Showing posts with label Geografi Fisik. Show all posts
Showing posts with label Geografi Fisik. Show all posts

Agricultural Geography Survey Report in Ciaruteun Ilir


Kabupaten Bogor sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat perkebunan dan pertanian di Propinsi Jawa Barat. Sebagian besar produksinya dipasarkan di wilayah Jakarta, sisanya lagi dipasarkan ke luar propinsi Jawa Barat dan diekspor ke mancanegara. Lahan yang luas dan subur dengan kualitas sumberdaya manusia yang berpikiran maju merupakan faktor pendukung utama. Namun demikian dengan kondisi lahan yang terbatas dan kemampuan lahan tidak merata, maka pengembangan pertanian, kehutanan dan perkebunan yang berkelanjutan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Faktor pembatas yang umum dijumpai adalah kurangnya informasi dan data yang akurat tentang kondisi sumber daya alam, dimana data dan informasi merupakan instrument yang sangat penting dalam perencanaan pembangunan. Perkembangan penggunaan sumberdaya alam lahan sampai saat ini belum sepenuhnya memberikan kontribusi yang nyata dalam meningkatkan produksi tanaman secara berkerlanjutan khususnya sektor pertanian sub sektor kehutanan dan subsektor perkebunan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lahan bervariasi berdasarkan letak geografis dan topografinya, yang masing-masing sangat mempengaruhi produktifitas tanaman. Diperlukan perencanaan yang matang dalam mengambil keputusan jenis tanaman yang akan ditanam.

1.2. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui syarat pertumbuhan bayam dan kangkung
2. Mengetahui pedoman teknis budidaya
3. Mengetahui komoditas pemasaran
4. Mengetahui analisis ekonomi budidaya bayam dan kangkung
5. Mangetahui standar produksi
1.3 Sistematika Penulisan
Penulis melakukan penelitian tentang tanaman bayam dengan tujuan utuuk mengetahui pertumbuhan tanaman bayam, dari syarat jenis tanahnya, iklimnya, dan ketinggian tempatnya. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan untuk menggambarkan bagaimana pembibitan, pengolahan media tanam, teknik penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Tidak hanya itu, penulisan ini juga mendeskripsikan bagaimana pemasaran sayuran bayam dan kangkung. Penulisan ini menuliskan tentang analisis ekonomi budidaya tanaman bayam dan kangkung, serta standar produksi kedua komoditas sayuran tersebut.



















BAB II
GAMBARAN UMUM
2.1 Gambaran Umum Wilayah Kajian
Desa Ciaruteun Ilir merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Desa Ciaruteun Ilir telah menjadi desa binaan Bina Desa BEM KM IPB sejak pertama kali terbentuk, yaitu pada tahun 2007. Letaknya sekitar 8 km di sebelah barat Kampus IPB Darmaga. Desa ini merupakan daerah dataran tinggi dengan tingkat suhu rata-rata 24 – 40oC. Curah hujan rata-rata per tahun sekitar 130 mm. Kondisi tersebut membuat Desa Ciaruteun Ilir cocok digunakan untuk budidaya sayuran seperti tanaman bayam.
Luas wilayah Desa Ciaruteun Ilir secara keseluruhan adalah 319 ha yang terbagi dalam 4 dusun, 10 Rukun Warga (RW), dan 35 Rukun Tetangga (RT). Batas wilayah Desa Ciaruteun Ilir adalah sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Rumpin
- Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Ciampea
- Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Leuweng Kolot
- Sebelah barat berbatasan dengan Desa Cijujung
Sebagian besar wilayah Desa Ciaruteun Ilir digunakan untuk lahan pertanian, yaitu sebesar 200 ha. Sedangkan sisanya digunakan untuk kebun, pemukiman dan fasilitas lainnya.

2.2 Gambaran Umum Komoditas
2.2.1 Kangkung

2.2.1.1. Sejarah Singkat
Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika.

2.2.1.2. Sentra Penanaman
Kangkung banyak ditanam di Pulau Jawa khususnya di Jawa Barat, juga di Irian Jaya di Kecamatan Muting Kabupaten Merauke kangkung merupakan lumbung hidup sehari-hari. Di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar tanaman kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk konsumsi keluarga maupun untukdijual ke pasar.
2.2.1.3. Jenis Tanaman
Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-kangkungan). Kedudukan tanaman kangkung dalam sistematika tumbuh-tumbuhan diklasifikasikan ke dalam:
a) Divisio : Spermatophyta
b) Sub-divisio : Angiospermae
c) Kelas : Dicotyledonae
d) Famili : Convolvulaceae
e) Genus : Ipomoea
f) Species : Ipomoea reptans
Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih. Kangkung yang dikenal dengan nama Latin Ipomoea reptans terdiri dari 2 (dua) varietas, yaitu Kangkung Darat yang disebut Kangkung Cina dan Kangkung Air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa atau parit-parit.
Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air:
Warna bunga.(Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunga putih bersih.)
Bentuk daun dan batang.(Kangkung air berbatang dan berdaun lebih besar dari pada kangkung darat. Warna batang berbeda. Kangkung air berbatang hijau, sedangkan kangkung darat putih kehijau-hijauan.)
Kebiasaan berbiji. (Kangkung darat lebih banyak berbiji dari pada kangkung air. Itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat biji, sedangkan kangkung air dengan stek pucuk batang.)
2.2.1.4.Manfaat Tanaman
Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan pucuk-pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Kangkung selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan.Disamping itu hewan juga menyukai kangkung bila dicampur dalam makanan ayam, itik, sapi, kelinci dan babi.Seorang pakar kesehatan Filipina: Herminia de Guzman Ladion memasukkan kangkung dalam kelompok “Tanaman Penyembuh Ajaib”, sebab berkhasiat untuk penyembuh penyakit “sembelit” juga sebagai obat yang sedang “diet”. Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit “wasir”
2.2.2 Bayam
2.2.2.1. Sejarah Singkat
Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spp. Kata "amaranth" dalam bahasa Yunani berarti "everlasting" (abadi). Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika tropik. Tanaman bayam semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya. Tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri masuk ke wilayah Indonesia.
2.2.2.2. Sentra Penanaman
Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479 hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar). Propinsi lainnya berada pada kisaran luas panen antara 13.0-2.376 hektar. Di Indonesia total luas panen bayam mencapai 31.981 hektar atau menempati urutan ke-11 dari 18 jenis sayuran komersial yang dibudidayakan dan dihasilkan oleh Indonesia. Produk bayam nasional sebesar 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal per hektar.
2.2.2.3. Jenis Tanaman
Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60 genera, terbagi dalam sekitar 800 spesies bayam (Grubben, 1976). Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan jenis bayam dibedakan atas 2 macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar dikenal 2 jenis, yaitu bayam tanah (A. blitum L.) dan bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya berwarna merah dan daunnya kaku (kasap).
Jenis bayam budidaya dibedakan 2 macam, yaitu:
a. Bayam cabut atau bayam sekul alias bayam putih (A. tricolor L.). Ciri-ciri bayam cabut adalah memiliki batang berwarna kemerah-merahan atau hijau keputih-putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang batangnya putih disebut bayam putih.
b. Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.). Ciri-ciri bayam ini adalah memiliki daun lebar-lebar, yang dibedakan atas 2 spesies yaitu:
1. A. hybridus caudatus L., memiliki daun agak panjang dengan ujung runcing, berwarna hijau kemerah-merahan atau merah tua, dan bunganya tersusun dalam rangkaian panjang terkumpul pada ujung batang.
2. A. hibridus paniculatus L., mempunyai dasar daun yang lebar sekali, berwarna hijau, rangkaian bunga panjang tersusun secara teratur dan besar-besar pada ketiak daun.
Varietas bayam unggul ada 7 macam yaitu; varietas Giri Hijau, Giti Merah, Maksi, Raja, Betawi, Skop, dan Hijau. Sedangkan beberapa varietas bayam cabut unggul adalah Cempaka 10 dan Cempaka 20.
2.2.2.4. Manfaat Tanaman
Bayam merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh semua lapisan masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayur, bahkan disajikan sebagai hidangan mewah (elit). Di beberapa negara berkembang bayam dipromosikan sebagai sumber protein nabati, karena berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi maupun pelayanan kesehatan masyarakat.
Manfaat lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional, dan juga untuk kecantikan. Akar bayam merah dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit disentr. Daun dan bunga bayam duri berkhasiat untuk mengobati penyakit asma dan eksim. Bahkan sampai batas tertentu, bayam dapat mengatasi berbagai jenis penyakit dalam. Untuk tujuan pengobatan luar, bayam dapat dijadikan bahan kosmetik (kecantikan). Biji bayam digunakan untuk bahan makanan dan obat-obatan. Biji bayam dapat dimanfaatkan sebagai pencampur penyeling terigu dalam pembuatan roti atau dibuat bubur biji bayam. Ekstrak biji bayam berkhasiat sebagai obat keputihan dan pendarahan yang berlebihan pada wanita yang sedang haid.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Syarat Pertumbuhan
3.1.1 Syarat Pertumbuhan Kangkung
3.1.1.1. Iklim
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin
Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun.
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.
Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.
3.1.1.2. Media Tanam
Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah.
Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.
Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.
3.1.1.3. Ketinggian Tempat
Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk.
3.1.2 Syarat Pertumbuhan Bayam
3.1.2.1. Iklim
a. Keadaan angin yang terlalu kencang dapat merusak tanaman bayam khususnya untuk bayam yang sudah tinggi. Kencangnya angin dapat merobohkan tanaman.
b. Karena tanaman bayam cocok ditanam di dataran tinggi maka curah hujannya juga termasuk tinggi sebagai syarat pertumbuhannya. Curah hujannya bisa mencapai lebih dari 1.500 mm/tahun.
c. Tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Kebutuhan akan sinar matahari untuk tanaman bayam cukup besar. Pada tempat yang terlindungi (ternaungi), pertumbuhan bayam menjadi kurus dan meninggi akibat kurang mendapat sinar matahari penuh.
d. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16-20 derajat C.
e. Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40-60%.
3.1.2.2. Media Tanam
a. Tanaman bayam menghendaki tanah yang gembur dan subur. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman bayam adalah yang penting kandungan haranya terpenuhi.
b. Tanaman bayam termasuk peka terhadap pH tanah. Bila pH tanah di atas 7 (alkalis), pertumbuhan daun-daun muda (pucuk) akan memucat putih kekuning-kuningan (klorosis). Sebaliknya pada pH di bawah 6 (asam), pertumbuhan bayam akan merana akibat kekurangan beberapa unsur. Sehingga pH tanah yang cocok adalah antara 6-7.
c. Tanaman bayam sangat reaktif dengan ketersediaan air di dalam tanah. Bayam termasuk tanaman yang membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhannnya. Bayam yang kekurangan air akan terlihat layu dan terganggu pertumbuhannya. Penanaman bayam dianjurkan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau.
d. Kelerengan lahan untuk budidaya tanaman bayam adalah sekitar 15-45 derajat.
3.1.2.3. Ketinggian Tempat
Dataran tinggi merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam. Ketinggian tempat yang baik yaitu ±2000 m dpl.
3.2 Pedoman Teknik Budidaya
3.2.1 Pedoman Teknik Budidaya Kangkung
3.2.1.1 Pembibitan
3.2.1.1.1 Persyaratan Bibit Kangkung Darat
Dalam pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Karena kalau kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk.
Bibit kangkung sebaiknya berasal dari kangkung muda, berukuran 20 -30 cm. Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang, kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik.
3.2.1.1.2 Penyiapan Benih
a) Benih kangkung yang akan ditanam adalah stek muda, berukuran 20-30 cm, dengan jarak tanam 1,5 x 15 cm.
b) Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua.
c) Benih yang diperlukan untuk seluas 10 m2 atau 2 bedengan ± 300 gram, jika tiap lubang diisi 2-3 butir biji.
3.2.1.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Biji dengan ukuran diameter 3 mm, disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm dengan jarak kira-kira 5 cm antara masing-masing biji. Kultivar yang berbiji dapat tahan tanah lembab dan tumbuh baik dalam musim hujan.
3.2.1.1.4. Pemeliharaan Pembenihan/Penyemaian
Agar diperoleh hasil panen yang baik, dalam pemeliharaan pembenihan kangkung diperlukan penyiraman teratur dan kerap pada cuaca kering.
3.2.1.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1.2.1. Persiapan
Kangkung air membutuhkan tempat-tempat yang ada genangan air. Bertanam kangkung memerlukan tanah yang diberi pupuk kompos, kemudian dibuatkan petak-petak/bedengan seperti tanaman sayuran lain. Tentang panjang bedengan, tergantung kondisi lahan. Kemudian siapkan tugal dan tancapkan di atas bedengan dengan jarak 20 x 20 cm.
3.2.1.2.2. Pembukaan Lahan
Tiga minggu sebelum melakukan penanaman kangkung, sebaiknya tanah diolah terlebih dahulu. Kemudian tanah dicampur dengan pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar, diberi air dengan ketinggian 5 cm, dibiarkan tergenang air dan diberi urea 1 kuintal per hektar

