Showing posts with label Karst. Show all posts
Showing posts with label Karst. Show all posts

Potensi Karst Gunung Sewu

Karst DUnia 

POTENSI SUMBER DAYA NIRHAYATI
Gunung Sewu menyimpan potensi gua yang sangat besar. Ratusan gua yang tersimpan didalamnya mempunyai keindahan dan keunikan yang cukup besar. Sistem perguaan yang unik dan komplek juga ditemukan di sini. Gua terpanjang di Jawa pun terdapat di gunung Sewu yaitu sistem Gua Jaran yang konon panjangnya mencapai 20km yang terletak di daerah Pacitan. Keindahan di dalamnya pun tidak kalah dengan gua-gua yang ada di Sulawesi bahkan di luar negeri. Sistem lain yang juga tidak kalah menarik adalah sistem Kali Suci yang merupakan sungai permukaan yang masuk ke dalam gua dan bermuara di Pantai Selatan. Di sepanjang sungai bawah tanah ini ditemukan fenomena unik yaitu terdapat cekungan-cekungan akibat atap gua yang runtuh seperti Luweng Gelung, Luweng Grubug dan Gunung Bolong. Kedalaman gua mencapai puluhan bahkan ratusan meter. Sistem gua yang unik ini mempunyai nilai ilmu pengetahuan yang tinggi.
Bentukan bentang alam yang khas dengan bukit-bukit kapur atau lebih dikenal dengan “conical hills” merupakan fenomena langka yang tidak banyak ditemukan di belahan bumi lain. Para peneliti luar negeri yang mempelajari geomorfologi banyak melakukan penelitian di kawasan ini.
Cave Decoration
Ornamen gua di salah satu gua di Gunung Sewu (C. Rahmadi)
POTENSI SUMBER DAYA HAYATI
Potensi sumber daya hayati di kawasan karst Gunung Sewu sampai saat ini belum banyak terungkap. Hal ini disebabkan minimnya kegiatan penelitian hayati di kawasan ini. Beberapa catatan penelitian fauna gua banyak ditemukan di literatur-literatur berbahasa Belanda. Beberapa tahun terakhir dilakukan penelitian tentang keanekaragaman hayati namun tidak banyak yang dipublikasikan. Hal ini menyebabkan potensi Gunung Sewu tidak banyak diketahui dibandingkan kawasan karst lain seperti Nusakambangan Jawa Tengah, Maros Sulawesi Selatan dan Pegunungan Sewu Sumatra. Namun penelitian tersebut banyak dilakukan oleh peneliti asing khususnya Perancis.
Kekayaan fauna gua di perairan bawah tanah yang tercatat adalah ketam gua yang ditemukan di Gua Ngingrong dan Gua Jomblang yaitu jenis Sesarmoides jacobsoni yang konon merupakan ketam yang telah teradaptasi dengan lingkungan gua. Ketam lain yang bukan merupakan ketam gua namun ditemukan di dalam gua adalah Parathelpusa convexa yang ditemukan di Gua Jomblang daerah Bedoyo. Beberapa jenis udang gua juga ditemukan di Gunung Sewu yaitu Macrobrachium poeti yang ditemukan oleh tim Inggris pada saat eksplorasi gua di kawasan ini, udang dideskripsi oleh Holthuis pada tahun 1984. Jenis udang lain yang bukan udang gua yang ditemukan di perairan dalam gua adalah Macrobrachium pilimanus yang juga ditemukan di gua-gua Sumatra. Beberapa udang juga ditemukan oleh mahasiswa pecinta alam Fakultas Biologi (Matalabiogama) di sebuah gua vertikal di daerah Panggang Gunung Kidul namun belum teridentifikasi diduga dari marga Macrobrachium. Dari kelompok vertebrata yang menghuni perairan bawah tanah