Showing posts with label Pelajaran hidup. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran hidup. Show all posts

Damai dan Sunyi


Bunga abadi sarat makna


Ketika berada dalam situasi dan suasana mulai merasakan kejenuhan dan kepenatan, raga ini rindu untuk menikmati dinginnya malam ditemani secangkir kopi panas sambil menatap gugusan bintang.

Ditemani indahnya bunga abadi, bunga sepanjang masa yang sebagian tidak tahan membawanya. Bunga yang selalu menimbulkan kerinduan bagi yang kelihatnya. Semoga selalu aman dan tetap lestari di sana.

Suasana sunyi dan damai sebagai pelengkap suasana untuk renungi perjalanan kembali hidup ini. Mulai menata kembali masa depan.
Namun,

Terkadang harus merelakan kesempatan seperti itu untuk sementara waktu hingga tiba saatnya bercumbu kembali dengan tanah air ini. 

Aku benar-benar rindu sangat teramat sangat rindu menjamah kembali indahnya negeri ini. Sebelum penyesalanan akan dongeng khatulistiwa hanya sebatas dongeng untuk anak cucu kita.

Ambil ransel kalian sahabat. Kita peluk kembali jalanan pulau ini yang pernah kita jelajahi tahun silam. Kita ulang kembali memori perjalanan panjang waktu silam. 
Aku terkadang iri dengan mereka yang punya banyak kesempatan untuk mereguk indahnya bumi zamrud khatulistiwa ini. Sebagai renungan dan cerita untuk pembelajaran generasi mendatang.

Aku akan segera datang dan kembali, negeriku !



spacer

Persimpangan Jalan


Ketika dihadapkan pada banyak pilihan tentunya akan muncul berbagai pertimbangan. Setiap pilihan yang diambil akan mempunyai konsekuensinya masing-masing. Alhasil pilihan pertama sudah dijatuhkan dengan pertimbangan bahwa pilihan kedua akan berjalan sesuai dengan yang telah dipertimbangkan dan direncanakan. Muncul harapan besar di saat itu ketika kaki sudah melangkah.

Namun, sebaik-baiknya rencana yang telah dibuat manusia, ada rencana-Nya yang lebih baik. Dengan kata lain, harapan dan pertimbangan pilihan yang diambil belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Semoga ada kejutan rencana dari Tuhan. Hanya bisa pasrah dan menyusun pilihan lagi. Ketika proses itu berlangsung, muncul rasa lama yang bergelora kembali. Rasa itu bisa disebut rasa cinta yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Muncul harapan dan pilihan yang semakin majemuk dengan tingkat kebimbangan yang semakin tinggi pula. Antara diri untuk menapaki kaki di benua berbeda atau tetap berada di sini untuk pengabdian. Perlu waktu untuk memutuskan itu semua.

Sadar akan semuanya kembali pada niat utama, maka mulai koreksi diri dan membetulkan niat awal bukan hanya karena emosi dan ego semata. Setelah melalui proses panjang akhirnya dijatuhkan kepada pilihan kedua untuk kegiatan pengabdian di masa ini dan satu masa berikutnya. Kekhawatiran pasti ada akan terlampaui dan kesetaraan, tapi kembali ke niat awal dan yakin bahwa jodoh tidak akan lari ke mana. Kalaupun kita berdua sudah ditakdirkan berjodoh, maka kita pasti akan dipertemukan dengan cara-Nya. Semoga nanti baik-baik saja di sana. Aku kan selalu menunggu di lain waktu.