3.2.1.2.3. Pembentukan Bedengan
Pembentukan bedengan untuk tanaman kangkung dapat dilakukan dengan ukuran lebar 0,8-1,2 m, panjang 3-5 m, dalam ± 15-20 cm dan jarak antar bedeng 50 cm dengan membuat selokan. Ukuran tersebut dapat disesuaikan, tergantung keadaan lahan yang tersedia. Bedengan dibuat untuk kelancaran pemasukan dan pembuangan air yang berlebih serta untuk memudahkan pemeliharaan dan kegiatan lain. Ada pula yang membuat bedengan dengan ukuran panjang kali lebar: 2×1 m dengan kedalaman drainase 30×30 cm.
3.2.1.2.4. Pemupukan
Pemupukan bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang, yang diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan). Selain itu juga diberikan pupuk urea, seminggu setelah tanam, kemudian 2 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian disiram pada pangkal tanaman dengan ember penyiram.
Pada waktu melakukan pemupukan, lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4 sampai 5 hari. Kemudian diairi kembali.
Pupuk yang diperlukan adalah sebagai berikut: 10-20 ton/ha rabuk organik dan 100-250 kg/ha urea, diberikan selama 2 minggu pertama, dengan cara disiramkan.
3.2.1.2.5. Lain-lain
Agar tanaman kangkung dapat berproduksi secara memuaskan, perlu dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang tanah, kacang hijau, kacang buncis, kecipir atau ketimun.
3.2.1.3. Teknik Penanaman
3.2.1.3.1 Penentuan Pola Tanam
Penentuan pola tanam dapat disesuaikan dengan luas lahan yang akan ditanami. Apabila bedengan dibuat dengan ukuran 2×1 m, maka bila jarak tanamnya ditentukan 20×20 cm, maka dalam satu bedengan terdapat sebanyak 50 lubang atau 50 rumpun kangkung.

3.2.1.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan dengan cara ditugal, yang berjarak 20×20 cm, sedalam ± 5 cm. Setiap bedengan dapat ditentukan jumlah lubangnya (tergantung ukuran bedengan).
3.2.1.3.3. Cara Penanaman
Penanaman kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00. Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat udara kering sehingga benih cepat berkecambah.
3.2.1.4. Pemeliharaan Tanaman
3.2.1.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Bila tanaman kangkung terlalu lebat/sangat berdesakan dalam satu rumpun maka diperlukan penjarangan. Apabila tanaman banyak yang mati, maka segera dilakukan penyulaman (diganti dengan bibit yang baru yang telah disiapkan).
3.2.1.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Penyiangan dilakukan setiap 2 minggu.
3.2.1.4.3. Pembubunan
Pembumbunan dilakukan untuk mendekatkan unsur hara bagi tanaman kangkung sehingga dapat mempermudah akar tanaman untuk mentransfernya. Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu.
3.2.1.4.4. Perempalan
Bagi tanaman kangkung sebagai penghasil daun dan batang, perempalan tidak dibutuhkan, sebab perempalan adalah penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak berguna, yang akan menghambat pertumbuhan tanaman.
3.2.1.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk urea. Pupuk urea diberikan hanya sekali dengan cara dilarutkan dalam air lalu disiram pada tanaman kangkung. Perlu diperhatikan agar pada waktu menebar pupuk jangan sampai ada butir pupuk yang tersangkut atau menempel pada daun, sebab akan menyebabkan daun menjadi layu. Gunakan sapu lidi setiap selesai menabur pupuk.
3.2.1.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Selama tidak ada hujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk mencegah tanaman kangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi (jam 07.00) dan sore (jam 17.00). Penyiraman dilakukan dengan gembor penyiram. Tanaman kangkung membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya.
3.2.1.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Tanaman kangkung darat yang terkena ulat berwarna putih yang berada pada helai daun sebelah bawah sehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning. Untuk penanggulangannya disemprotkan Baysudin dengan dosis 2 cc per liter air, yang disemprotkan sore hari.
Untuk memberantas ulat daun yang sering menyerang tanaman kangkung, digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman.
Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.
3.2.1.4.8. Pemeliharaan Lain
Agar pertumbuhan subur, sebaiknya seminggu setelah atau sebelum panen, tanaman dipupuk urea kembali.
3.2.1.5. Hama dan Penyakit
3.2.1.5.1. Hama
Hama yang banyak menyerang tanaman kangkung umumnya relatif tidak ganas, antara lain: belalang dan ulat daun. Pengendalian: untuk mencegah terjadi over populasi, semprotkan Sevin atau sejenisnya. Untuk memberantas ulat daun ini digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman. Pada waktu membasmi hama, sebaiknya lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4-5 hari. Kemudian diairi kembali.
3.2.1.5.2. Penyakit
Tanaman kangkung tahan terhadap penyakit dan hanya memerlukan sedikit perlindungan.
Penyakit jamur yang lazim menyerang tanaman kangkung adalah karat putih (Albugo Ipomoea panduratae). Penyakit ini peka terhadap Dithane M-45 atau Benlate, tetapi bila benih diperlakukan dengan penyiraman dan higiene umumnya baik, penyakit tidak menjadi masalah. Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.
3.2.1.6. Panen
3.2.1.6.1. Ciri dan Umur Panen
Panen pertama sudah bisa dilakukan pada hari ke 12. Saat ini kangkung sudah tumbuh dengan panjang batang kira-kira 20-25 cm. Ada pula yang mulai memangkas sesudah berumur 1,5 bulan dari saat penanaman.
3.2.1.6.2. Cara Panen
Cara pemanenan kangkung air hampir sama dengan kangkung darat. Cara memanen, pangkas batangnya dengan menyisakan sekitar 2-5 cm di atas permukaan tanah atau meninggalkan 2-3 buku tua. Panen dilakukan pada sore hari. Panenan dilakukan dengan cara memotong kangkung yang siap panen dengan ciri batang besar dan berdaun lebar.
Dengan menggunakan alat pemotong. Pemungutan hasil kangkung darat dapat pula dilakukan dengan cara mencabutnya sampai akar, kemudian dicuci dalam air. Panen kangkung darat dilakukan pada umur 27 hari. Selama panen, lahan penanaman harus tetap basah tapi tidak berair (lembab).
3.2.1.6.3. Periode Panen
Panen dilakukan 2-3 minggu sekali. Setiap kali habis panen, biasanya akan terbentuk cabang-cabang baru. Setelah 5 kali panen atau 10-11 kali panen maka produksi kangkung akan menurun baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Jika sudah terlihat berbunga, sisakan ± 2 m2 untuk dikembangkan terus menjadi biji yang kira-kira memakan waktu 40 hari sampai dapat dikeringkan.
3.2.1.6.4. Prakiraan Produksi
Pertanaman kangkung secara komersial menghasilkan sekitar 15 ton/ha sepanjang beberapa panenan berturut-turut atau sekitar 160 kg/tahun/10 m2.
3.2.1.7. Pascapanen
3.2.1.7.1. Pengumpulan
Kangkung yang baru dipanen dikumpulkan dan kemudian disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalam satu ikatan.
3.2.1.7.2 Penyimpanan
Dalam penyimpanan (sebelum dipasarkan), agar tidak cepat layu, kangkung yang telah diikat celupkan dalam air tawar bersih dan tiriskan dengan menggunakan anjang-anjang.
3.2.2. Pedoman Teknik Budidaya Bayam
3.2.2.1. Pembibitan
3.2.2.1.1. Persyaratan Benih
Benih/biji yang baik untuk bertanam bayam adalah dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) berasal dari induk yang sehat,
b) bebas dari hama/penyakit,
c) daya kecambah 80 prosen, dan
d) memiliki kemurnian benih yang tinggi.
Disamping persyaratan seperti yang disebutkan diatas, benih/bibit yang digunakan kalau bisa merupakan benih unggul agar nantinya tahan terhadap hama dan penyakit.
3.2.2.1.2. Penyiapan Benih
Benih Bayam sayur yang ditanam petani kebanyakan swadaya dari tanaman terdahulu yang sengaja dibiarkan tumbuh terus untuk produksi biji. Keperluan benih untuk lahan 1 hektar berkisar antara 5-10 kg, atau 0,5-1,0 gram per m2 luas lahan. Biji dipanen pada waktu musim kemarau dan hanya dipilih tandan yang sudah tua (masak). Tandan harus dijemur beberapa hari, kemudian biji dirontokkan dari tandan dan dipisahkan dari sisa-sisa tanaman. Untuk memproduksi bibit bagi satu hektar kebun yang berisi 25000-40000 tanaman, kemungkinan dibutuhkan sekitar 1-2 kg benih.
3.2.2.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Lahan untuk pembibitan dipilih yang lebih tinggi dari sekitarnya dan bebas dari hama dan penyakit tanaman maupun gulma. Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih bayam disebar merata atau berbaris-baris pada tanah persemaian dan ditutup dengan selapis tanah tipis.
3.2.2.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Dalam pemeliharaan benih/bibit perlu dilakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati. Tanah yang digunakan juga perlu dipupuk agar kesuburannya tetap terjaga. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk kandang. Setelah bibit tumbuh dan ada benih yang terserang hama/penyakit maka perlu disemprot dengan pestisida dengan dosis rendah.
3.2.2.1.5. Pemindahan Bibit
Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7-14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam pot-pot yang terbuat daun pisang atau kantong plastik es mambo yang sebelumnya telah diisi dengan medium tumbuh campuran tanah dan pupuk organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram teratur dan setelah berumur sekitar 7-14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap untuk dipindah-tanam ke lapangan.
3.2.2.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.2.2.1. Persiapan
Sebelum pengolahan lahan dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu pH tanah yang sesuai yaitu antara 6-7 sehingga perlu dilakukan pengukuran dengan menggunakan pH-meter. Selanjutnya menganalisis tanah yang cocok untuk tanaman bayam, apakah perlu dilakukan pemupukan atau tidak. Kapan tanaman akan ditanam dan sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Berapa luas lahan yang akan ditanami dan akan melakukan sistem polikultur atau monokultur. Dan berapa banyak kebutuhan benih untuk dapat memenuhi produk bayam yang diinginkan.
3.2.2.2.2. Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dicangkul/dibajak sedalam 30-40 cm, bongkah tanah dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan. Lahan kemudian dibiarkan selama beberapa waktu agar tanah matang benar.
3.2.2.2.3. Pembentukan Bedengan
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120 cm atau 160 cm, tergantung jumlah populasi tanaman yang akan ditanam nanti. Dibuat parit antar bedengan selebar 20-30 cm, kedalaman 30 cm untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang-lubang tanam, jarak antar barisan 60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.
3.2.2.2.4. Pengapuran
Apabila pH tanah terlalu rendah maka diperlukan pengapuran untuk menaikkannya. Pengapuran dapat menggunakan kapur pertanian atau Calcit maupun Dolomit. Pada tipe tanah pasir sampai pasir berlempung yang pH-nya 5,5 diperlukan ± 988 kg kapur pertanian/ha untuk menaikkan pH menjadi 6,5. Kisaran kebutuhan kapur pertanian pada tanah lempung berpasir hingga liat berlempung ialah antara 1.730-4.493 kg/hektar. Sebaliknya, untuk menurunkan pH tanah, dapat digunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum, biasa sekitar 6 ton/hektar. Cara pemberiannya, bahan-bahan tersebut disebar merata dan dicampur dengan tanah minimal sebulan sebelum tanam.
3.2.2.2.5. Pemupukan
Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu pemupukan dilakukan satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara pemupukan adalah dengan disebarkan merata diatas bedengan kemudian diaduk dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang diberikan per lubanng tanam, cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam. Dosis pemberian pupuk dasar disesuaikan dengan jenis tanaman dan keadaan lahan. Akan tetapi dosis untuk pupuk kandang sekitar 10 ton per hektar. Pemupukan per lubang tanam biasanya diperlukan sekitar 1-2 kg per lubang tanam.
3.2.2.2.6. Pemberian Mulsa
Untuk memperoleh hasil produksi yang berkualitas baik maka di dalam penanaman perlu dipasang palstik perak-hitam sebagai mulsa. Dengan penggunaan plastik ini dapat mengurangi serangan hama dan penyakit termasuk gangguan gulma dan lainnya.
3.2.2.3. Teknik Penanaman
3.2.2.3.1. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm. Jarak tanam tersebut dapat divariasikan sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis bayam sehingga populasi tanaman per hektar berkisar antara 30.000-60.000 tanaman. Pola tanam untuk bayam cabut adalah monokultur. Dalam satu hamparan lahan biasanya ditanam berbagai jenis tanaman dengan pola mosaik (perca), yaitu berbagai tanaman ditanam monokultur pada petak-petak tersendiri. Tanaman lainnya tadi antara lain seperti kakngkung (darat), selada, lobak, paria, kemangi dan sayuran lalapan lainnya.
3.2.2.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60-80 cm dan jarak antar lubang (antar barisan) 40-50 cm.
3.2.2.3.3. Cara Penanaman
Penanaman dapat langsung di lapangan tanpa penyemaian atau dengan penyemaian terlebih dahulu. Apabila tanpa penyemaian maka biji bayam dicampur abu disebarkan langsung di atas bedengan menurut barisan pada jarak antar barisan 20 cm dan arahnya membujur dari Barat ke Timur. Setelah disebarkan benih segera ditutup dengan tanah halus dan disiram hingga cukup basah. Waktu penanaman paling baik adalah pada awal musim hujan. Dengan penyemaian maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik karena benih diperoleh dengan cara seleksi untuk ditanam.
3.2.2.4. Pemeliharaan Tanaman
3.2.2.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Apabila sewaktu menyebar benih secara langsung di lapangan tidak merata maka akan terjadi pertumbuhan yang mengelompok (rapat) sehingga pertumbuhannya terhambat karena saling bersaing satu sama lain. Oleh karena itu perlu dilakukan penjarangan sekaligus sebagai panen pertama. Apabila tanaman bayam dihasilkan dari benih yang disemai maka setelah penanaman di lapangan ada yang mati/terserang penyakit, maka perlu dilakukan penyulaman dengan mengganti tanaman dengan yang baru. Caranya dengan mencabut dan apabila terserang penyakit segera dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman lainnya. Penyulaman dapat dilakukan seminggu setelah tanam.
3.2.2.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila muncul gulma tanaman Gelang (Portulaca oleracea) dan rumput liar lainnya. Kehadiran gulma gelang dapat menurunkan produksi bayam antara 30-65%. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah. Alat yang digunakan dalam penyiangan dapat berupa cangkul kecil atau sabit. Caranya dengan dicangkul untuk mencabut gulma atau langsung dicabut dengan tangan. Disamping itu pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah.
3.2.2.4.3. Pembubunan
Proses pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
3.2.2.4.4. Perempalan
Apabila perawakan tanaman terlalu subur, mungkin perlu dilakukan perempalan tunas-tunas liar dan pemasangan ajir/turus untuk memperkuat tegaknya tanaman agar tidak rebah.
3.2.2.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, untuk tiap lubang calon tanaman sekitar 0,4-0,8 kg. Dengan demikian kuantum pupuk organik akan berkisar 15-30 ton. Untuk pertanaman di dataran rendah bekas sawah, pupuk organik tidak diberikan, tinggi bedengan perlu ditambah dan dalamnya parit antar bedengan perlu diperdalam. Pupuk organik yang diberikan adalah pupuk N (Urea sekitar 250 kg/ha atau ZA 500 kg/ha) cara dilarutkan dalam air ± 25 gram/10 liter air, TSP 300 kg/ha dan KCl 200 kg/ha. N diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan yang setengahnya lagi pada umur 30 hari setelah tanam. Apabila ternyata nanti pertumbuhan tanaman kurang subur, dapat dipertimbangkan untuk memberi pupuk N susulan dengan takaran sekitar 125 kg/ha, interval sekitar 30 hari dan dihentikan 30 hari sebelum panen. Pupuk P diberikan sekali pada waktu tanam, sedangkan pupuk K diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan setengah lagi pada umur 30 hari setelah tanam.
3.2.2.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1-2 kali sehari, terutama di musim kemarau. Waktu yang paling baik untuk menyiram tanaman bayam adalah pagi atau sore hari, dengan menggunakan alat bantu gembor (emrat) agar air siramannya merata.
3.2.2.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis pestisida yang digunakan untuk tanaman bayam adalah Dithane M-45 dengan dosis 1,5-2 gram/liter air, Ambush 2 EC atau Lannate 2 EC dengan konsentrasi 2 gram per liter air. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan alat penyemprot berupa tangki sprayer. Cara penyemprotan yaitu jangan dilakukan ketika angin bertiup kencang dan jangan menentang arah datangnya angin. Jangan melakukan penyemprotan pada saat akan hujan dan sebaiknya dicampurkan bahan perekat. Waktu penyemprotan dilakukan pada pagi hari benar atau sore hari ketika udara masih tenang. Hal tersebut untuk menghindari matinya lebah atau serangga lainnya yang menguntungkan.
3.2.2.5. Hama dan Penyakit
3.2.2.5.1. Hama
a. Serangga ulat daun (Spodoptera Plusia Hymenia)
Gejala: daun berlubang-lubang. Pengendalian: pestisida/cukup dengan menggoyangkan tanaman.