di Gunung Sewu salah satunya adalah ikan gua dari jenis Puntius microps yang diduga masih sejenis dengan Puntius binotatus yang banyak ditemukan di sungai permukaan. Puntius microps ditemukan di sungai bawah tanah di gua Jomblang. Penelitian tentang ikan gua telah banyak dilakukan oleh mahasiswa anggota Matalabiogama Fakultas Biologi UGM yang meneliti tentang perbandingan struktur retina ikan gua dengan luar gua (Arianto 1999), perbandingan struktur sisik ikan gua (Rinawati 2000), morfologi ikan gua (Budihardjo 2002) bahkan akan dijajagi untuk mempelajari DNAnya. Ikan gua yang diduga dari jenis Puntius sp. ditemukan di danau bawah tanah di kedalaman 100meter yang mempunyai populasi sangat kecil. Potensi fauna di perairan bawah tanah Gunung Sewu masih belum banyak terungkap mengingat banyaknya gua dengan sungai bawah tanah yang berjumlah ratusan. Sehingga peluang untuk menemukan jenis baru masih sangat terbuka lebar.
Fauna terrestrial juga masih menyimpan potensi yang belum terungkap. Dari catatan di Enciclopaedia Biospeologica: Indonesie terdapat jenis Isopoda gua yaitu jenis Javanoscia elongata Schultz, 1985 dan Tenebrioscia elongata Schultz, 1985. Dari hasil inventarisasi sekilas pada tahun 2000 didapatkan jumlah fauna gua yang telah teradaptasi cukup tinggi. Dari survey di tiga gua didapatkan 4 jenis troglobit yaitu Nocticola sp. (Blattodea), Schizomida sp. (Arachnida), Pseudosinella sp. (Collembola) dan Cambalopsidae sp. (Diplopoda) (Suhardjono et al. 2001). Sedangkan penelitian Arthropoda gua di Gunung sewu banyak dilakukan oleh mahasiswa pecinta alam fakultas Biologi UGM namun juga tidak banyak yang dipublikasikan. Fauna terrestrial di kawasan ini masih belum banyak yang terungkap karena gua yang belum diteliti juga masih cukup banyak.
Gua-gua di Gunung Sewu juga dihuni oleh koloni kelelawar yang juga menghasilkan guano yang cukup banyak. Fauna yang hidup di dalam guano pun juga belum ada yang diteliti. Namun penelitian tentang kelelawar penghuni gua telah dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Biologi Matalabiogama (1999), Erlamsyah (2000) dan Santoso (2001), Fajria (2002) sebagai penelitian skripsi. Dari penelitian tersebut menunjukkan kekayaan yang cukup tinggi. Namun keterbatasan pengetahuan secara taksonomi masih menyebabkan belum terungkapnya jenis-jenis baru yang dimungkinkan ditemukan di kawasan ini.
Pemanfaatan air di dalam gua juga akan mengancam kelestarian kualitas air dan kehidupan yang ada di dalamnya. Pemanfaatan air yang ada di gua untuk mandi dan cuci akan meningkatnya polusi air jika tidak dimanfaatan secara bijaksana. Di Gua Sodong Mudal di Pracimantoro, air yang masuk ke dalam gua digunakan untuk mandi dan cuci namun sampah plastik dan sebagainya dibiarkan beserakan dan menimbulkan bau dan air yang berwarna hitam. Air yang sudah tercemar ini akan terus masuk ke dalam gua dan mengancam keberadaan fauna yang tergantung padanya.
Oleh: Cahyo Rahmadi
Copied from : http://biotagua.org/2008/01/25/gunung-sewu-potensi-nirhayati-dan-hayati-kars/ (diakses tanggal 5 Juli 2010)
Museum karst

