Showing posts with label Geologi. Show all posts
Showing posts with label Geologi. Show all posts

Pesona Kawah Ijen

Sumber : Wikipedia dan Funzu
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4415020

Pesona Kawah Ijen, Surga bagi para Penambang Belerang




Quote:
Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen, Jawa Timur, memiliki tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Kawah Ijen dilihat dari puncak gunung Ijen sangat mengagumkan. Suasananya menyenangkan untuk di rasakan baik pemandangan alamnya maupun suasana alam membuat para pencinta alam menjadi tertarik untuk menjelajahi gunung Ijen ini. Di samping sebagai tempat rekreasi yang terindah di kawasan Bondowoso, kawasan gunung Ijen sering dijadikan anak-anak muda sebagai tempat berkemah yang cocok. Kawah Ijen merupakan danau yang besar berwarna hijau kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang sangat memesona. Selain itu, udara dingin dengan suhu 10 derajat celcius, bahkan bisa mencapai suhu 2 derajat celcius, akan menambah sensasi yang dingin sekali bagi yang tidak terbiasa merasakan udara di kawah Ijen. Berbagai tanaman yang hanya ada di dataran tinggi juga dapat Anda temukan, seperti Bunga Edelweis dan Cemara Gunung.

Saat pagi hari, ketika matahari mulai menyinari kawasan Kawah Ijen, pemandangan yang indah dapat Anda nikmati rasakan sinar yang muncul dari balik pepohonan dan bersembunyi ketika sunset. Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan akan ditambah cahaya matahari yang berwarna keemasan memantul di kawah tersebut. Pemandangan menakjubkan juga dapat Anda peroleh dengan menyaksikan pesona keindahan Gunung Merapi yang berdekatan. Gunung Merapi memiliki kemiripan bentuk dengan Gunung Ijen. Saat yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Ijen adalah pada pagi hari.

Untuk menuju Kawah Ijen, Anda harus menyusuri jalan setapak menyusuri tebing kaldera. Jangan lupa membawa penutup hidup karena kadang asap belerang tertiup angin melewati jalur tersebut. Anda juga dapat mengelilingi kaldera di kawasan ini yang memakan waktu mencapai 8 hingga 10 jam berjalan kaki.
Quote:
Disana, banyak penambang Belerang melakukan aktivitasnya. Dengan berbekal peralatan seadanya, mereka berusaha menambang belerang sebagai mata pencaharian mereka. Mo liat gimana susahnya mereka menambang Belerang, silaken di simak disini, mohon maap kalo ada yang repost
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:
Spoiler for belerang:




Spoiler for ijen:


Spoiler for ijen:


Spoiler for ijen:
spacer

Gempa Selatan Tasikmalaya 26 Juni 2010 5,8 Mw

gempa-tasikmalaya
gempa tasikmalaya (sumber: www.usgs.gov)
Sebuah gempa bermagnitude 5,8 Mw, dengan pusat di kedalaman 96,8 km telah terjadi pada 26 Juni 2010 pukul 16.50 WIB di Lautan Hindia sebelah selatan (80 km) Tasikmalaya. Dengan kedalaman hiposentrum seperti itu, bisa disimpulkan bahwa ini merupakan slab earthquake (patahan pada kerak samudera yang menunjam di bawah kerak akresi selatan Jawa Barat). Tahun lalu, gempa yang lokasinya di Samudera Hindia juga sekitar 80 km ke sebelah barat dari posisi sekarang terjadi lebih kuat (sekitar 7,0 SR) dan memakan banyak korban di bagian selatan Jawa Barat serta mengguncang Jakarta dengan kuat. Semoga gempa sore ini yang baru berlalu tak banyak memakan korban. Guncangan di selatan Tasikmalaya sekitar IV-V MMI, di Bogor sekitar II-III MMI.
Ini bukan gempa yang akan menyebabkan tsunami sebab cukup dalam dan magnitude-nya relatif kurang untuk membangkitkan tsunami, gempa sedalam itu dengan magnitude di bawah 6,5 Mw biasanya hanya akan menghasilkan blind fault (dies out upsection).
salam,
Awang