b. Serangga kutu daun (Myzus persicae Thrips sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida/cukup dengan menggoyangkan tanaman.

c. Serangga tungau (Polyphagotarsonemus latus)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida/cukup dengan menggoyangkan tanaman.

d. Serangga lalat (Liriomyza sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida/cukup dengan menggoyangkan tanaman.
3.2.2.5.2. Penyakit
a. Rebah kecambah
Penyebab: cendawan Phytium sp. Gejala: menginfeksi batang daun maupun batang daun. Pengendalian: Fungisida

b. Busuk basah
Penyebab: cendawan Rhizoctonia sp. Gejala: adanya bercak-bercak putih. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.

c. Karat putih
Penyebab: cendawan Choanephora sp. Gejala: menginfeksi batang daun dan daunnya. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.
3.2.2.5.3. Gulma
Jenis gulma: rumput-rumputan, alang-alang. Ciri-ciri: tumbuh mengganggu tanaman budidaya. Gejala: lahan banyak ditumbuhi pemila liar. Pencegahan: herbisida
3.2.2.6. Panen
3.2.2.6.1. Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25-35 hari setelah tanam. Tinggi tanaman antara 15-20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi.
3.2.2.6.2. Cara Panen
Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman yang sudah optimal. Tanaman yang masih kecil diberi kesempatan untuk tumbuh membesar, sehingga panen bayam identik dengan penjarangan.
3.2.2.6.3. Periode Panen
Panen pertama dilakukan mulai umur 25-30 hari setelah tanam, kemudian panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali. Tanaman yang sudah berumur 35 hari harus dipanen seluruhnya, karena bila melampaui umur tersebut kualitasnya menurun atau rendah; daun-daunnya menjadi kasar dan tanaman telah berbunga.
3.2.2.6.4. Prakiraan Produksi
Produksi bayam per hektar dapat mencapai sekitar 22.630 kg.
3.2.2.7. Pascapanen
3.2.2.7.1. Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat daun layu.
3.2.2.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan bayam yang baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam yang daunnya besar dan yang daunnya kecil. Setelah itu diikat besar-besar maupun langsung degan ukuran ibu jari.
3.2.2.7.3. Penyimpanan
Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam tempat terbuka (suhu kamar) menjadi 12-14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 0 derajat C, misalnya dengan remukan es.
3.2.2.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan menyelimuti seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung sinar matahari. Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan lainnya, seperti mobil atau gerobak.
3.2.2.7.5. Pencucian
Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang disemprotkan melalui selang maupun pancuran.
3.2.2.7.6. Penanganan Lain
Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Sewaktu memasak bayam ialah tidak boleh terlalu lama. Bayam cukup hanya direbus selama ± 5 menit. Memasak bayam terlalu lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur (lonyoh), rasanya tidak enak, dan kandungan vitamin C-nya menguap (menghilang).