spacer

Karst Sekali Lagi






Gambar-gambar tersebut berkaitan dengan karst (tanah kapuir, dari pembentukan, bukit karst, kawasan karst dunia, citra satelit, topografi karst dan karst map
Sumber Gambar:
http://web.viu.ca/geoscape/images/karst_cave.jpg
http://www.globalgeopark.org/Portals/1/karst.jpg
http://www.fws.gov/midwest/EcosystemConservation/images/karst2.jpg
http://www.purdue.edu/envirosoft/inject/images/karst.gif
http://www.esi.utexas.edu/outreach/caves/images/karst/karst_fig1.jpg
http://www.portaec.net/local/images/karst/root/karst.jpg
http://cavefauna.files.wordpress.com/2008/06/karst-localities-copy.jpg
http://web.viu.ca/geoscape/images/map_karst.jpg
http://kasatrianpringgondani.files.wordpress.com/2009/03/peta-lembah-giritontro.jpg
http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/wp-content/uploads/2009/09/krbolong-cone-karst.jpg
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs364.snc3/23492_10150116841500455_424104960454_11335510_3498888_n.jpg
http://gunungsewu.files.wordpress.com/2006/11/img_2274.jpg
http://biotagua.org/2008/01/25/gunung-sewu-potensi-nirhayati-dan-hayati-kars/
spacer

Caving (Susur Goa)



Caving atau penelusuran gua, boleh dibilang cukup lama dikenal Indonesia. Persisnya kegiatan ini sudah mulai marak tahun 1980-an, ketika Persatuan Speleologi dan Caving Indonesia (Specavina) dibentuk di Bogor dengan tokoh-tokohnya antara lain dr. Ko King Tjoen, Norman Edwin (alm), Dr. Budi Hartono, dan Effendi Soleman. Mulailah dari sini kegiatan yang jadi hobi baru kala itu menyebar, terutama di kampus-kampus.

Hobi ini agaknya di awal perkembangannya terseok-seok karena yang didalaminya tak melulu keterampilan fisik saja namun juga aspek ilmiahnya. Selain, peralatan yang dibutuhkan pun sulit dibeli di sini. Specavina, ketika itu pula agak selektif membagi ”ilmu” pada peminat. Hanya mereka yang memiliki latar belakang keilmuan atau yang menyukai pengetahuan tentang speleologi yang boleh bergabung. Specavina sebagai pelopor ketika itu sengaja lebih menonjolkan unsur ilmiahnya (speleologi) ketimbang ”olahraganya” (caving).

Salah satu aspek yang harus diketahui penggemar caving adalah pengetahuan dasar geologi. Terutama bagaimana awal gua itu terbentuk, di daerah mana bisa ditemukan, sifat batuannya, jenis gua, dan sebagainya. Dengan dasar pengetahuan ini, caver (penelusur gua) bisa dengan mudah menemukan gua. Sebab, mereka hanya akan mendatangi wilayah yang banyak terdapat batu gamping.
Secara teori demikianlah adanya. Gua banyak terdapat di kawasan batu gamping (karst). Berbekal pengetahuan itu pula jika bisa membaca peta geologi, maka di mana saja sebaran daerah karst, di sana tujuan yang tepat untuk perjalanan melakukan ekspedisi.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah biologi gua (biospeleologi). Memang tak harus menjadi ahli biologi dulu baru bisa menekuni caving. Tapi paling tidak dengan modal ”baca-baca” dulu, penelusur gua bisa membandingkan flora fauna antara gua yang satu dengan lainnya. Atau mungkin dia menemukan spesimen baru yang bisa menambah khasanah pengetahuan biologi gua di Indonesia. Dia pun menjadi tahu bagaimana cara menyimpan koleksi itu dengan baik sebelum dibawa ke pakarnya untuk diidentifikasi.