Sumber Artikel: http://geoblogi.iagi.or.id/
spacer

Karst Citatah

Jika tak Ditata, Karst Citatah Bisa Habis dalam Sepuluh Tahun

NGAMPRAH, (PRLM).- Pemerintah Kabupaten Bandung Barat harus serius menyiapkan konsep untuk menata kawasan karst Citatah. Selain berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan pengetahuan, keberadaan karst ini juga menyokong penghidupan masyarakat sekitar.
”Kalau tidak segera mengambil sikap, mungkin karst Citatah akan habis seluruhnya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun,” kata anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar, Senin (24/5).
Dia mengatakan, saat ini, sekitar tujuh puluh persen alam di kawasan karst Citatah diperkirakan berada dalam kondisi rusak. Hal itu terjadi karena eksploitasi yang tidak terkendali. Pentingnya keberadaan karst itu mengharuskan pemerintah memberikan perhatian serius.
Menurut dia, karst Citatah yang diperkirakan terbentuk sejak tiga puluh juta tahun lalu itu, merupakan wahana pengetahuan bagi banyak kalangan. Sementara dari sisi lingkungan, keberadaannya berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.
Namun, penambangan kapur liar dan tidak terkendali membuat keberadaan karst makin terkikis. Masyarakat sekitar menjadikannya sebagai mata pencaharian yang berlangsung turun-temurun. Dia menilai, pemerintah memiliki fungsi kontrol dalam melestarikan keberadaan karst Citatah.
Kepala Seksi Pertambangan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bandung Barat Oong Dermawan mengatakan, jika ditutup secara tiba-tiba, khawatir akan terjadi reaksi di tengah masyarakat. ”Perlu tindakan hati-hati, soalnya ini berkaitan dengan perut masyarakat,” katanya.
Tahun ini, terdapat sedikitnya sembilan perusahaan yang mengajukan izin penambangan baru. (A-179/das)***
Adapted from : http://www.pikiran-rakyat.com/node/114304
spacer

About Karst


Karst

Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.

Daftar isi

Proses pembentukan karst

Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli.
Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).
sumber lain (terdapat gambar animasi penjelasan): http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=188&fname=all.htm

Ekosistem karst

Ekosistem karst memiliki keunikan, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati.

Biota gua

Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua (Macrobrachium poeti), kalajengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting gua buta (Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides emdi), isopoda gua (Cirolana marosina), Anthura munae, kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus, Speonoterus bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus covillae, S. stocki, S. monodi, dan S. javanicus dari karst Cibinong.
GUA DAN PENGHUNINYA
Pendahuluan | Definisi Karst | Kehidupan Gua Potensi Kawasan Karst | Penutup
Pendahuluan
Take nothing but picture, Kill nothing but the time, Leave nothing but footprint , (Mengambil tak lain hanya foto, membunuh tak lain hanya waktu, meninggalkan tak lain hanya jejak kaki), motto tersebut merupakan pegangan para penelusur gua yang pada intinya bagaimana menelusuri keindahan gua tanpa perlu merusak dan mengganggunya. Gua merupakan salah satu ciri khas kawasan karst. Kawasan karst atau gunung gamping merupakan kawasan yang unik serta kaya akan sumber daya hayati dan non hayati.
Indonesia mempunyai kawasan karst seluas 20% dari total wilayahnya. Salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan dicalonkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena keunikannya.
Batu gamping sebagai salah satu bahan baku pembuatan semen, dengan eksplorasi yang tidak bijaksana, lambat laun warisan dunia yang unik dan terbentuk ribuan tahun ini akan hilang dan hanya menjadi cerita anak cucu kita kelak, jika kita tidak ikut membantu melestarikannya.
* Definisi Karst
   * Penghuni Gua
   * Potensi Kawasan Karst

Definisi Karst
Karst dan Karakteristiknya

Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah �krst / krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste .
Ciri-ciri daerah karst antara lain :
*
     Daerahnya berupa cekungan-cekungan
   *
     Terdapat bukit-bukit kecil
   *
     Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
   *
     Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
   *
     Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu    gamping.
   *
     Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.

Bentang alam seperti ini dapat Anda jumpai pada daerah di sekitar daerah Gombong, Jawa Tengah atau daerah Pegunungan Sewu di Gunung Kidul, DIY.

Proses Terbentuknya Gua Gua terbentuk pada dasarnya karena masuknya air ke dalam tanah. Berikut ini tahapan proses terbentuknya gua : a. Tahap awal, air tanah mengalir melalui bidang rekahan pada lapisan batu gamping menuju ke sungai permukaan. Mineral-mineral yang mudah larut dierosi dan lubang aliran air tanah tersebut semakin membesar. b. Sungai permukaan lama-lama menggerus dasar sungai dan mulai membentuk jalur gua horisontal. c. Setelah semakin dalam tergerus, aliran air tanah akan mencari jalur gua horisontal yang baru dan langit-langit atas gua tersebut akan runtuh dan bertemu sistem gua horisontal yang lama dan membentuk surupan (sumuran gua).

Ornamen dan Keindahan Gua
Bentuk ornamen-ornamen gua merupakan keindahan alam yang jarang kita jumpai di alam terbuka. Di tengah kegelapan abadi proses pengendapan berlangsung hingga membentuk ornamen-ornamen gua ( speleothem ). Proses ini disebabkan karena a ir tanah yang menetes dari atap gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya. Dalam rangka mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan melarutkan kalsit menjadi berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap.
Berbagai ornamen gua yang sering di jumpai :
* Stalaktit ( stalactite )
   * Stalagmit ( stalagmite )
   * Tiang ( column )
   * Tirai ( drapery )
   * Teras-teras travertin
   * Geode (batu permata)


*
     Stalaktit ( stalactite )
     Terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3 ) yang mengkristal, dari tiap tetes air akan menambah tebal endapan yang membentuk kerucut menggantung dilangit-langit gua.
Berikut ini adalah reaksi kimia pada proses pelarutan batu gamping :
CaCO3 + CO2 + H2O à Ca2 + 2HCO3
   *
Stalakmit ( stalacmite )
     Merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai gua karena hasil tetesan air dari atas langit-langit gua.
   *
Tiang ( Column )
     Merupakan hasil pertemuan endapan antara stalaktit dan stalakmit yang akhirnya membentuk tiang yang menghubungkan stalaktit dan stalakmit menjadi satu.