3.3 Pemasaran
Menurut Kotler (1997, dalam Sari, 2008) pemasaran adalah suatu proses dan manajerial dimana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapat apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk-produk yang bernilai. Pemasaran memperhatikan hubungan timbal balik yang dinamis antara produk dan jasa perusahaan, keinginan dan kebutuhan konsumen serta aktivitas pesaing.
Rangkuti (2006, dalam Sari, 2008) mendefiniskan pemasaran sebagai proses kegiatan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor sosial, politik, budaya, ekonomi dan manajerial. Akibat dari pengaruh berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas.
Komponen-komponen yang terkandung dalam kegiatan pemasaran antara lain produk, harga, distribusi, dan promosi.
- Produk
Produk secara umum diartikan sebagai sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Artinya apa pun wujudnya, selama itu dapat memenuhi keinginan pelanggan dan kebutuhan kita katakan sebagai produk (Kasmir, 2000)
Daerah penelitian kami memang merupakan daerah yang memiliki komoditi utama hasil pertaniannya adalah sayuran. Dari keenam responden yang kami tanyakan, seluruhnya merupakan petani sayuran yang menghasilkan produk sayur bayam dan kangkung, dan para petani tersebut termasuk petani lokal yang hanya mengolah sawahnya secara tradisional.
- Harga
Harga adalah aspek penting dalam kegiatan bauran pemasaran. Penentuan harga menjadi sangat penting untuk diperhatikan, mengingat, harga sangat menentukan laku tidaknya produk dan jasa. Salah dalam menentukan harga akan berakibat fatal terhadap produk yang ditawarkan. (Kotler, 2000, dalam Suheni, 2005)
Harga jual yang ditawarkan oleh para petani kepada pedagang di pasar sangatlah murah. Mereka menawarkan harga sekitar Rp 200,- untuk setiap ikat bayam dan kangkung yang ditawarkan. Dalam satu hari, mereka rata-rata dapat menjual 50 – 250 ikat (untuk strata bawah – atas). Sehingga penghasilan per bulan yang di dapat oleh petani strata bawah berkisar antara Rp 250.000,- sampai Rp 500.000,- ; untuk petani strata tengah antara Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000,- ; dan petani strata atas antara Rp 1.000.000,- sampai Rp 2.000.000,- .
- Distribusi
Distribusi adalah usaha melalui saluran pemasaran yang dilakukan untuk menyerahkan produk dari perusahaan atau pemasar kepada konsumen. Saluran pemasaran yang dipilih dapat berupa distribusi langsung, distribusi tidak langsung, atau kombinasi keduanya (Kotler dan Amstrong, 1997, dalam Sari, 2008).
Pendistribusian produk pertanian dari keenam responden kita hanya sebatas pada pasar-pasar tradisional di sekitar daerah tempat tinggal mereka. Mereka biasanya menggunakan mobil pick up, motor, atau pikulan untuk membawa hasil pertanian mereka ke pasar, dan yang menjadi penadah sekaligus penjual hasil pertanian mereka di pasar biasanya masih anggota keluarga mereka.
- Promosi
Menurut Stanton (1991, dalam Sari, 2008), promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran.
Kegiatan promosi yang dilakukan oleh keenam responden kita hanya bersifat lokal karena biasanya penjual merupakan keluarga sendiri sehingga tidak perlu adanya kegiatan promosi untuk mendapatkan mitra kerja dalam hal penjualan hasil pertanian. Dalam kegiatan penjualannya pun hanya dilakukan secara tradisional dengan menjajakan barang dagangannya di pasar.
3.4 Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman
3.4.1 Analisis Ekonomi Budidaya Kangkung
3.4.1.1. Analisis Usaha Budidaya
Analisis budidaya kangkung dengan luas lahan 30 m2 selama 3 bulan di daerah Bogor pada tahun 1999. Kangkung dipanen 2 kali/bulan. Rata-rata produksi 200 ikat/panen; produksi total selama 3 bulan=1.200 ikat.
Biaya produksi-
Sewa lahan (3m x 10 m)———————————————Rp.50.000,-
Bibit: 50 ikat @ Rp. 300,——————————————–Rp.15.000,-
Pupuk
- TSP: 2 kg @ Rp. 1.800,———————————————Rp.3.600,-
- Urea: 5 kg @ Rp. 1.500,——————————————–Rp.7.500,-
Pestisida/pembasmi ulat——————————————–Rp.15.000,-
Alat
- Cangkul: 1 buah——————————————————Rp.20.000,-
Tenaga kerja
- Cangkul lahan: 1 OH @ Rp. 10.000,——————————Rp.10.000,-
- Tanam bibit: 1 OH @ Rp. 10.000,———————————Rp.10.000,-
- Panen : 6 kali @ Rp. 10.000,—————————————Rp.60.000,-
Transportasi———————————————————–Rp.25.000,-
Jumlah biaya produksi———————————————-Rp.216.100,-
Pendapatan: 1.200 ikat @ Rp. 400,——————————-Rp.480.000,-

Keuntungan—————————————-Rp.263.900,-
Parameter kelayakan usaha
- B/C rasio——————————————-Rp. = 2,221
3.4.1.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Menurut data statistik tahun 1983, produksi kangkung di Indonesia sebesar 59.110 ton, sedangkan sayuran lain seperti bayam yaitu 50.382 ton dan petsai/sawi 134.804 ton. Harga kangkung di pasar saat ini sekitar Rp.400,- per ikat (tahun 1999).
3.4.2 Analisis Ekonomi Budidaya Bayam
3.4.2.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya tanaman bayam per musim tanam (2-3 bulan) pada lahan seluas 1 hektar dengan jarak tanaman 20 cm x 25 cm di daerah Jawa Barat tahun 1999. Produksi rata-rata 1 kg adalah 10 tanaman atau produksi per hektarnya 16.000 kg.
a. Biaya produksi
1. Sewa lahan per musim
2. Benih: 250 gram
3. Pengolahan tanah
- Membajak (borongan)
- Membuat bedengan 75 HKP @ Rp. 10.000,-
4. Persemaian
- Polybag semai: 25 kg
- Pupuk kandang: 100 kg
- Furadan: 1 kg + Urea: 0,5 kg
- Bambu: 8 batang
- Plastik transparan 40 m
- Tenaga menyemai/menyapih bibit 25 HKW @ Rp. 7.500,-
5. Pupuk
- Pupuk kandang: 20 ton @ Rp. 100.000,-
- NPK: 250 kg @ Rp. 2.000,-
6. Penanaman
- Pemupukan dasar dan buat lubang tanam 25 HKP + 20 HKW
- Pindah tanam 50 HKW + 5 HKP
7. Pemeliharaan
- Siram, penyiangan, pupuk susulan 20 HKP + 20 HKW
- Pestisida
- Tenaga kerja semprot 20 HKP
8. Panen dan pascapanen
- Tenaga kerja panen 15 HKP+20 HKW
- Tenaga kerja pasca panen 5 HKP +10 HKW
9. Biaya tidak terduga

Jumlah biaya produksi


b. Pendapatan: 80% x 16.000 kg @ Rp. 7.500,-
c. Keuntungan bersih per hektar
d. Parameter kelayakan usaha
- Rasio output/input
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.

Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.

Rp.

Rp.
Rp.

=
500.000,-
100.000,-

250.000,-
750.000,-

100.000,-
15.000,-
7.500,-
28.000,-
40.000,-
187.500,-

2.000.000,-
500.000,-

400.000,-
425.000,-

350.000,-
400.000,-
200.000,-

300.000,-
125.000,-
750.000,-

7.428.000,-

9.600.000,-
2.172.000,-

1,292
3.4.2.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sampai saat ini pola pemasaran bayam yang berjalan adalah rantai pemasaran tradisional. Petani produsen menjual hasilnya ke leverensir/tengkulak kebun yang ditugaskan oleh leverensir. Leverensir lalu mengirim hasil langsung ke bandar untuk diteruskan ke pasar-pasar kecil sebagai pengecer yang akhirnya sampai ke konsumen. Dapat pula petani produsen langsung menjual hasilnya ke pengecer setempat. Berarti, tata niaga tersebut belum berjalan dengan efisien. Sistem tata niaga dianggap efisien bila mempunyai 2 syarat:
a) Hasil dari pertani diterima konsumen dengan biaya murah.
b) Harga yang dibayarkan konsumen dibagikan secara adil pada semua pihak yang ikut serta dalam memproduksi dan memasarkan hasil tersebut.
Untuk menghitung besarnya hasil yang diterima petani, tidak terlepas dari perhitungan margin dari lembaga tata niaga yang bersangkut paut. Dasar perhitungan marketing margin ialah penyerahan di konsumen akhir dari semua penerimaan untuk saluran yang sama, yakni terhadap 1 kg sayur yang dijual di konsumen akhir. Biasanya bandar dan pengecer mempunyai penerimaan margin terbesar pada tata niaga rantai panjang. Sedangkan untuk tata niaga rantai pendek, petani dan pengecer mendapatkan margin yang cukup besar. Contohnya, margin yang diterima oleh petani dan lembaga tata niaga di daerah Lembang. Pada tata niaga rantai panjang, petani mendapat bagian sebesar 58,6%. Pada tata niaga rantai pendek petani mendapat bagian 88%, sedangkan lembaga tata niaga mendapatkan hanya 12%.
3.5. Standar Produksi
3.5.1. Ruang Lingkup
Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan.
3.5.2. Diskripsi
3.5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
Menurut persetujuan pembeli dan penjual.
3.5.4. Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan yang ada. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 3 kg dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 3 kg untuk dianalisis. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot adalah :
a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.
b) Jumlah kemasan 101 sampai 300 , contoh yang diambil=7.
c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil= 9.
d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.
e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.
3.5.5. Pengemasan
Menurut persetujuan pembeli dan penjual.


BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Syarat Pertumbuhan Tanaman
Syarat Tumbuh Sayuran
Kangkung Bayam
Iklim Iklim panas dan dingin Iklim lembab
Media Tanam Tanah organik Tanah organik
Ketinggian Tempat Dataran rendah dan tinggi Dataran tinggi
4.2 Pedoman Teknik Budidaya Tanaman
Teknik Budidaya Sayuran
Kangkung Bayam
Pembibitan kangkung muda 20-30 cm benih Bayam
Pengolahan Media Tanam tidak ada pengapuran pengapuran
Teknik Penanaman dilakukan sore hari awal musim hujan
Pemeliharaan Tanaman Sama sama
Hama dan Penyakit belalang, Karat Putih ulat daun, rebah kecambah
Panen hari ke-12 hari ke-25
Pasca Panen 15-20 batang diikat diikat besar-besar/ukuran ibu jari
4.3 Pemasaran
Komponen-komponen yang terkandung dalam kegiatan pemasaran antara lain produk, harga, distribusi, dan promosi.
- Produk
Daerah penelitian kami memang merupakan daerah yang memiliki komoditi utama hasil pertaniannya adalah sayuran. Dari keenam responden yang kami tanyakan, seluruhnya merupakan petani sayuran yang menghasilkan produk sayur bayam dan kangkung, dan para petani tersebut termasuk petani lokal yang hanya mengolah sawahnya secara tradisional.
- Harga
Harga jual yang ditawarkan oleh para petani kepada pedagang di pasar sangatlah murah. Mereka menawarkan harga sekitar Rp 200,- untuk setiap ikat bayam dan kangkung yang ditawarkan. Dalam satu hari, mereka rata-rata dapat menjual 50 – 250 ikat (untuk strata bawah – atas). Sehingga penghasilan per bulan yang di dapat oleh petani strata bawah berkisar antara Rp 250.000,- sampai Rp 500.000,- ; untuk petani strata tengah antara Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000,- ; dan petani strata atas antara Rp 1.000.000,- sampai Rp 2.000.000,- .
- Distribusi
Pendistribusian produk pertanian dari keenam responden kita hanya sebatas pada pasar-pasar tradisional di sekitar daerah tempat tinggal mereka. Mereka biasanya menggunakan mobil pick up, motor, atau pikulan untuk membawa hasil pertanian mereka ke pasar, dan yang menjadi penadah sekaligus penjual hasil pertanian mereka di pasar biasanya masih anggota keluarga mereka.
- Promosi
Kegiatan promosi yang dilakukan oleh keenam responden kita hanya bersifat lokal karena biasanya penjual merupakan keluarga sendiri sehingga tidak perlu adanya kegiatan promosi untuk mendapatkan mitra kerja dalam hal penjualan hasil pertanian. Dalam kegiatan penjualannya pun hanya dilakukan secara tradisional dengan menjajakan barang dagangannya di pasar.