Semoga pilihan kali ini yang diambil bisa terwujud dan terlaksana. Agar di masa plus dua masa yang akan datang, sudah bisa berada di benua lain, menapaki langkah baru dan melihat dunia luas. Teringat akan salah satu buku Edensor seperti yang engkau kagumi. Ya suatu saat aku ingin mengajakmu untuk bersama-sama melangkahkan kaki ribuan kilo mengarungi perjalanan panjang di belahan dunia itu. Mungkin saat ini aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan semua isi hati dari yang paling dalam. Mungkin belum saatnya. Tapi ketahuilah sejak pertemuan pertama di kota yang penuh kabut dingin itu dan sejak itu sampai sekarang detik ini Aku benar-benar mencintaimu dan menyayangimu. Maafkanlah hati dan diri ini. Aku doakan selalu untukmu, doa dari hati paling dalam agar kamu bisa menyelesaikan misi itu. Terima kasih selalu menginspirasiku.

Salju di Eropa (hope)

spacer

Profile


I graduated from Department of Geography, Universitas Indonesia in 2013. Interested in research and teaching. My final project of hydrological models using SWAT. Strongly passionated about GIS, WebGIS, Remote Sensing, Hydrology Model, Water Resource and Physical Geography. When I was studying in Universitas Indonesia, I have attended an exchange student at the University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia and has attended conferences International Japan Joint Scientific Symposium (IJJSS) in Chiba University, Japan.

I am a hard worker, having high dreams and like new challenges. Has a dream to become "Pengajar Muda" in "Indonesia Mengajar" and have dreams to continue studies in the Netherlands. Now working in my company Line House Production as Manager and GIS Analyst.

Wido Cepaka Warih can be contacted here.
spacer

Sebuah Renuangan Penutup Tahun 2011: Sandal Bakyak Kyai dan Nasi Pecel

Artikel ini merupakan sebuah pelajaran yang cukup menyentuh bagi kita semua, khususnya penulis sendiri. Artikel ini penulis dapatkan dari blog milik  http://rbumiya.blogspot.com/2011/12/bakyak-kyai-dan-nasi-pecel.html

Selamat membaca, mohon maaf karena repost, semoga dapat bermanfaat.

Bakyak Kyai dan Nasi Pecel


Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 26 December 2011 08:06

Seorang kyai tua tinggal beberapa ratus meter dari surau-nya yang selalu sepi. Dia selalu bangun satu jam menjelang subuh dan kemudian berjalan ke surau. Di keheningan malam desa, bakyak (alas kaki dari kayu) Pak Kyai ini menjadi pertanda awal pagi bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang jalan antara rumah Pak Kyai dengan suraunya. Begitu mendengar suara teklek – teklek –teklek , masyarakat yang punya urusan pagi itu segera bangun untuk memulai urasannya.

Ada yang berangkat ke pasar pagi-pagi di hari pasaran, ada yang mulai masak untuk membuka warungnya dlsb – namun tetap sangat sedikit yang kemudian mengikuti Pak Kyai ke surau. Hanya beberapa orang saja yang setia bermakmum di belakangnya ketika sholat subuh ditegakkan.

Mengamati perilaku masyarakat yang dilaluinya, dalam setiap kesempatan Pak Kyai ini ingin selalu mendakwahi mereka. Maka suatu pagi sepulang sholat subuh dia ingin mampir ke si mbok tukang nasi pecel dan suaminya yang tidak pernah dilihatnya ke surau.

Setelah selesai makan nasi pecel dari warung tersebut Pak Kyai mulai dengan strategi dakwahnya, dia bertanya ke si embok : “bapake teng pundi, kok mboten ketingal ?” (bapak kemana kok tidak kelihatan) ; dijawab oleh si embok : “Wonten wingking, mbantu nggodok toya” (di belakang, membantu masak air).

Lalu Pak Kyai melanjutkan dialognya dalam bahasa jawab tetapi langsung saya artikan yang kurang lebih begini : “Setiap saya berjalan ke surau, saya melihat warung ini masih tutup, dan ketika saya pulang warung ini sudah selalu buka…, apa yang membuatnya demikian ?”. Si embok menjawab : “Iya Pak Kyai, kami terbangun setiap mendengar bakyak Pak Kyai – untuk terus mulai masak dan membuka warung ini…”.