Irisan geoode memperlihatkan lingkaran-lingkaran pertumbuhan mineral kuarsa hasil pengendapan air tanah dalam sebuah rongga batuan


* Tirai (drapery)
     Tirai (drapery) terbentuk dari air yang menetes melalui bidang rekahan yang memanjang pada langit-langit yang miring hingga membentuk endapan cantik yang berbentuk lembaran tipis vertikal.

* Teras Travertin
     Teras Travertin merupakan kolam air di dasar gua yang mengalir dari satu lantai tinggi ke lantai yang lebih rendah, dan ketika mereka menguap, kalsium karbonat diendapkan di lantai gua
* Geode
     Batu permata yang terbentuk dari pembentukan rongga oleh aktifitas pelarutan air`tanah. Kemudian dalam kondisi yang berbeda terjadi pengendapan material mineral (kuarsa, kalsit dan fluorit) yang dibawa oleh air`tanah pada bagian dinding rongga.

Kehidupan Gua
Ciri-ciri Organisme Gua

Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut. Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut.
Berikut ini ciri-ciri organisme gua :
1. Tubuh tidak berpigmen.
  2. Waktu reproduksinya tertentu.
  3. Mempunyai alat gerak yang ramping dan panjang (Jangkrik gua mempunyai antena 20-21 mm).
  4. Mempunyai alat indera (alat penggetar) yang sudah berkembang.
  5. Mata tereduksi atau hilang sama sekali.
  6. Metabolismenya lamabat karena kurangnya suplai makanan.
  7. Dapat beradaptasi dengan lingkungan kelembaban yang tinggi.

Zonasi Kehidupan Gua berdasar Adaptasi s

Gua digambarkan sebagai pulau dengan kumpulan organismenya masing-masing. Dalam klasifikasi klasik, organisme gua dibedakan berdasarkan tingkat adaptasinya terhadap lingkungan gua yaitu:
1.
     Trogloxene adalah organisme yang hidup di dalam gua namun tidak pernah menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam gua. Kelelawar salah satu contoh hewan trogloxene.
  2.
     Troglophile adalah organisme yang menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam gua, namun individu yang lain dari jenis yang sama juga hidup di luar gua, seperti: salamander, cacing tanah, kumbang dan crustacea .
  3.
     Troglobite adalah organisme gua sejati dan hidup secara permanen di zona gelap total dan hanya ditemukan di dalam gua. Contoh : ikan Amblyopsis spelaeus, Puntius sp, Bostrychus sp.

Zonasi Kehidupan Gua berdasar Cahaya Ekosistem gua memiliki ciri khas terbatas dengan absennya cahaya matahari, iklim yang hampir seragam, temperatur yang konstan sepanjang tahun dan kelembaban relatif yang tinggi dan konstan. Berdasarkan ketersediaan cahaya matahari, gua memiliki tiga zonasi :

1. Zona mulut atau zona terang ( entrance zone ). Pada zona ini terdapat cahaya matahari langsung dan iklim gua sangat terpengaruh oleh faktor luar gua.
  2. Zona senja atau zona remang-remang ( twilight zone ) adalah zona dengan cahaya matahari tidak langsung, berupa pantulan cahaya dari zona mulut. Iklim sedikit terpengaruh oleh kondisi luar gua.
  3. Zona gelap total ( dark zone ) adalah zona dimana tidak ada cahaya sama sekali. Organisme gua sejati hidup di zona ini.

Potensi Kawasan Karst

Penambangan Batu Gamping di Kawasan Karst
Kawasan karst merupakan bentang alam yang unik dan langka. Karena terbentuk dengan proses yang berlangsung lama dan hanya di jumpai pada daerah-daerah tertentu, sudah barang tentu kawasan karst menjadi obyek eksplorasi dan eksploitasi manusia yang tidak pernah merasa puas. Secara umum kawasan karst mempunyai berbagai potensi yang bermanfaat antara lain :
* Potensi Ekonomi
   * Potensi Sosial
   * Potensi Ilmu Pengetahuan


Potensi Ekonomi

Obyek wisata Gua Jatijajar di Kab. Kebumen Jateng

Semakin meroketnya jumlah penduduk tak ayal lagi membuat manusia berusaha untuk bertahan hidup. Gua yang umumnya di jumpai dikawasan karst sudah lama dijadikan manusia sebagai hunian. Selain sebagai hunian, kawasan karst juga tempat untuk pertanian/peternakan, perkebunan, kehutanan, penambangan batu gamping, penambangan guano (kotoran kelelawar), penyediaan air bersih, air irigasi dan perikanan, serta kepariwisataan.
Salah satu pemanfaatan yang merugikan adalah penambangan batu gamping. Dengan menggunakan bahan peledak akan menganggu hewan didalamnya (kelelawar, burung walet).
Pemanfaatan yang baik untuk kelestarian kawasan karst adalah pariwisata yang selalu berusaha untuk mempertahankan keaslian dan keunikan kawasan karst tersebut.
Potensi Sosial