4.4 Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman
Analisis Ekonomi Budidaya Sayuran
Kangkung Bayam
Analisis Usaha Budidaya contoh: Analisis budidaya kangkung dengan luas lahan 30 m2 selama 3 bulan di daerah Bogor pada tahun 1999. Kangkung dipanen 2 kali/bulan. Rata-rata produksi 200 ikat/panen; produksi total selama 3 bulan=1.200 ikat. Perkiraan analisis budidaya tanaman bayam per musim tanam (2-3 bulan) pada lahan seluas 1 hektar dengan jarak tanaman 20 cm x 25 cm di daerah Jawa Barat tahun 1999. Produksi rata-rata 1 kg adalah 10 tanaman atau produksi per hektarnya 16.000 kg.
Gambaran Peluang Agrobisnis Menurut data statistik tahun 1983, produksi kangkung di Indonesia sebesar 59.110 ton, sedangkan sayuran lain seperti bayam yaitu 50.382 ton dan petsai/sawi 134.804 ton. Harga kangkung di pasar saat ini sekitar Rp.400,- per ikat (tahun 1999). Sampai saat ini pola pemasaran bayam yang berjalan adalah mata rantai pemasaran tradisonal. Untuk menghitung besarnya hasil yang diterima petani, tidak terlepas dari perhitungan margin dari lembaga tata niaga yang bersangkut paut.

4.5 Standar Produksi
1. Klasifikasi dan Standar Mutu
Menurut persetujuan pembeli dan penjual.
2. Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan yang ada. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 3 kg dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 3 kg untuk dianalisis. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot adalah :
a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.
b) Jumlah kemasan 101 sampai 300 , contoh yang diambil=7.
c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil= 9.
d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.
e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.
3. Pengemasan
Menurut persetujuan pembeli dan penjual.










DAFTAR PUSTAKA

a) Hadisoeganda, A. Widjaja W. 1996. Bayam Sayuran Penyangga Petani di Indonesia. Monograf No. 4. BPPP. Lembang, Bandung.
b) Prasojo, B. Joko. 1984. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.
c) Rahardi, F., CS. 1993. Agribisnis Tanaman Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta.
d) Rukmana, Rahmat. 1994. Bayam Bertanam & Pengolahan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.
e) Setiawan, Ade Iwan. 1995. Sayuran Dataran Tinggi Budidaya dan Pengaturan Panen. Penebar Swadaya. Jakarta.
f) Transdigit, Kamus Inggris Indonesia. 2007. http://www.transdigit.com/dictionary.
g) Kangkung darat dan kangkung air. Trubus, no. 186, tahun XVI – Mei ’85.

h) Adiwidjaja, Rahmat, dkk. (1997). Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kangkung Darat (Ipomoeae reptans) kultivar sutera pada Inceptisols Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran Fakultas Pertanian UNPAD
.
i) Anonim. (199?). Kangkung. ASRI.

j)Eko Widiyanto. (1991). Sinar Tani. Bercocok Tanam Kangkung Darat. Sinar Tani.

k)Git. (1993). Kangkung Darat Dua Puluh Hari Sudah Bisa Dipanen.

l)Hieronymus Budi Santoso (1990). Kangkung Darat Kangkung Air. Suara Karya Minggu.

m)Mulya, Sarja (1979). Kangkung Darat. Majalah Trubus.

n)Pupon. (1992). Manfaat Tanaman Kangkung Darat. Sinar Tani.

o)Rahmat. (1992). Meningkatkan Pendapatan Petani Melalui Budidaya Kangkung. Sinar Tani.

p)Sidi; Aji. (1993). Membudidayakan Kangkung Secara Intensif. Minggu Pagi.

q)Zailani, Kadir, dkk. (1993). Estimasi Penggunaan Pupuk Urea pada Percobaan Penanaman

r)Kangkung Darat (Ipomoea reptans POIR) di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Laporan Penelitian. Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.

s)http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kangkung.html
















LAMPIRAN

Gambar 1. Ladang salah satu petani


Gambar 2. Kegiatan pendistribusian hasil pertanian

Gambar 3. Ladang Kangkung dan Bayam Salah Satu Petani

Gambar 4. Ladang Kangkung Para Petani

Gambar 5. Petani sedang mengairi ladang kangkung



Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian
spacer

Sistem Klasifikasi Tanah


Dalam jenis dan sifat tanah sangat bervariasi, hal ini ditentukan oleh – perbandingan banyaknya fraksi-fraksi (kerikil, pasir, lanau dan lempung), sifat plastisitas butir halus. Klasifikasi bermaksud membagi tanah menjadi beberapa golongan tanah dengan kondisi dan sifat yang mirip diberi simbul nama yang sama. Ada berbagai macam klasifikasi tanah, antara lain:
A.     Bonita

Pelopor : Thaer (Jerman) Tahun 1809

Dasar : kesuburan pertumbuhan jenis tanaman (weizenboden, Gerstenboden, Haferboden)

Kelemahan : bersifat statik, hanya berdasarkan satu atau dua sifat tanah hasil pengamatan, yang diamati hanya pada lapisan permukaan saja



B.      Geologi

v  Pelopor : Fallou (1962) Jerman

v  Dasar : petrografi, mineralogi, geomorfologi

v  Klasifikasi :

1)      Fragmen batuan (batu diam, timbunan batu gunung dan tebing, bukit batu gunung, batuan lapuk, sisa pelarutan)

2)      Tanah Endapan (endapan sungai, endapan halus air tanah daratan, endapan kimia air tawar, tanah marine, tanah glasial, tanah vulkanik, endapan aeolis/pasir)



C.      Hasil Laboratorium

v  Pelopor : Ramann (1811) Jerman

v  Atas dasar tekstur dan susunan kimia tanah

v  Kelemahan : walaupun bermanfaat bagi pemupukan, namun tidak semua zat hara tanaman yang ada dalam tanah siap diserap tanaman.

v  Berkembang : kelas. Tanah atas dasar unsur N, kadar K-total, dan kadar P2O5





D.     Genetik

v  Pelopor : Dokuchaev (1879) Russia

v  Dasar : jenis tanah termasuk bagian geologi. Berkembang : persebaran jenis tanah mengikuti zone iklim

v  Klasifikasi Dokuchaev :

1)      Tanah zonal (laterit, debu atmosferik, steppe gurun, hutan kelabu, podzol rumput, tundra)

2)      Tanah Intrazonal (tanah garam, gambut, karbonat-kapur humus)

3)      Tanah Azonal (Tanah kerangka, tanah kasar, tanah aluvial)



E.      Morfologi

v  Pelopor : USDA (AS) tahun 1939 dan 1949

v  Atas dasar : morfologi tanah

v  Klasifikasi Tanah :

1)      Orde (kategori IV), yakni berdasarkan zone dimana terdapat horizon karakteristik (ada/tdknya horison).

2)      Suborder (kategori V) : berdasarkan tipe iklim suatu wilayah (cold zone, arid region, sub-humid, humid grassland, forest grassland, tropical regions, marsh swamp.

3)      Great grup (kategori IV) : berdasarkan tipe wilayah dan jenis tanah utama, sifat mineralogi, kimia, kelembaban tanah) Family :berdasarkan tempat, warna horison, tebal horison.

4)      Series : adanya susunan horison dan profil tanah

5)      Tipe : tekstur





Kesimpulan:

   1. Kelemahan sistem klasifikasi tanah Bonita: bersifat statik, hanya berdasarkan satu atau dua sifat tanah hasil pengamatan, yang diamati hanya pada lapisan permukaan saja
   2. Kelemahan sistem klasifikasi tanah hasil laboratorium: walaupun bermanfaat bagi pemupukan, namun tidak semua zat hara tanaman yang ada dalam tanah siap diserap tanaman.
   3. Kelemahan sistem klasifikasi tanah Morfologi: hanya berdasarkan pada bentukan morfologi tanah (hanya dari saru variabel)

sumber gambar: http://www.purbakala.jawatengah.go.id/images/upload/tanah2.jpg
spacer

Murid SMP Temukan Goa Misterius di Mars

Rabu, 23 Juni 2010 | 08:45 WIB
CALIFORNIA, KOMPAS.com — Sekelompok murid kelas VII—setara kelas I sekolah menengah pertama—menemukan goa misterius di Planet Mars. Saat itu, mereka tengah mengerjakan proyek riset guna mempelajari citra yang diambil pesawat ruang angkasa NASA yang mengorbit di planet merah itu. Temuan itu berupa penampakan yang diduga merupakan lubang pada atap goa.

Keenam belas anak tersebut merupakan murid kelas sains dari Dennis Mitchell, guru kelas VII di Evergreen Middle School di Cotton Wood, California. Para murid itu tengah berpartisipasi dalam kegiatan Mars Student Imaging Program di Mars Space Flight Facility di Arizona State University.

Murid-murid diminta membuat semacam proposal riset dan kemudian diperbolehkan menggunakan kamera yang tengah mengorbit di Mars untuk mengambil gambar guna menjawab pertanyaan riset mereka.

Lubang yang mirip dengan temuan baru itu pernah ditemukan sebelumnya di bagian lain Mars pada 2007 oleh Glen Cushing, seorang ahli geologi asal Amerika. Cushing berpandangan, citra yang ditangkap itu menyerupai "lubang atap", tempat sebagian dari atap goa atau lubang aliran lava runtuh.

Liang itu diduga diakibatkan oleh aktivitas vulkanik di planet merah. Pada suatu masa, aliran lava keluar dari permukaan batuan dan meninggalkan bekas berupa liang setelah erupsi usai.

Ujung lubang itu tertutup oleh material yang mendingin dan sebagian "pipa" bekas aliran lava itu bisa saja ada yang ambruk.

Sejauh ini, para ilmuwan belum dapat memastikan jenis material yang tersimpan di dalam goa itu. "Lubang ini baru bagi kami para ilmuwan," ujar Cushing kepada para murid. Dia memperkirakan ukuran lubang itu 190 meter x 160 meter dan kedalamannya 115 meter.

Memburu aliran lava
Riset para murid itu bertujuan memburu pipa lava yang merupakan fenomena vulkanik di Bumi dan Mars.

"Mereka mengembangkan sebuah proyek riset dengan fokus menemukan lokasi "pipa" lava yang paling lazim di Mars. Apakah fenomena itu paling sering terjadi di puncak, sisi, atau dataran sekitar gunung," ujar Mitchell, guru mereka.

Mereka lalu meneliti sebuah foto utama dan cadangan dari Pavonis Monsvolcano (gunung) di Mars. Gambar itu diambil oleh alat penangkap citra Thermal Emission Imaging System (THEMIS) dari Odyssey, milik NASA yang sedang mengorbit. Foto cadangan yang mereka teliti malah memberikan kejutan: sebuah citra bundar gelap. Citra itu merupakan lubang di Mars yang mengarah kepada adanya goa terkubur di planet itu.