Keunikan
Fauna gua terbilang unik. Semuanya beradaptasi dengan lingkungan gelap abadi tak hanya terbilang puluhan atau ratusan, tapi ribuan tahun. Mereka berevolusi disesuaikan dengan alamnya yang gelap gulita. Di sebuah gua di Amerika pernah ditemukan salamander transparan dan tak bermata (eyeless), bahkan buta (blind). Diduga salamander itu terjebak di dalam gua dan tak bisa keluar.
Untuk bertahan hidup satwa itu mengembangkan indera peraba dan perasanya sedemikian rupa untuk menggantikan fungsi matanya. Lama-kelamaan alat penglihatan itu tertutup selaput karena mubazir.
Begitu pun flora dalam gua yang beradaptasi dengan lingkungan gelap total. Tumbuhan untuk hidup di permukaan memerlukan sinar matahari. Tumbuhan berdaun belum pernah dilaporkan ditemukan di dalam gua. Yang lazim dijumpai adalah aneka jamur yang bentuknya aneh-aneh. Misalnya ada jamur yang memiliki leher yang panjang, dengan topi kecil namun lunglai.
Di Indonesia penemuan satwa gua yang terbilang sensasional pernah terjadi. Tapi sayangnya itu tak tercatat di lembaga resmi pemerintah atau internasional. Di tahun 1980-an, persisnya tahun berapa sudah .lupa, klub penelusur gua Garbhabhumi dari Jakarta ketika terjadi gerhana matahari total, masuk ke Gua Ngerong di Tuban, Jawa Timur. Bentuk gua itu adalah gua air yang merupakan sungai.
Klub yang dipimpin Norman Edwin (alm) saat itu menerobos masuk dan melawan arus dengan perahu karet. Tak sampai satu kilometer, mereka terbentur air terjun. Setelah memanjat air terjun, langkah mereka terhenti sebab di bagian atasnya terdapat mata air. Lorong itu mungkin bisa ditelusuri lebih jauh, namun memerlukan teknik dan peralatan diving. Diputuskan ketika itu untuk stop dan kembali ke luar.
Di bagian inilah mereka secara tak sengaja melihat kelap-kelip di dalam air yang memantul dari sinar lampu. Ternyata barang yang mengkilat itu adalah ikan. Setelah dipelototin lebih dekat lagi, ikan itu tak bermata dan transparan.
Dibalut rasa girang, spesimen itu dibawa ke Jakarta untuk diidentifikasi. Beberapa bulan ikan yang mirip anak tawes itu masih hidup dalam akuarium yang dikondisikan seperti di alamnya oleh Riza Marlon (kini juru foto profesional).
Oleh Yatna Supriatna, kini doktor biologi, temuan itu diidentifikasi sebagai Puntius microps. Sebagai pembanding, satwa eyeless di gua di Amerika atau Eropa baru dijumpai di kedalaman puluhan kilo sampai ratusan. Tapi di Tuban, tak sampai 2 kilometer. Mungkin ini bisa menjadi bahan kajian ilmuwan kita yang tertarik pada cave biology. Jika di sana, gua bisa melahirkan ratusan doktor, mengapa di sini tak bisa? Takut gelapkah, becek dan bayangan mistis tentang gua yang mengakibatkan orang enggan berurusan dengannya?



**Pemetaan Gua**

Masuk gua memang bukan sekadar masuk dan mengagumi keindahan di dalamnya saja. Namun banyak yang harus dikerjakan. Apalagi ketika zaman itu belum banyak perkumpulan penelusur gua sehingga untuk mengklaimnya harus dibuktikan dengan peta dan foto-foto. Keakuratan peta sebuah gua dilihat dari siapa yang membuatnya. Sayangnya kebanggaan dan semangat untuk membuat peta gua oleh klub-klub caving di Indonesia, melempem.

Hal ini berbeda dengan kondisi klub penelusur gua di luar negeri. Mereka begitu getol menyusun peta gua hingga ke hal yang detail. Sampai akhirnya tercipta lambang-lambang khusus dalam pemetaan gua yang jelimet. Jika ada hal khusus yang ditemukan, misalnya speleothems (bentukan gua seperti stalaktit, stalakmit, gourdam, straws, pearls cave dan sebagainya) yang mungkin istimewa bentuknya, biasanya peta itu dibuat irisan dengan gambar detail atau lambang. Di peta tersebut biasanya tercantum grade, semakin tinggi angka yang tercantum dalam grade itu maka semakin akurat peta itu dibuat.
Di sana yang enak adalah generasi selanjutnya. Jika ingin masuk gua tinggal masuk dengan panduan peta. Namun penelusur di sana bukan sekadar mengikuti petunjuk peta.