Cerita Mitos Di Gua jatijajar
Nilai sosial-budaya kawasan karst selain menjadi tempat tinggal juga mempunyai nilai spiritual/religius, estitika, rekreasional dan pendidikan. Banyak tempat di kawasan karst yang digunakan untuk kegiatan spiritual/religius. Banyak aspek hubungan antara manusia dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual khususnya dengan keyakinan masyarakat dengan fenomena alam di sekitarnya seperti halnya gua. Hubungan antara manusia dan alam disekitarnya pada dasarnya akan memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana melestarikan alam dan dekat dengan Sang Penciptanya.
Potensi Ilmu Pengetahuan

Penelitian sumber Daya Hayati di dalam gua

Kawasan karst dapat menjadi obyek kajian yang menarik bagi berbagai disiplin ilmu antara lain: geologi, geomorfologi, hidrologi, biologi, arkeologi dan karstologi. Masing-masing disiplin ilmu tersebut mempunyai ketertarikan terhadap kawasan karst karena kandungan fenomenanya sangat berbeda dengan kawasan lain di permukaan bumi ini. Fenomena abiotik, biotik di atas permukaan dan di bawah permukaan kawasan karst masih belum banyak yang terungkap. Kawasan karst masih mengandung berbagai tantangan ilmiah dari berbagai sudut ilmu pengetahuan.
Masih banyak hal yang manusia belum ketahui di dalam perut bumi dengan kegelapan abadinya.

Penutup

Air liur dari burung walet yang bernilai tinggi

Gua dengan segala keindahannya merupakan ciptaan Tuhan yang tiada taranya. Setiap inci dari ornamen gua terbentuk dari proses yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.
Selain itu penghuni gua yang khas mengandung potensi yang sangat tinggi jika dimanfaatkan secara benar dan bijak. Maukah kita melihat warisan dunia yang indah ini rusak karena tergusur industri semen atau rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Untuk lebih jauh dan lebih dalam mengenal gua dan penghuninya, cobalah Anda sesekali mengunjungi wisata-wisata gua yang ada di Indonesia atau Anda dapat menemukan berbagai informasi perkembangan karst Indonesia di www.indocaver.org , www.subterra.or.id atau www.karst.or.id

Kembali ke atas

sumber : http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=188&fname=all.htm pustekkom © 2005

Penyedia air

Di kawasan kars banyak dijumpai gua dan sungai bawah tanah yang juga menjadi pemasok ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.

Daerah karst di Indonesia

Kawasan karst di Indonesia mencakup luas sekitar 15,4 juta hektare dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Perkiraan umur dimulai sejak 470 juta tahun lalu sampai yang terbaru sekitar 700.000 tahun. Keberadaan kawasan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Indonesia banyak yang pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat dan mengalami pengerasan. Wilayah karst biasanya berbukit-bukit dengan banyak gua.
Berikut adalah wilayah karst di Indonesia[1]:
Kawasan Pegunungan Sewu, Pegunungan Maros, dan Pegunungan Lorentz telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi Kawasan Warisan Dunia.
Sisa-sisa permukiman manusia purba ditemukan di Leang Cadang, Leang Lea, dan goa-goa lainnya di Maros, Goa Sampung dan Goa Lawa di Ponorogo, Goa Marjan dan Goa Song di Jember, Song Gentong (Tulungagung), Song Brubuh, Song Terus, dan Goa Tabuhan di Pacitan. Lukisan atau cap dinding ditemukan di kawasan Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Kepulauan Kai, Seram, Timor, serta Papua. Ini menunjukkan indikasi migrasi manusia ke arah timur. Selain itu ditemukan pula berbagai sisa berbagai jenis vertebrata berusia 1,7 juta tahun hingga 700.000 tahun.

Kerusakan kawasan karst

  • Aktivitas penggalian batu kapur
  • Penambangan oleh industri semen

Referensi

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Karst

Pranala luar

spacer

Peta Gempa

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.
spacer

Continental Glaciation

Kontinental Glasiasi I dan II
a.    Kontinental Glasiasi I
Glasiasi Kontinental dapat menghanyutkan, mentranspor dan mengendapkan material. Glasiasi kontinental disebabkan oleh iklim, ketinggian, curah hujan dan aktivitas atmosfer (CO2 yang berlebihan). Dilain pihak, tutupan lahan yang bagus dengan vegetasi-vegetasi yang beranekaragam akan mengakibatkan penipisan kadar karbondioksida di atmosfer.

b.    Kontinental Glasiasi II
Icecaps di Greenland dan Antartica diduga mempunyai glasiasi yang lambat. Sebagai contoh, motraine di Winconsindan Montana di timur Amerika Serikat, muncul diantara 50 dan 300 kaki per mil. Icecaps menyebar radial karena  pola radial pergerakan angin dan curah hujan dihasilkan dari tekanan rendah di bagian tengah dan terus menuju ke bagian tepi dari region. Perubahan terakhir dari lembaran es tertutup sebagai danau, rawa-rawa, tanah berlumpur dan penggangguan garis drainase.