Temuan itu akan diperjelas lagi menggunakan kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) pada Mars Reconnaissance Orbiter. Alat itu bisa menampilkan lebih banyak detail guna melihat ke dalam lubang itu. (SPACE.com/INE)
spacer

Karst Citatah

Jika tak Ditata, Karst Citatah Bisa Habis dalam Sepuluh Tahun

NGAMPRAH, (PRLM).- Pemerintah Kabupaten Bandung Barat harus serius menyiapkan konsep untuk menata kawasan karst Citatah. Selain berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan pengetahuan, keberadaan karst ini juga menyokong penghidupan masyarakat sekitar.
”Kalau tidak segera mengambil sikap, mungkin karst Citatah akan habis seluruhnya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun,” kata anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar, Senin (24/5).
Dia mengatakan, saat ini, sekitar tujuh puluh persen alam di kawasan karst Citatah diperkirakan berada dalam kondisi rusak. Hal itu terjadi karena eksploitasi yang tidak terkendali. Pentingnya keberadaan karst itu mengharuskan pemerintah memberikan perhatian serius.
Menurut dia, karst Citatah yang diperkirakan terbentuk sejak tiga puluh juta tahun lalu itu, merupakan wahana pengetahuan bagi banyak kalangan. Sementara dari sisi lingkungan, keberadaannya berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.
Namun, penambangan kapur liar dan tidak terkendali membuat keberadaan karst makin terkikis. Masyarakat sekitar menjadikannya sebagai mata pencaharian yang berlangsung turun-temurun. Dia menilai, pemerintah memiliki fungsi kontrol dalam melestarikan keberadaan karst Citatah.
Kepala Seksi Pertambangan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bandung Barat Oong Dermawan mengatakan, jika ditutup secara tiba-tiba, khawatir akan terjadi reaksi di tengah masyarakat. ”Perlu tindakan hati-hati, soalnya ini berkaitan dengan perut masyarakat,” katanya.
Tahun ini, terdapat sedikitnya sembilan perusahaan yang mengajukan izin penambangan baru. (A-179/das)***
Adapted from : http://www.pikiran-rakyat.com/node/114304
spacer

Fenomena La Nina

PEMANFAATAN FENOMENA LA NINA
UNTUK MENDUKUNG SISTEM IRIGASI PERTANIAN
LAHAN TADAH HUJAN DI KALIMANTAN BARAT
PADA TAHUN 2010


Wido Cepaka Warih, 0906515105
Departemen Geografi FMIPA Universitas Indonesia
2010




ABSTRAK


La Nina merupakan salah satu anomali cuaca yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Hal ini diakibatkan karena kondisi suhu di perairan Indonesia dan perairan di dekat imdomesia hangat dan suhu di daerah samudera pasifik cukup ekstrim. Dengan kondisi suhu permukaan air laut yang hangat tersebut maka kemungkinan untuk melakukan presipitasi semakin besar dan mengakibatkan turunnya hujan di wilayah Indonesia. Fenomena El Nino 2009-2010 baru saja menghilang sekitar Februari 2010 dan diperkirakan mulai awal Mei 2010 dapat diketahui berubah menuju La Nina. Perubahan sangat cepat ini tergolong ekstrem karena lazimnya terjadi pada periode 2-6 tahun (menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika / BMKG). Diperkirakan juga La Nina akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus 2010. Hal tersebut bisa berpotensi terjadinya banjir di sejumlah daerah juga di kota-kota besar. Tidak hanya memandang hazard (bencana) yang ditimbulkan dari La Nina seperti terjadinya banjir dan tanah longsor, tetapi fenomena ini bisa sebagai sumber daya bagi pertanian, misalnya sebagai sumber irigasi di lahan-lahan tadah hujan. Dengan adanya curah hujan yang cukup fluktuatif saat sekarang ini (kira-kira akan berlangsung sampai September 2010) maka bisa dimanfaatkan bagi penduduk yang mempunyai lahan-lahan tadah hujan sebagai sumber pengairan dan juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. La Nina bagaikan pedang bermata dua, di mana bisa menjadi hazard (bencana) dan resources (sumber daya).

Kata kunci: La Nina, lahan tadah hujan, irigasi



PENDAHULUAN

Pada Juni ini sesungguhnya di Indonesia telah memasuki kemarau. Namun, di beberapa wilayah masih terjadi banyak hujan yang bersifat sporadis dengan intensitas tinggi. Hal ini merupakan dampak dari anomali suhu muka laut yang terjadi di wilayah Indonesia dan di ekuator Pasifik. Kepala Bidang Klimatologi dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Endro Santoso mengatakan, saat ini sebagian besar wilayah perairan Indonesia masih hangat. Peningkatan suhu antara 0,5 dan 1,3 derajat celsius. Menghangatnya suhu muka laut menyebabkan tingginya penguapan sehingga banyak terbentuk awan hujan yang intensif. Sementara itu, pengaruh El Nino—menghangatnya suhu muka laut di sebelah timur ekuator Pasifik—yang terjadi sejak medio tahun lalu sekarang tidak terpantau lagi. Suhu muka laut saat ini dalam kondisi normal.
Proses penurunan suhu telah terlihat sejak Februari. El Nino meluruh sekitar akhir Mei dan awal Juni, bahkan sekarang ada kecenderungan La Nina. Kebalikan dengan El Nino, saat fenomena La Nina, suhu muka laut di barat wilayah khatulistiwa Pasifik mendingin. Mendinginnya suhu muka laut menimbulkan tekanan udara yang tinggi. Sebaliknya, Indonesia yang berada di timur Pasifik mengalami tekanan udara yang rendah akibat menghangatnya suhu muka laut di sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan massa udara dari barat Pasifik tengah masuk ke wilayah Indonesia sehingga terjadi konvergensi massa udara yang intensif. Kecenderungan ini telah terjadi sejak masa awal kemarau.
Wilayah yang akan mengalami cukup hujan adalah Kalimantan Barat, bagian utara Kalimantan Tengah, dan wilayah selatan Kalimantan Timur. Curah hujan yang memadai dialami Sulawesi Tenggara, sebagian Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Kecukupan hujan juga akan terjadi di Maluku bagian tengah, seperti Pulau Ambon dan Pulau Seram, Papua bagian tengah, dan Irian Barat bagian selatan. Di Jawa masih akan terjadi curah hujan sporadis dengan intensitas tinggi, tetapi berlangsung singkat. Adapun wilayah di Sumatera yang akan mengalami cuaca yang sama, antara lain, adalah Sumatera bagian utara dan Bangka atau Pekan Baru bagian utara, sedangkan yang mulai kurang hujan adalah Bengkulu dan Lampung.Saat ini mulai terjadi La Nina. Diprediksi bulan Agustus 2010 terjadi La Nina dengan kategori kuat (data dari BMKG).

IKLIM DI KALIMANTAN BARAT

Iklim di Kalimantan Barat beriklim tropik basah, curah hujan merata sepanjang tahun dengan puncak hujan terjadi pada bulan Januari dan Oktober suhu udara rata-rata antara 26,0 s/d 27,0.kelembapan rata-tara antara 80% s/d 90%. Dengan adanya iklim tersebut terdapat hutan hujan tropis di Kalimantan Barat dengan kelembapan yang cukup tinggi (sejuk), sehingga di dalamnya terdapat kenakeragaman hayati yang cukup bervariasi.


PERAN LA NINA BAGI LAHAN TADAH HUJAN

La Nina dapat menimbulkan hujan dengan intensitas yang tinggi, sehingga bisa mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Di sisi lain, ternyata La Nina dapat menguntungkan khususnya bagi petani atau pengolah lahan-lahan tadah hujan, di mana hanya mengandalkan turunnya hujan untuk kegiatan pertanian. Dalam hal ini, wilayah yang akan dikaji adalah propinsi Kalimantan Barat. Menurut data dari BMG, bahwa wilayah yang akan mengalami cukup hujan adalah Kalimantan Barat, bagian utara Kalimantan Tengah, dan wilayah selatan Kalimantan Timur. Curah hujan yang memadai dialami Sulawesi Tenggara, sebagian Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Kecukupan hujan juga akan terjadi di Maluku bagian tengah, seperti Pulau Ambon dan Pulau Seram, Papua bagian tengah, dan Irian Barat bagian selatan.
Dengan adanya La Nina, maka ketersediaan air di lahan tadah hujan bias tercukupi, sehingga lahan yang tadinya hanya ditanami padi satu kali dalam satu tahun bisa ditanami padi pada saat terjadinya La Nina. Hal tersebut jelas memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar dengan ketersediaan air yang cukup.
Sistem irigasi pertanian pada saat La Nina terjadi bisa menggunakan system irigasi yang terpadu dengan menggunakan penampungan yang bisa didistribusikan ke lahan-lahan yang lain. Dengan demikian dapat diatur pembagian air untuk kebutuhan tanaman tiap-tiap lahan.
PENUTUP
La Nina diakibatkan karena kondisi suhu di perairan Indonesia dan perairan di dekat imdomesia hangat dan suhu di daerah samudera pasifik cukup ekstrim. Dengan kondisi suhu permukaan air laut yang hangat tersebut maka kemungkinan untuk melakukan presipitasi semakin besar dan mengakibatkan turunnya hujan di wilayah Indonesia. Fenomena El Nino 2009-2010 baru saja menghilang sekitar Februari 2010 dan diperkirakan mulai awal Mei 2010 dapat diketahui berubah menuju La Nina. Perubahan sangat cepat ini tergolong ekstrem karena lazimnya terjadi pada periode 2-6 tahun (menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika / BMKG). Diperkirakan juga La Nina akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus 2010. Hal tersebut bisa berpotensi terjadinya banjir di sejumlah daerah juga di kota-kota besar.
La Nina tidak hanya sebagai hazard (bencana), seperti terjadinya banjir dan tanah longsor, tetapi fenomena ini bisa sebagai sumber daya bagi pertanian, misalnya sebagai sumber irigasi di lahan-lahan tadah hujan. Dengan adanya curah hujan yang cukup fluktuatif saat sekarang ini (kira-kira akan berlangsung sampai September 2010) maka bisa dimanfaatkan bagi penduduk yang mempunyai lahan-lahan tadah hujan sebagai sumber pengairan dan juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. La Nina bagaikan pedang bermata dua, di mana bisa menjadi hazard (bencana) dan resources (sumber daya).

DAFTAR PUSTAKA

Australian Government Bureau of Meteorology. 2010. dalam http://www.bom.gov.au (diakses pada hari Kamis, 10 Juni 2010 pukul 10:42)
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 2010. dalam http://bmg.go.id (diakses pada hari Kamis, 10 Juni 2010 pukul 11:22)
Fenomena La Nina (Kompas). 2010. dalam http://kompas.com (diakses pada hari Kamis, 10 Juni 2010 pukul 14:52)
Pemrov Kalimantan Barat. 2010. dalam http://kalbarprov.go.id (diakses pada hari Kamis, 10 Juni 2010 pukul 15:00)

INDEKS OSILASI SELATAN JANUARI 2008-JUNI 2010



Sumber : http://www.bom.gov.au/climate/enso/monitoring/soi30.png

Indeks Osilasi Selatan:
    Nilai SOI 30 hari mengalami fluktuasi selama beberapa minggu terakhir, menunjukkan SOI ke 5 pada tanggal 21 Mei dan meningkat menjadi 10 pada 1 Juni. (7 Juni) nilai terakhir 30 hari SOI adalah 8. Nilai bulanan untuk Mei 10. Nilai-nilai positif dari SOI di atas 8 dapat menunjukkan peristiwa La Niña, sedangkan nilai negatif yang berkelanjutan di bawah ini -8 mungkin menunjukkan sebuah peristiwa El Niño. Nilai antara sekitar 8 dan -8 umumnya menunjukkan kondisi netral.






















