti buat kami. Jendela masa depan, mengantarkan ke dalam alam mimpi dan imaji. Terima kasih atas buku yang menginspirasi kami semua.



***
Bahagia itu sesederhana melihat mereka antusias membaca buku yang kami bawa. Bahagia itu melihat mereka saling berbagi atas apa yang mereka baca. Bahagia itu sesederhana menemani mereka di rintisan rumah baca hingga senja menjelang. Iya, ini tentang mereka. Anak-anak di timur Arafura.



***
Bahkan ada yang sampai lupa pakai baju setelah pulang sekolah langsung datang untuk membaca buku. Buku yang menarik perhatiannya ternyata buku kumpulan lagu-lagu wajib dan nasional. Terdengar lirih senandung Indonesia Raya dan Halo-Halo Bandung dari sang maestro kecil. Inilah potret anak Indonesia di Pulau Larat, Kab. Maluku Tenggara Barat.

spacer

Profil KMP Desalinasi Tavarsina, Pulau Larat






Desalinasi air laut Tavarsina merupakan bantuan yang diberikan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil dibawah naungan Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dengan sumber dana dari APBN tahun anggaran 2014. Pembentukan kelompok pengelola desalinasi Desa Ritabel, Pulau Larat  dibentuk pada tahun 2014. 

Jumlah pengurus kelompok  pengelola  sebanyak  5  orang  yang  terdiri atas  ketua,  sekretaris, bendahara,  teknisi dan operator dengan pembina dari Kepala Desa Ritabel. Kelompok  Masyarakat Pengelola  (KMP)  Desalinasi Tavarsina  Desa  Ritabel, Pulau Larat telah  mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari fasilitator Detructive  Fishing  Watch  (DFW)  Indonesia.  Pendampingan kelompok meliputi: pendampingan penguatan kapasitas  SDM KMP ,  pelaksanaan  pelatihan teknis dan manajemen, penguatan kelembagaan KMP serta pengembangan program inisiatif.  Diharapkan dengan adanya program pendampingan ini, masyarakat  menjadi  mandiri  dan  mengembangkan  aset  yang  telah  diberikan  oleh  pemerintah.

Tugas dari pengurus kelompok di antaranya mengelola dan memelihara desalinasi di Desa Ritabel, meningkatkan kesejahteraan anggota/pengurus kelompok melalui kegiatan desalinasi dan menguatkan kerjasama melalui kelompok. Kegiatan utama kelompok dalam bidang usaha adalah memproduksi air tawar dalam bentuk kemasan galon yang selanjutnya dijual kepada masyarakat di sekitar.


spacer

Profil KMP PLTS Faduk Mavu Lamdesar Barat, Pulau Larat





Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Faduk Mavu merupakan bantuan yang diberikan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE)  dengan sumber dana dari APBN tahun anggaran 2014 bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pembentukan kelompok pengelola PLTS Desa Lamdesar Barat dibentuk pada 27 Agustus 2014. Jumlah pengurus kelompok pengelola sebanyak 7 orang yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, teknisi, operator dan anggota. Nama “Faduk Mavu” diputuskan bersama melalui musyawarah dalam rapat kelompok, yang berarti “cahaya pengetahuan”. Harapannya dengan adanya penerangan dari PLTS yang bersumber dari cahaya matahari ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baru mengenai pemanfaatan energi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya masyarakat dapat bisa mengupas kacang tanah di malam hari, menenun kain Tanimbar, warga melaksanakan ronda malam, dan anak-anak sekolah belajar dengan semangat. 

Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) PLTS Faduk Mavu Desa Lamdesar Barat telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari fasilitator Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. Pendampingan kelompok meliputi: pendampingan penguatan kapasitas SDM KMP, pelaksanaan pelatihan teknis dan manajemen, penguatan kelembagaan KMP serta pengembangan program inisiatif. Diharapkan dengan adanya program pendampingan ini, masyarakat menjadi mandiri dan mengembangkan aset yang telah diberikan oleh pemerintah.

Selanjutnya untuk memperkuat posisi KMP, maka adanya dukungan dari pemerintah daerah berupa SK Bupati Maluku Tenggara Barat Nomor 573-1365-Tahun 2015 Tanggal 20 oktober 2015 tentang Kelompok Masyarakat Pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Surya Desa Lamdesar Barat, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat Tahun 2015. Dengan adanya kelompok pengelola, masyarakat ikut andil dalam menjaga sarana dan prasarana yang ada, sehingga asas kebermanfaatan akan lebih terasa oleh semua kalangan (sampai saat ini penerima manfaat PLTS sebanyak 182 rumah, 10 fasilitas umum-fasilitas sosial, 188 KK, dan 742 jiwa).

spacer