B.    Glacial Erosion
Lempeng es benua merupakan agen erosi yang mampu mengikis tanah dan mengangkut batuan dan meninggalkan material (endapan tebal). Erosi yang terjadi terlihat dari adanya glacial grooves, glacial striae; terkikisnya permukaan batuan oleh chatter marks; tidak adanya sisa tanah; aliran es yang alirannya terletak pada bagian yang tajam di atas batuan dasar; banyaknya hanyutan yang lebih besar dari endapan yang mungkin jika tidak terdapat erosi: adanya fresh rock pada hanyutan ini, yang satu sebagai batas ujung dan satu laginya sebagai lantai; posisi rock basins yang tidak mungkin terbentuk akibat erosi sungai.
Glacial Deposition : Moraines
 Moraines dikelompokkan berdasarkan posisinya terhadap lempeng es menjadi: terminal moraines (salah satu jenis moraines yang terbentuk jauh dari benua gletser ( continental glacier), interlobate moraines, recessional moraines, dan ground moraines. Selain itu, moraines juga dikelompokkan berdasarkan material penyusunnya, yaitu: till moraines, waterlaid moraines, delta moraines dan kame moraines.


C.    Glacial Deposition
Drumlin adalah bukit yang berbentuk oval, seperti setengah telur yang terdiri atas massa pasir dan batu kerikil (orogenesa). Bentuk-bentuk drumlin, yaitu:
     Paralel Kampak
     Menyerupai bukit ( rocdrumlin)
     Kumpulan Drumlin disebut ” Swarp”
Fluvioglasial Deposit
     These deposits are sorted and stratifed by the action of meltwater.
     Landform of Fluvioglacial Deposition :
     Kames
     Kames Terraces
     Kames Delta
     Eskers
Deposit Fluvioglasial
     Ketlle Holes
     Brainded Streams
     Varves
     Outwash Plain
Fluvioglasial Deposit 2
     Valley Trains (Valley trains terletak  pada daerah yang yang berbukit)

D.    Esker, Kame, dan Crevase Filling
Esker adalah bukit punggungan hasil endapan dari arus glacial dalam terowongan es. Adapun kame adalah bukit bulat atau bukit mengerucut yang tersusun dari kerikil atau pasir, diendapkan sebagai kerucut delta, hasil endapan dari penurunan massa di sepanjang punggungan es. Crevase filling adalah punggungan material air yang mengalir ke segala arah, biasanya berasosiasi dengan teras danau dan diendapkan dalam sebuah celah yang lebar.
Esker dan crevase filling tidak selalu dapat dibedakan satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki sisi yang curam dan sempit, sisi lereng yang tersusun dari pasir dan kerikil memiliki kemiringan sekitar 30%. Esker biasanya berada di daerah rendah dengan dataran yang berpaya. Tanah di salah satu atau kedua sisinya biasanya membentuk semacam depresi yang biasa disebut palung esker (esker through). Esker dapat terletak di seluruh jenis permukaan. Ia mengabaikan adanya topografi atau cegahan bukit yang yang ratusan kaki tingginya. Banyak esker yang  terpendam oleh pengunduran morena. Adapun crevase filling, biasanya mengandung pasir dan lumpur, yang khususnya bergabung dengan endapan danau. Transisi antara esker dan crevase filling terpisahkan oleh adanya kame yang merupakan hasil endapan Moulin dimana air mengalir melalui lubang es yang kemudian menurun kearah dasar lembaran es.

E.    Varves
Varve merupakan timbunan tahunan dari pasir, Lumpur, dan tanah liat yang diendapkan di danau oleh air glacial. Lumpur yang kasar ditiap-tiap varve terletak paling dasar dan lumpur tersebut diatur selama musim panas. Tanah liat terletak paling atas dimana tanah liat tersebut diatur selama musim dingin secara perlahan-lahan. Ketebalan dari varve sekitar 1/8 inchi sampai ½ inchi atau bahkan lebih tergantung pada kondisi curah hujan.

F.    Aspek Geografis continental Glasiasi
    Perbandingan antara region glasial dan region nonglasial di Wisconsin oleh Whitbeck, mengindikasikan bahwa pertanian di region glacial lebih unggul. Tanahnya lebih subur dan dapat memproduksi lebih besar setiap acre atau 4072 m2, nilai atau penghasilan para petani lebih besar, dan rata-rata hasil panenya juga lebih besar.