                                                 
spacer

La Nina dan Lahan Tadah Hujan

PEMANFAATAN FENOMENA LA NINA

UNTUK MENDUKUNG SISTEM IRIGASI PERTANIAN

 DI LAHAN TADAH HUJAN




Wido Cepaka Warih, 0906515105

Departemen Geografi FMIPA Universitas Indonesia



 ABSTRAK


       La Nina merupakan salah satu anomali cuaca yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Hal ini
diakibatkan karena kondisi suhu di perairan Indonesia dan perairan di dekat imdomesia hangat dan suhu di daerah samudera pasifik cukup ekstrim. Dengan kondisi suhu permukaan air laut yang hangat tersebut maka kemungkinan untuk melakukan presipitasi semakin besar dan mengakibatkan turunnya hujan di wilayah Indonesia. Fenomena El Nino 2009-2010 baru saja menghilang sekitar Februari 2010 dan diperkirakan mulai awal Mei 2010 dapat diketahui berubah menuju La Nina. Perubahan sangat cepat ini tergolong ekstrem karena lazimnya terjadi pada periode 2-6 tahun (menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika / BMKG). Diperkirakan juga La Nina akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus 2010. Hal tersebut bisa berpotensi terjadinya banjir di sejumlah daerah juga di kota-kota besar. Tidak memandang hazard yang ditimbulkan dari La Nina seperti terjadinya banjir dan tanah longsor, tetapi fenomena ini bisa sebagai sumber daya bagi pertanian, misalnya sebagai sumber irigasi di lahan-lahan tadah hujan. Dengan adanya curah hujan yang cukup fluktuatif saat sekarang ini (kira-kira akan berlangsung sampai September 2010) maka bisa dimanfaatkan bagi penduduk yang mempunyai lahan-lahan tadah hujan sebagai sumber pengairan dan juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. La Nina bagaikan pedang bermata dua, di mana bisa menjadi hazard (bencana) dan resources (sumber daya).

Kata kunci: La Nina, lahan tadah hujan, irigasi
spacer

Pendekatan Neo-Humanis

MENCEGAH PENEBANGAN HUTAN SECARA LIAR MELALUI
PENDEKATAN NEO-HUMANISME

ESAI ILMIAH
Disusun dan diajukan kepada Panitia Lomba Penulisan
Esai Ilmiah UI untuk Bangsa
Tahun 2009

oleh
WIDO CEPAKA WARIH
0906515105
DEPARTEMEN GEOGRAFI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDONESIA
2009
MENCEGAH PENEBANGAN HUTAN SECARA LIAR MELALUI
PENDEKATAN NEO-HUMANISME

Pendahuluan
Hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain sebagainya serta menempati daerah yang cukup luas. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang meiliki kawasan hutan yang sangat luas. Hutan memiliki banyak manfaat bagi kita semua. Hutan merupakan paru-paru dunia (planet bumi, sehingga perlu kita jaga karena jika tidak maka hanya akan membawa dampak yang buruk bagi kita di masa kini dan masa yang akan datang.
Hutan di Indonesia sangat berperan penting dalam kelangsungan hidup satwa dan puspa yang ada di dalamnya. Selain itu, keberadaan hutan di Indoneisa ini juga berfunsgi untuk melestarikan beraneka ragam potensi satwa dan puspa di Indoensia. Berikut ini manfaat dari adanya keberadaan hutan :
1. Manfaat/Fungsi Ekonomi
- Hasil hutan dapat dijual langsung atau diolah menjadi berbagai barang yang bernilai tinggi.
- Membuka lapangan pekerjaan bagi pembalak hutan legal.
- Menyumbang devisa negara dari hasil penjualan produk hasil hutan ke luar negeri.
2. Manfaat/Fungsi Klimatologis
- Hutan dapat mengatur iklim
- Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia yang menghasilkan oksigen bagi kehidupan.
3. Manfaat/Fungsi Hidrolis
- Dapat menampung air hujan di dalam tanah
- Mencegah intrusi air laut yang asin
- Menjadi pengatur tata air tanah
4. Manfaat/Fungsi Ekologis
- Mencegah erosi dan banjir
- Menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah
- sebagai wilayah untuk melestarikan kenaekaragaman hayati

Penebangan hutan



Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan, merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara 1990 dan 2005, negara Indonesia telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 persen hutan perawan. Penurunan hutan-hutan primer yang kaya secara biologi ini adalah yang kedua di bawah Brazil pada masa itu, dan sejak akhir 1990an, penggusuran hutan primer makin meningkat hingga 26 persen. Kini, hutan-hutan Indonesia adalah beberapa hutan yang paling terancam di muka bumi.

Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82 persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen saat ini. Bahkan, banyak dari sisa-sisa hutan tersebut yang bisa dikategorikan hutan yang telah ditebangi dan terdegradasi. Berikut ini beberapa ilustrasi mengenai penebangan hutan di Indonesia :










Efek dari berkurangnya hutan ini pun meluas, tampak pada aliran sungai yang tidak biasa, erosi tanah, dan berkurangnya hasil dari produk-produk hutan. Polusi dari pemutih khlorin yang digunakan untuk memutihkan sisa-sisa dari tambang telah merusak sistem sungai dan hasil bumi di sekitarnya, sementara perburuan ilegal telah menurunkan populasi dari beberapa spesies yang mencolok, di antaranya orangutan (terancam), harimau Jawa dan Bali (punah), serta badak Jawa dan Sumatera (hampir punah). Di pulau Irian Jaya, satu-satunya sungai es tropis memang mulai menyurut akibat perubahan iklim, namun juga akibat lokal dari pertambangan dan penggundulan hutan.
Penebangan kayu tropis dan ampasnya merupakan penyebab utama dari berkurangnya hutan di negara itu. Indonesia adalah eksportir kayu tropis terbesar di dunia, menghasilkan hingga 5 milyar USD setiap tahunnya, dan lebih dari 48 juta hektar (55 persen dari sisa hutan di negara tersebut) diperbolehkan untuk ditebang. Penebangan hutan di Indonesia telah memperkenalkan beberapa daerah yang paling terpencil, dan terlarang, di dunia pada pembangunan. Setelah berhasil menebangi banyak hutan di daerah yang tidak terlalu terpencil, perusahaan-perusahaan kayu ini lantas memperluas praktek mereka ke pulau Kalimantan dan Irian Jaya, dimana beberapa tahun terakhir ini banyak petak-petak hutan telah dihabisi dan perusahaan kayu harus masuk semakin dalam ke daerah interior untuk mencari pohon yang cocok. Sebagai contoh, di pertengahan 1990an, hanya sekitar 7 persen dari ijin penambangan berada di Irian Jaya, namun saat ini lebih dari 20 persen ada di kawasan tersebut. Mari kita cermati petikan dari Kompas, 26 Agustus 2005 :




Akibat Penebangan Hutan, 2.100 Mata Air Mengering
Kelangkaan minyak tanah yang kerap mendera penduduk di berbagai daerah di Banyumas, Jawa Tengah, akhir-akhir ini dikhawatirkan memacu penduduk kembali menggunakan kayu bakar dan menebang pohon tanaman keras.
Jika itu terjadi, kerusakan sumber air (mata air) akan semakin cepat. Di Banyumas saat ini tinggal 900 mata air, padahal tahun 2001 masih tercatat 3.000 mata air.
Setiap tahun rata-rata sekitar 300 mata air mati akibat penebangan terprogram (hutan produksi) maupun penebangan tanaman keras milik penduduk, ujar Wisnu Hermawanto, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyumas, Kamis (25/8).
Akan tetapi akibat berbagai tekanan baik kebutuhan hidup maupun perkembangan penduduk, perlindungan terhadap sumber air maupun tanaman keras atau hutan rakyat semakin berat.
Di lain pihak, penduduk yang di lahannya terdapat sumber air tidak pernah memperoleh kompensasi sebagai ganti atas kesediaannya untuk tidak menebangi pohonnya.
Kesulitan penduduk memperoleh minyak tanah berdampak pada peningkatan penggunaan kayu bakar. Penduduk di daerah pedesaan yang jauh dari pangkalan minyak tanah memilih menebang pohon untuk kayu bakar.
Satu ikat kayu bakar ukuran sedang sekarang harganya sudah Rp 7.000, ujar Wisnu.
Ia memprediksi, setiap hari sekitar 1.500 pohon milik penduduk di Banyumas ditebang untuk dijadikan kayu bakar sebagai pengganti minyak tanah. (nts)
Sumber: Kompas, Jumat, 26 Agustus 2005

Di Indonesia, penebangan kayu secara legal mempengaruhi 700.000-850.000 hektar hutan setiap tahunnya, namun penebangan hutan illegal yang telah menyebar meningkatkan secara drastis keseluruhan daerah yang ditebang hingga 1,2-1,4 juta hektar, dan mungkin lebih tinggi - di tahun 2004, Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengatakan bahwa 75 persen dari penebangan hutan di Indonesia ilegal. Meskipun ada larangan resmi untuk mengekspor kayu dari Indonesia, kayu tersebut biasanya diselundupkan ke Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia lain. Dari beberapa perkiraan, Indonesia kehilangan pemasukan sekitar 1 milyar USD pertahun dari pajak akibat perdagangan gelap ini. Penambangan ilegal ini juga merugikan bisnis kayu yang resmi dengan berkurangnya suplai kayu yang bisa diproses, serta menurunkan harga internasional untuk kayu dan produk kayu.
Manajemen hutan di Indonesia telah lama dijangkiti oleh korupsi. Petugas pemerintahan yang dibayar rendah dikombinasikan dengan lazimnya usahawan tanpa reputasi baik dan politisi licik, larangan penebangan hutan liar yang tak dijalankan, penjualan spesies terancam yang terlupakan, peraturan lingkungan hidup yang tak dipedulikan, taman nasional yang dijadikan lahan penebangan pohon, serta denda dan hukuman penjara yang tak pernah ditimpakan. Korupsi telah ditanamkan pada masa pemerintahan mantan Presiden Jendral Haji Mohammad Soeharto (Suharto), yang memperoleh kekuasaan sejak 1967 setelah berpartisipasi dalam perebutan pemerintahan oleh militer di tahun 1967. Di bawah pemerintahannya, kroni tersebar luas, serta banyak dari relasi dekat dan kelompoknya mengumpulkan kekayaan yang luar biasa melalui subsidi dan praktek bisnis yang kotor.