Bila denah yang dibuat sebelumnya ada kesalahan maka akan dikoreksi dan dilaporkan ke paguyuban penelusur gua. Maka tak mengherankan jika kini hampir pasti peta gua di negara-negara maju, akurat. Semua gua sudah terpetakan yang diikuti dengan data base yang lengkap.
Saking lengkapnya, mereka bisa tahu mana gua yang terpanjang atau yang terdalam di dunia. Gua yang terdalam dan sampai kini belum terpecahkan rekornya adalah Voronja Cave di Georgia, pecahan bekas Uni Soviet, yakni 1.710 meter.

Bayangkan untuk menuruninya berapa panjang tali yang dipakai dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai ke dasar gua. Sementara gua yang terpanjang dan kompleks sekali lorong-lorongnya adalah Mammoth Cave di Amerika Serikat yakni, 563,270 km dan dalamnya -116 m. Lebih lengkapnya silakan klik www-sop.inria.fr/agos-sophia/sis/DB/database.html. Di sini ada sedikit data gua di Indonesia.

Kabar bahwa pemetaan gua tak begitu berjalan di Indonesia, sudah bisa dimaklumi. Karena penggemar caving di sini cenderung menyukai dari sisi olahraga dan petualangannya. Aspek ilmiah bukannya tak menarik, tapi kurang menguasai. Pakar biologi atau geologi yang sesungguhnya di Indonesia, adakah yang membangun tesis dari gua? Kalaupun ada mungkin jumlahnya tak sampai hitungan jari sebelah tangan.



**Incaran Dunia**

Potensi gua di negeri ini sebetulnya tak kalah menarik dengan yang ada di luar negeri. Ketika tahun 1980-an, wilayah ini menjadi incaran caver dunia. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa caving di sini, namun terbentur peraturan yang menyebutkan peneliti asing harus seizin LIPI. Adanya peraturan itu sebetulnya ada bagusnya. Mereka jadi tak seenaknya ”mengeksplorasi” gua di Indonesia. Sayangnya, kesempatan itu tak dipakai oleh penelusur gua kita untuk menjadikan dirinya sebagai yang pertama.

Belakangan seorang ahli geologi yang juga seorang caver berkebangsaan Inggris, Tony Waltham, masuk lewat jalur sebuah departemen. Dia datang konon membantu pengairan di daerah Gunung Kidul yang tandus.

Sebagai pakar geologi, dia tahu betul bahwa air di sana hanya dijumpai di sungai bawah tanah alias di dalam gua-gua. Dia pun paham bahwa Gunung Kidul adalah kawasan karst yang nota bene adalah sarangnya gua yang belum diutak-atik oleh caver mana pun. Sepulangnya dari Indonesia tak lama kemudian terbitlah buku tentang gua-gua di sana, berikut foto-foto yang menawan.
Potensi gua yang masih menjanjikan, menurut peta geologi terletak di Sulawesi dan Papua. Tapi yang menantang adalah yang di Papua. Di peta tertulis selain kawasan karstnya luas, juga ”ketebalannya” mencapai ribuan meter. Artinya, jika ada gua vertikal (pothole) di Papua maka kedalamannya berpotensi mengalahkan Gua Voronja di Georgia!!

Adapted from: http://www.plasma03.co.cc/2010/02/penelusuran-gua.html
spacer

Museum Karst Dunia

Museum Karst Dunia – Gebangharjo Pracimantoro Wonogiri

Pemandangan alam di Wonogiri begitu indah. Daya tarik tempat pariwisata Kabupaten Wonogiri bukan saja Waduk Gajah Mungkur (WGM). Untuk menarik wisatawan menuju Wonogiri, telah dilakukan berbagai terobosan.