Grafik 1 menunjukan tanah pasir di region glacial diproduksi jagung hampir 20 persen lebih besar dibandingkan region nonglasial. Pada grafik 2, terlihat rata-rata pendapatan dari lahan hampir 50 persen lebih lebih besar dibandingkan area nonglasial. Grafik 3 mengindikasikan total kekayaan atau nilai dari petani, termasuk rumah dan lahannya. Pada area glacial terdapat 40 persen lebih besar. Pada grafik 4, terlihat produktifitas dari petani, sama seperti grafik-grafik sebelumnya, pada region glacial lebih besar. Pada grafik 5 dan 6, ditunjukan perbandingan dari hasil peternakan dan teteap sama seperti grafik lainnya, ditunjukan bahwa region glacial lebih unggul dari region nonglasial. Pada grafik 7 dan 8, terlihat region nonglasial lebih unggul dalam perbaikan lahan dan banyaknya lahan didaerah hutan.

G.    Illustrasi Peta Continental Glasiasi
Terminal morain dari continental es, ditunjukan pada The Isip, oyster bay, dan Riverhead. Di sebelah barat New York morainnya kurang terlihat, tetapi dapat dilukuskan pada lembar Passaic dan  Plainfield. Dipertengahan wilayah barat, terdapat banyak morain seperti ditunjukan pada St.Croit Dalles. Wilayah glacial dengan banyak danau dan rawa dapat dilihat pada peta Inggris dan New York. Sedangjan wilayah glacial yang tua, dapat ditunjukan pada lembar Peever, Beardsles, dan White Rock, S.Dak.


Pertanyaan :
1.    Mengapa terjadi 2 konsep utama dalam kontinental glasiasi, yaitu kontinental glasiasi I dan II, apakah teori ini berkelanjutan atau terjadi perbedaan yang signifikan?
2.    Mengapa pada fase glacial deposition bisa menyebabkan terjadinya berbagai bentuk drumlin, fluvioglasial deposit, deposit fluvioglasial dan fluvioglasial deposit 2?
3.    Mengapa dapat palung es dapar terbentuk mengingat bahwa es mudah untuk melakukan erosi dan glasiasi?
4.    Bagaimanakah perkembangan dari terbentuknya varves?
5.    Ada suatu pernyataan oleh Lobeck bahwa “tanah pasir di region glasial diproduksi jagung hampir 20 persen lebih besar dibandingkan region nonglasial”. Mengapa hal tersebut dapat terjadi dan kapan temporal region glasial lebih unggul dari region nonglasial dan sebaliknya terlihat region nonglasial lebih unggul dalam perbaikan lahan dan banyaknya lahan didaerah hutan?

DAFTAR PUSTAKA

Lobeck, A. K. 1939.  Geomorphology:  An Introduction to The Study Of Landscapes. London and New York: Mcgraw-Hill Book Company.

spacer

Sesar Aktif Melintasi Kawasan Berpenduduk Padat di Jawa


Para peneliti dan pakar gempa meminta perhatian pemerintah terhadap sesar aktif di Pulau Jawa yang berpotensi menimbulkan bencana. Hal ini mengingat temuan mereka menunjukkan banyak sesar aktif melintasi kawasan berpenduduk padat di Jawa.

Pakar gempa Danny Hilman dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan, terdapat sejumlah sesar di Pulau Jawa, misalnya sesar yang membentang mulai dari Cilacap-Kuningan-Majalengka hingga Jakarta. Di Jakarta, jejak sesar menghilang karena tertutup tanah aluvial dari endapan sungai.

"Dari catatan Belanda, pada tahun 1699 Jakarta pernah diguncang gempa besar. Namun, datanya masih sangat sedikit, perlu diteliti lebih jauh," kata Danny di sela-sela workshop "Indonesia-Japan Research Collaboration on Natural Disasters" di Jakarta, Rabu (20/6).

Ketua Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung Hasanuddin Z Abidin memetakan sesar aktif Cimandiri dan Lembang. Sesar Cimandiri terdapat mulai dari Palabuhan Ratu-Sukabumi-Cianjur hingga Padalarang. Sejarah gempa bumi di sesar ini tercatat cukup banyak, misalnya Palabuhan Ratu (1900), Cibadak (1973), Gandasoli (1982), Padalarang (1910), Tanjungsari (1972), Conggeang (1948), dan Sukabumi (2001).

Adapun Sesar Lembang berada sekitar 10 kilometer utara Bandung dengan panjang sesar yang terpetakan mencapai 22 kilometer. Gerakan tanah akibat terjadinya gerakan lempeng bumi di sesar ini sebesar 0,2-2,5 milimeter per tahun dengan siklus gempa bumi sekitar 500 tahun.

"Walaupun besaran gempa dan kapan terjadinya masih sulit diprediksi, diperlukan monitoring yang serius karena populasi penduduk di Sesar Lembang sangat tinggi, khususnya di Kota Bandung dan Lembang," katanya.

Kepala LIPI Umar Anggara Jenie mengatakan, saat ini LIPI dan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) intensif melakukan penelitian mengenai mitigasi bencana di Indonesia. "Jika sebelumnya banyak diteliti pantai-pantai selatan Sumatera, kini penelitian akan diperluas ke daerah lain di Indonesia, termasuk Pulau Jawa yang juga rawan gempa dan tsunami," ujarnya.

Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Idwan Suhardi mengemukakan, pemetaan sesar gempa di Pulau Jawa merupakan bagian dari mitigasi bencana yang seharusnya menjadi acuan pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.k(EF)

.................................
Ibarat batu yang retak, lapisan batuan di bawah Jakarta juga mengalami hal yang sama. Tabrakan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia di dasar Samudera Hindia sejak jutaan tahun lalu menyebabkan sesar atau patahan yang melalui Ciputat hingga Kota.

"Ada indikasi sesar di sana, salah satu buktinya terdapat sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional," kata Profesor Suparka seusai pengukuhannya sebagai Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Kamis (8/6). Meskipun demikian, lanjut Suparka, sesar tersebut sangat tua dan tidak aktif sehingga tidak terlalu mengkhawatirkan.

Satu-satunya dorongan yang dapat menyebabkan sesar tersebut aktif lagi adalah gempa yang berkekuatan di atas 7 skala Richter. Padahal, sepanjang sejarah, belum pernah ada gempa sebesar itu di Jakarta setidaknya dalam 200 tahun terakhir.

"Dari catatan sejarah, tidak pernah ada gempa besar di Jakarta. Memang ada catatan Belanda yang menyebutkan Jakarta pernah diguncang gempa, namun pusatnya jauh dari Jakarta," kata Hery Harjono, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Ia mengatakan catatan Belanda menyebutkan pernah terjadi gempa cukup besar di Jakarta pada 27 Februari 1903.

Bukannya mengkhawatirkan, menurut Hery, sesar tua justru merupakan salah satu tempat penelitian yang menarik untuk menemukan sumber minyak bumi. Selain minyak, sumber air panas yang mungkin muncul juga dapat dimanfaatkan.

"Yang perlu mendapat perhatian lebih besar justru sesar-sesar aktif," imbuh Hery. Misalnya, sesar Lembang di Bandung, sesar Cimandiri di Sukabumi, sesar Baribis yang memanjang dari Subang hingga Purwokerto, selain sesar Opak di Yogyakarta. 
spacer

Tiga Pulau Hilang

Pascagempa berkekuatan 7,2 skala Richter, Rabu lalu, tiga pulau di wilayah Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, dilaporkan hilang. Ketiga pulau, Pulau Jejani, Pulau Malelo, dan Pulau Gosong Sianjei, tidak berpenghuni.
"Meski air surut, pulau-pulau itu tidak terlihat lagi. Mungkin efek dari gempa," kata Kepala Seksi Pengelolaan Pesisir, Pulau- pulau Kecil, dan Konservasi Taman Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NAD Abdul Syakur, yang dihubungi dari Sinabang, Minggu (11/4).
Dia mengatakan, ketiga pulau itu telah lama turun. Seperti Kota Singkil yang mengalami penurunan 80 sentimeter hingga 1,5 meter, ketiga pulau itu juga mengalami penurunan setelah gempa dan tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004. "Ditambah gempa Nias, Maret 2005. Penurunan makin cepat," katanya.
Menurut Syakur, pascagempa dan tsunami di Aceh 2004, setidaknya dua pulau karang tidak berpenghuni hilang.
Sekretaris Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil Sukri Murni mengakui, di beberapa kawasan di sekitar Kota Singkil, terdapat tanah ambles akibat gempa Rabu lalu. Mengenai hilangnya pulau itu, ia mengaku belum mendapat laporan detail.
Dia menjelaskan, ada jalan retak di Desa Kilangan, Kecamatan Singkil. Kerusakan bangunan terjadi di Desa Pemuka. Sejumlah rumah di Desa Kilangan digenangi air sungai karena tanah di kawasan itu ambles 30-60 sentimeter.
Sementara itu, sejumlah warga Desa Batu-batu, Kecamatan Simeulue Timur, dan beberapa desa di Kecamatan Teupah Barat mulai membongkar bangunan rumahnya. Warga membongkar bagian tonggak layar rumah yang sudah miring akibat gempa beberapa hari lalu.
Camat Teupah Barat Uzar yang ditemui di Desa Salur, Sabtu lalu, mengatakan, warga yang rumahnya rusak berat memilih membongkar rumahnya agar bisa segera dibangun dan tidak membahayakan manusia. Warga enggan menunggu bantuan perbaikan rumah karena rumah itu satu-satunya tempat tinggal mereka. "Kecuali yang masih punya sanak saudara, mereka bisa menumpang sementara," katanya.
Berdasarkan data Posko Gempa Kecamatan Teupah Barat, 26 rumah rusak berat, 125 unit rusak sedang, dan 315 rusak ringan.
Banjir bandang
Dari Padang dilaporkan, tanah longsor dan banjir bandang melanda sebagian Kabupaten Agam dan Solok, Sabtu sore, secara nyaris bersamaan.
Tanah longsor terjadi di Jorong Sungai Tampang, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, menimpa tujuh rumah warga. Adapun banjir bandang terjadi di Jorong Guguak Gadusi dan Guguak Sarai, Kecamatan Sungai Lasi, Kabupaten Solok. Akibatnya, 11 rumah yang didiami tergenang air bercampur lumpur dan jalur lalu lintas Sumatera sempat terputus selama satu jam.
Menurut Koordinator Taruna Siaga Bencana Kabupaten Solok Firman, banjir bandang akibat luapan Sungai Aie Timpo juga menggenangi sawah dan rumah warga yang berada sekitar 1,5 kilometer dari air terjun Aie Timpo.
Sumber: Kompas Cetak
spacer