Pak Kyai yang sekaligus merangkap muadzin ini, mulai menangkap peluang untuk mendakwahinya , dia bertanya : “lho, kenapa yang di dengar kok suara bakyak saya – bukan ajakan saya untuk sholat di surau/masjid  (suara adzan ) ?”.  Dengan agak malu-malu si embok berusaha menjelaskan alasan suaminya tidak ke surau : “Anu Pak Kyai, suara bakyak Pak Kyai bisa membangunkan kami, terus kami dapat mulai buka warung dan langsung dapat uang untuk makan sekeluarga. Ajakan sholat (adzan) Pak Kyai mengajak kami ke surau lha terus yang mencarikan uang kami siapa ?”.

Sambil pingin meyakinkan Pak Kyai dengan argumennya, si embok balik bertanya : “Gusti Allah niku nopo estu enten nggih Pak Kyai ?, kok kulo nyuwon nopo-nopo dereng diparingi, dadosi tasih kedah kerjo ngaten niki…!” (Allah itu apa bener-bener ada sih Pak Kyai, kok saya minta apa saja belum ada yang diberi, jadi masih harus kerja seperti ini…!).

Mendapat pertanyaan yang seolah cerdas ini Pak Kyai desa ini tidak mau langsung menjawabnya, pertama karena pertanyaan ini tidak diantisipasinya – dia tidak langsung siap jawabannya saat itu, kedua dia tidak ingin berargumen dengan target dakwahnya pagi ini.

Setelah selesai makan nasi pecel Pak Kyai beranjak pergi , di tengah jalan dilihatnya ada gelandangan dengan badan dan baju yang kotor, rambut berantakan dan selalu menengadahkan tangan minta-minta pada orang yang lalu lalang dengan kalimat standarnya yang memelas “…telung dinten dereng mangan…” (tiga hari belum makan).

Pak Kyai merasa dapat ilham langsung balik ke warung nasi pecel tadi, dengan bergegas dia menyampaikan ke si embok yang tadi melayani dia : “Mbok, mbok, sampeyan lihat tukang ngemis disana itu…?”, si embok menjawabnya : “ Oh Iya pak Kyai, memang pekerjaannya setiap hari disitu ya begitu…”.

Pak Kyai melanjutkan : “Lantas mengapa embok tidak memberinya makan nasi pecel ini ?, nasi pecel disini kan banyak sekali – dia tidak perlu bekerja dengan mengemis setiap hari kalau setiap dia datang ke warung ini embok langsung beri dia makan…!”.

Si mbok kaget dengan saran Pak Kyai ini, dia menjawab : “Pak Kyai ini bagaimana sih !, nasi pecel yang ada di warung ini kan untuk dijual, kok kami malah disuruh memberikan begitu saja ke si pengemis…, mana bisa dia membayarnya ?”.

‘”Ini Dia” pikir Pak Kyai , dia langsung menyampaikan kalimat dakwahnya yang jitu ke si embok : “begitulah Allah mbok, Dia punya apa saja yang embok dan keluarga inginkan …, tetapi mana mau Dia memberikan semua keinginan ke mbok, lha wong mbok nggak mampu membayarnya kok…!”.

Merasa logika Pak Kyai mengenainya, dia mulai tertarik : “Lha terus bagaimana Pak Kyai ? bagaimana kami bisa ‘membeli’ kepada Allah apa yang kami inginkan…”. Dengan senang Pak Kyai menjawab : “Dengan mentaatiNya mbok, mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya…, ya antara lain kalau Dia memanggil untuk sholat ke surau/masjid – penuhilah panggilanNya, terutama untuk suamimu – karena itu wajib bagi laki-laki”.

Begitulah kita semua, seperti keluarga tukang pecel tadi. Kita sibuk dengan urusan kita, sehingga ketika Allah memanggil (untuk sholat, zakat, menyantuni fakir-miskin, berhijrah untuk kebaikan, berjihad dst…) kita tidak segera meresponnya, tetapi ketika kita berdoa minta kepadaNya – mau kita segera diberiNya – mana bisa begitu ?. Wa Allahu A’lam.
spacer