Pendekatan Neo-Humanisme
Hutan-hutan Indonesia menghadapi masa depan yang suram. Walau negara tersebut memiliki 400 daerah yang dilindungi, namun kesucian dari kekayaan alam ini seperti tidak ada. Dengan kehidupan alam liar, hutan, tebing karang, atraksi kultural, dan laut yang hangat, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk eko-turisme, namun sampai saat ini kebanyakan pariwisata terfokus pada sekedar liburan di pantai. Sex-tourism merupakan masalah di beberapa bagian negara, dan pariwisata itu sendiri telah menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan hidup, mulai dari pembukaan hutan, penataan bakau, polusi, dan pembangunan resort.
Melihat dampak dari penebangan hutan secara liar tersebut,maka perlu adanya suatu cara untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan kontribusi dalam menyikapi adanya penebangan hutan tersebut dengan cara pendekatan secara neo-humanis. Di bawah ini akan diuraikan beberapa pendekatan neo-humanis dalam mencegah dan mengurangi terjadinya penebangan hutan secara liar :
1. Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Sebagai contoh, beberapa wilayah di hutan-hutan di sekitar kamp-kamp pengungsian di Afrika Tengah (Rwanda dan Congo) benar-benar telah kehilangan seluruh pohonnya. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada penduduk setempat tentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan semua umat.
2. Dalam hal penebangan hutan secara konservatif, denagn cara menebang pohon yang sudah tidak berproduktif lagi. Jangan sampai pohon yang masih muda dan masih berproduktif ditebang. Selain itu, sebaiknya masyrakat sekitar perlu diberi arahan dalam penebangan pohon, di antaranya larangan untuk menebang pohon yang sebagai plasa nutfah. Selanjutnya, setiap menebang satu pohon, harus seerag menaggabti denagn menamam pohon kembali sebanyak satu pohon. Bila pendekatan ini dapat dilaksananakn secara tanggung jwab, niscaya tidak akan lagi terjadi penggundulan hutan.
3. Melakukan pembenahan terhadap sistem hukum yang mengatur tentang pengelolaan hutan menuju sistem hukum yang responsif yang didasari prinsip-prinsip keterpaduan, pengakuan hak-hak asasi manusia, serta keseimbangan ekologis, ekonomis, dan pendekatan neo-humanisme.
4. Selanjutnya perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian hutan. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam upaya pemberdayaan masyarakat lokal harus diselenggarakan dan difasilitasi berbagai pelatihan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan di kalangan masyarakat, seperti pelatihan pengendalian kerusakan hutan bagi masyarakat dan pelatihan lingkungan hidup untuk para tokoh dalam masyarakat agar nantinya bisa membawa masyarakat yang sadar akan lingkungannya.
5. Melalui pendekatan neo-humanisme ini, juga perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyrakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut.
6. Melakukan program reboisasi secara rutin dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarkat setempat. Dengan adanya pemantauan tersebut, maka hasil kerja keras dari reboisasi yang telah dilaksanakan akan tetap terpantau secara rutin mengenai perkembanganya dan potensi ke depannya.
7. Selain itu, perlu adanya inovasi pelatihan keterampilan kerja di masyarakat secara gratis dan rutin dari pihak-pihak yang terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja,dll, sehinnga masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan saja, tetapi dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan dimilkinya.


Penutup
Sementara itu, peningkatan peranan dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup harus terus ditingkatkan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan akan diarahkan kepada upaya: peningkatan dan pengakuan atas peran dan kepemilikan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; penyusunan pedoman mekanisme konsultasi publik dalam penetapan kebijakan dan peraturan dalam rangka pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; pengembangan pola kemitraan dengan masyarakat lokal dalam pengawasan pengelolaan sumber daya alam dan pengendalian kualitas lingkungan hidup.

Referensi
Hoed, Benny, et al. Jakarta Recovery; Blue Print Pembangunan Ibukota, Sumbangsih Kampus untuk Jakarta. Jakarta: Kelompok Kerja Pembangunan Ibukota-BEMUI. 2007
http://world.mongabay.com/indonesian/502.html (diakses pada tanggal 29 Oktober 2009 Pukul 22:44 )
http://organisasi.org/pengertian-hutan-manfaat-hutan-yang-mempengaruhi-persebaran-hutan (diakses pada tanggal 29 Oktober 2009 Pukul 22: 53)
http://www.dephut.go.id/ (diakses pada tanggal 29 Oktober 2009 Pukul 22: 53)
http://cbdrmbabad.wordpress.com/2007/11/01/akibat-penebangan-hutan-2100-mata-air-mengering/ (diakses pada tanggal 29 Oktober 2009 Pukul 22: 54)
spacer

Continental Glaciation

Kontinental Glasiasi I dan II
a.    Kontinental Glasiasi I
Glasiasi Kontinental dapat menghanyutkan, mentranspor dan mengendapkan material. Glasiasi kontinental disebabkan oleh iklim, ketinggian, curah hujan dan aktivitas atmosfer (CO2 yang berlebihan). Dilain pihak, tutupan lahan yang bagus dengan vegetasi-vegetasi yang beranekaragam akan mengakibatkan penipisan kadar karbondioksida di atmosfer.

b.    Kontinental Glasiasi II
Icecaps di Greenland dan Antartica diduga mempunyai glasiasi yang lambat. Sebagai contoh, motraine di Winconsindan Montana di timur Amerika Serikat, muncul diantara 50 dan 300 kaki per mil. Icecaps menyebar radial karena  pola radial pergerakan angin dan curah hujan dihasilkan dari tekanan rendah di bagian tengah dan terus menuju ke bagian tepi dari region. Perubahan terakhir dari lembaran es tertutup sebagai danau, rawa-rawa, tanah berlumpur dan penggangguan garis drainase.

B.    Glacial Erosion
Lempeng es benua merupakan agen erosi yang mampu mengikis tanah dan mengangkut batuan dan meninggalkan material (endapan tebal). Erosi yang terjadi terlihat dari adanya glacial grooves, glacial striae; terkikisnya permukaan batuan oleh chatter marks; tidak adanya sisa tanah; aliran es yang alirannya terletak pada bagian yang tajam di atas batuan dasar; banyaknya hanyutan yang lebih besar dari endapan yang mungkin jika tidak terdapat erosi: adanya fresh rock pada hanyutan ini, yang satu sebagai batas ujung dan satu laginya sebagai lantai; posisi rock basins yang tidak mungkin terbentuk akibat erosi sungai.
Glacial Deposition : Moraines
 Moraines dikelompokkan berdasarkan posisinya terhadap lempeng es menjadi: terminal moraines (salah satu jenis moraines yang terbentuk jauh dari benua gletser ( continental glacier), interlobate moraines, recessional moraines, dan ground moraines. Selain itu, moraines juga dikelompokkan berdasarkan material penyusunnya, yaitu: till moraines, waterlaid moraines, delta moraines dan kame moraines.


C.    Glacial Deposition
Drumlin adalah bukit yang berbentuk oval, seperti setengah telur yang terdiri atas massa pasir dan batu kerikil (orogenesa). Bentuk-bentuk drumlin, yaitu:
     Paralel Kampak
     Menyerupai bukit ( rocdrumlin)
     Kumpulan Drumlin disebut ” Swarp”
Fluvioglasial Deposit
     These deposits are sorted and stratifed by the action of meltwater.
     Landform of Fluvioglacial Deposition :
     Kames
     Kames Terraces
     Kames Delta
     Eskers
Deposit Fluvioglasial
     Ketlle Holes
     Brainded Streams
     Varves
     Outwash Plain
Fluvioglasial Deposit 2
     Valley Trains (Valley trains terletak  pada daerah yang yang berbukit)

D.    Esker, Kame, dan Crevase Filling
Esker adalah bukit punggungan hasil endapan dari arus glacial dalam terowongan es. Adapun kame adalah bukit bulat atau bukit mengerucut yang tersusun dari kerikil atau pasir, diendapkan sebagai kerucut delta, hasil endapan dari penurunan massa di sepanjang punggungan es. Crevase filling adalah punggungan material air yang mengalir ke segala arah, biasanya berasosiasi dengan teras danau dan diendapkan dalam sebuah celah yang lebar.
Esker dan crevase filling tidak selalu dapat dibedakan satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki sisi yang curam dan sempit, sisi lereng yang tersusun dari pasir dan kerikil memiliki kemiringan sekitar 30%. Esker biasanya berada di daerah rendah dengan dataran yang berpaya. Tanah di salah satu atau kedua sisinya biasanya membentuk semacam depresi yang biasa disebut palung esker (esker through). Esker dapat terletak di seluruh jenis permukaan. Ia mengabaikan adanya topografi atau cegahan bukit yang yang ratusan kaki tingginya. Banyak esker yang  terpendam oleh pengunduran morena. Adapun crevase filling, biasanya mengandung pasir dan lumpur, yang khususnya bergabung dengan endapan danau. Transisi antara esker dan crevase filling terpisahkan oleh adanya kame yang merupakan hasil endapan Moulin dimana air mengalir melalui lubang es yang kemudian menurun kearah dasar lembaran es.

E.    Varves
Varve merupakan timbunan tahunan dari pasir, Lumpur, dan tanah liat yang diendapkan di danau oleh air glacial. Lumpur yang kasar ditiap-tiap varve terletak paling dasar dan lumpur tersebut diatur selama musim panas. Tanah liat terletak paling atas dimana tanah liat tersebut diatur selama musim dingin secara perlahan-lahan. Ketebalan dari varve sekitar 1/8 inchi sampai ½ inchi atau bahkan lebih tergantung pada kondisi curah hujan.

F.    Aspek Geografis continental Glasiasi
    Perbandingan antara region glasial dan region nonglasial di Wisconsin oleh Whitbeck, mengindikasikan bahwa pertanian di region glacial lebih unggul. Tanahnya lebih subur dan dapat memproduksi lebih besar setiap acre atau 4072 m2, nilai atau penghasilan para petani lebih besar, dan rata-rata hasil panenya juga lebih besar.

Grafik 1 menunjukan tanah pasir di region glacial diproduksi jagung hampir 20 persen lebih besar dibandingkan region nonglasial. Pada grafik 2, terlihat rata-rata pendapatan dari lahan hampir 50 persen lebih lebih besar dibandingkan area nonglasial. Grafik 3 mengindikasikan total kekayaan atau nilai dari petani, termasuk rumah dan lahannya. Pada area glacial terdapat 40 persen lebih besar. Pada grafik 4, terlihat produktifitas dari petani, sama seperti grafik-grafik sebelumnya, pada region glacial lebih besar. Pada grafik 5 dan 6, ditunjukan perbandingan dari hasil peternakan dan teteap sama seperti grafik lainnya, ditunjukan bahwa region glacial lebih unggul dari region nonglasial. Pada grafik 7 dan 8, terlihat region nonglasial lebih unggul dalam perbaikan lahan dan banyaknya lahan didaerah hutan.

G.    Illustrasi Peta Continental Glasiasi
Terminal morain dari continental es, ditunjukan pada The Isip, oyster bay, dan Riverhead. Di sebelah barat New York morainnya kurang terlihat, tetapi dapat dilukuskan pada lembar Passaic dan  Plainfield. Dipertengahan wilayah barat, terdapat banyak morain seperti ditunjukan pada St.Croit Dalles. Wilayah glacial dengan banyak danau dan rawa dapat dilihat pada peta Inggris dan New York. Sedangjan wilayah glacial yang tua, dapat ditunjukan pada lembar Peever, Beardsles, dan White Rock, S.Dak.


Pertanyaan :
1.    Mengapa terjadi 2 konsep utama dalam kontinental glasiasi, yaitu kontinental glasiasi I dan II, apakah teori ini berkelanjutan atau terjadi perbedaan yang signifikan?
2.    Mengapa pada fase glacial deposition bisa menyebabkan terjadinya berbagai bentuk drumlin, fluvioglasial deposit, deposit fluvioglasial dan fluvioglasial deposit 2?
3.    Mengapa dapat palung es dapar terbentuk mengingat bahwa es mudah untuk melakukan erosi dan glasiasi?
4.    Bagaimanakah perkembangan dari terbentuknya varves?
5.    Ada suatu pernyataan oleh Lobeck bahwa “tanah pasir di region glasial diproduksi jagung hampir 20 persen lebih besar dibandingkan region nonglasial”. Mengapa hal tersebut dapat terjadi dan kapan temporal region glasial lebih unggul dari region nonglasial dan sebaliknya terlihat region nonglasial lebih unggul dalam perbaikan lahan dan banyaknya lahan didaerah hutan?

DAFTAR PUSTAKA

Lobeck, A. K. 1939.  Geomorphology:  An Introduction to The Study Of Landscapes. London and New York: Mcgraw-Hill Book Company.

spacer