Salah satunya dengan membangun museum karst dunia di Gebangharjo Pracimantoro Wonogiri. Kawasan kars gunung sewu ini membentang antara pantai Parangtritis, di kabupaten Bantul hingga teluk Pacitan di kabupaten Pacitan.
Namun,secara administratif kawasan yang berada di kabupaten Wonogiri ini terletak di sebagian besar kecamatan Paranggupito, Giritontro, Pracimantoro, Giriwoyo dan kecamatan Eromoko.
Luas kawasan kars sekitar 18,6% dari luas wilayah kabupaten Wonogiri.Bentang alam karst di wilayah kabupaten Wonogiri disusun oleh aneka bangun asal-pelarutan yang melibatkan batu gamping.
Gejala pelarutan atau yang lebih dikenal dengan karstifikasi itu berkembang di permukaan(eksokarst) dan di bawah permukaan(endokarst).

Di kawasan karst dapat ditemukan adanya karren,bukit-bukit kerucut,sinusoida, pematang, pepino, doplina,uvala, polje, telaga,lembah kering sungai Bengawan Solo purba,ponora,gua dan lain sebagainya.
Karren atau lapis bangun pelarutannya ada yang berongga,berlubang,beralur,bersaluran,dan sebagainya.
Sedangkan bukit-bukit terpisah berbangun kerucut atau mempunyai permukaan melengkung(sinuosida)yang letaknya saling berdekatan.
Masing-masing indivisdu bukit diselangi oleh lekuk topografi atau dataran yang saling bersambungan.Proses karstifikasi selama ruang dan waktu geologi
selanjutnya akan membentuk hamparan ribuan bukit kerucut(conical hills), yang menjadi ciri utama dari karst wilayah gunung sewu.

source : http://giritontro.wonogiri.org/
spacer

Karst Citatah

Jika tak Ditata, Karst Citatah Bisa Habis dalam Sepuluh Tahun

NGAMPRAH, (PRLM).- Pemerintah Kabupaten Bandung Barat harus serius menyiapkan konsep untuk menata kawasan karst Citatah. Selain berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan pengetahuan, keberadaan karst ini juga menyokong penghidupan masyarakat sekitar.
”Kalau tidak segera mengambil sikap, mungkin karst Citatah akan habis seluruhnya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun,” kata anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar, Senin (24/5).
Dia mengatakan, saat ini, sekitar tujuh puluh persen alam di kawasan karst Citatah diperkirakan berada dalam kondisi rusak. Hal itu terjadi karena eksploitasi yang tidak terkendali. Pentingnya keberadaan karst itu mengharuskan pemerintah memberikan perhatian serius.
Menurut dia, karst Citatah yang diperkirakan terbentuk sejak tiga puluh juta tahun lalu itu, merupakan wahana pengetahuan bagi banyak kalangan. Sementara dari sisi lingkungan, keberadaannya berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.
Namun, penambangan kapur liar dan tidak terkendali membuat keberadaan karst makin terkikis. Masyarakat sekitar menjadikannya sebagai mata pencaharian yang berlangsung turun-temurun. Dia menilai, pemerintah memiliki fungsi kontrol dalam melestarikan keberadaan karst Citatah.
Kepala Seksi Pertambangan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bandung Barat Oong Dermawan mengatakan, jika ditutup secara tiba-tiba, khawatir akan terjadi reaksi di tengah masyarakat. ”Perlu tindakan hati-hati, soalnya ini berkaitan dengan perut masyarakat,” katanya.
Tahun ini, terdapat sedikitnya sembilan perusahaan yang mengajukan izin penambangan baru. (A-179/das)***
Adapted from : http://www.pikiran-rakyat.com/node/114304
spacer