Scuba Diving Cenote Angelita Playa

CENOTE ANGELITA
This dive site is must do for advanced divers who are looking for something a little different. The name means "little angel" in English and there may not be a better way to describe this magical dive site. The setting is perfect as you walk a short distance through the jungle to the rather large hidden away cenote. To describe it simply this cenote does nothing else but go straight down 200 feet. Fresh water with unlimited visibility makes up the first one hundred feet and salt water the other half is separated by a mystical layer of hydrogen sulfate. This layer in the middle appears as a dense cloud from the top and strange colored hue from the bottom. Bring your dive lights, as you will need them if you are going to penetrate through to the bottom. There are not many dives in the world where you can dive in the clouds at 100 feet and see trees, but this is one. The deepest point of this cenote really is at 200 feet so go with the proper gasses in your tanks but more importantly the right guide showing you the best and safest dive possible.
     
 
 
 
  Location: 17 Kilometers South of Tulum  Map of Angelita courtesy of www.underwatereditions.com
  Hours of operation: 8:00am -5:00pm / everyday of the week 
  Bathrooms: None- but plenty of private wooded areas  
  Restaurant on site- nothing even close (bring lunch if you are staying) 
  Distance from gear up to water: 5 min walk through the jungle 
  Cavern Dives: This dive is unlike every other cenote in the Riviera Maya. Yes there is a cavern area in the cenote but unlike others with more open water. This is not a typical cavern dive in the Riviera Maya. Guided cavern tour standards. 
  Cave Dives: There are not any cave passages or penetration cave diving possible here. This is a very big cenote that goes straight down with no side passages at all. This is however a great location to train for decompression diving under the guidance of your local instructor.
  Snorkeling: Easy entries but there is no bottom to look at here. There is some very nice wildlife in this area with a number of turtles and some overhangs to look at but not famous for its snorkeling.. 
   
Special Cenote Dive Angelita:
You must be certified as an Advanced Diver and logged at least 20 dives. A unique feature of this dive is that a layer of hydrogen sulfide separates the fresh water from the salt water below. This mystical cloud is found at about 100 feet (30 m) and stretches down to 110 feet (34 m) We will descend to approx. 130 feet (40 m). An indescribable dive. You have to see it for yourself!
 
Helpful Hint for a more fun experience
Propulsion Techniques:
The following description is one of the recommended techniques for cavern and cave diving the cenotes of the Riviera Maya.
Modified Flutter Kick
Picture provided by S.Gerrard
The Cenotes of the Riviera Maya
 To Purchase this book click on the links "its a Good one to have "

The diver is looking straight ahead, swimming horizontally and moving the ankles only in a casual, alternating style, bending the knees and holding firmly in place. The technique is the most common used in cavern and cave diving.

Rules to follow for all cenote dives:
*No decompression.
*Penetration: max. 200 feet (60m) from opening.
*Depth max. 70 feet   (21m).
*Minimum visibility of 40 feet (12.5 m).
*Large with no restrictions.
*Area with ceiling and some visible light.
Environmental Concerns:
Please help us to preserve these fragile cenotes. Dive gently!
*Take nothing.
*Reduce drag from equipment.
*No grabbing or pulling speleo themes.
*Try not to touch sediments.
Techniques:
Buoyancy & Propulsion:
*Minimize weight and do a buoyancy check before the dive.
*Neutral buoyancy wanted.
*Gentle kicks from the knee and ankle, not the hip.
Body Position:
*Head down slightly, body horizontal
*Mid-water positioning, stay off bottom and top.
Communications:
Light & Hand Signals:
Our Certified Full Cave Guide will go over all signals with you before the dive.


Dikutip dari http://www.cenoteangelita.com/cenote_info.htm
spacer

Ada Sungai di dalam laut....??

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.


Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.


Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.
Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.
Sumber Referensi :
1. Dari Ebook :
BUKTI KEBENARAN QURAN
AL-REHAILI, Abdullah M.
Bukti Kebenaran Quran / oleh Abdullah M. al-Rehaili. – Yogyakarta: Tajidu Press, 2003
160 hlm.
ISBN 979-3I89-01-8
Hak Cipta 2003 pada © Abdullah M. al-Rehaili
Judul Asli: This is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Hadeeth (Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur’an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Alharamain Islamic Poundation, Third Edition, Riyadh, 1999)

2.http://www.cenoteangelita.com/cenote_info.htm

3. Dari Berbagai  Sumber…
spacer