Showing posts with label 30haricerita. Show all posts
Showing posts with label 30haricerita. Show all posts

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat


Nelayan di Pulau Larat

Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, dan relasi sosial. Dengan itu mereka bisa bertahan dan berkembang meniti kehidupan, dengan rumput laut, ikan, kacang tanah hingga kain tenun.

Wido Cepaka Warih, fasilitator Prakarsa KKP menuliskan dan mengirimkan temuan-temuannya selama berada di pulau yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia itu. Ragam foto dan narasi ini serupa tawaran untuk meraba urat nadi kehidupan di Pulau Larat versi fasilitator PPKT. 

Simak yuuuk!

***
Masyarakat Larat dan rumput lautnya
Masyarakat Larat dan rumput lautnya

Semenjak rumput laut mulai tertebas harganya, sebagian masyarakat di Pulau Larat memilih meninggalkan budidaya rumput laut. Beragam persoalan menjadi batu ganjalan bagi pembudidaya. Selain harga yang tak stabil mereka juga diserang penyakit. “Rumput laut kami terkena penyakit ice-ice, sekitar tahun 2014. Semenjak itu harga turun terus,” ungkap Ibu Maya sembari menunjukkan bekas lahan budidaya metode longline rumput laut di Desa Ritabel.

“Sekitar tahun 2012-an harga agar-agar (rumput laut) kering setiap kilogram mencapai Rp 15.000. Kalau sekarang hanya laku Rp 4.000-5.000,” kata Om Kui, seorang petani rumput laut di desa Lamdesar Timur, Pulau Larat.

“Ketika rumput laut berjaya, jalanan setapak depan rumah-rumah itu tertutup sama jemuran agar-agar. Masyarakat bisa menyekolahkan anaknya sampai lanjut kuliah, usaha dagang, buka warung, bangun rumah, banyak lagi pokoknya,” sambung ibu Maya.

Hingga Juni 2016, pemerintah daerah tak tutup mata melihat persoalan rumput laut. Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, berbagai bantuan seperti bibit rumput laut maupun pelatihan pengolahan budidaya dan hasil rumput laut tak lepas dari agenda rutin dinas terkait. Tujuannya demi kemandirian masyarakat Larat dalam mengelola sumber daya yang ada.

Pasar ikan di Larat
Pasar ikan di Larat

Selain gambaran status rumput laut dan dinamikanya saat ini di Larat, gambaran tentang potensi perikanan juga penting untuk diceritakan. Informasi awal tentang ini saya temukan saat bertemu dengan dua orang nelayan di Pulau Lelingluan yang sedang memanggul ikan bubara dan sakuda.
“Ayo mas, satu ikat Rp 35.000 saja ini, ikan masih segar baru nyampe subuh tadi,” salah satu penjual menawarkan ikan bawaanya
“Mama, ini ikan apa?”, tanya fasilitator DFW (Destructive Fishing Watch) yang sedang bertugas di sini, ikan yang berbeda.”Ikan samandar, harga seikat Rp 35.000, enak dan empuk dagingnya,” ujarnya. Transaksi pun terjadi, ternyata satu ikat isinya ada 15 ekor ikan samandar sebesar telapak tangan orang dewasa. Untuk jenis ikan sakuda maupun kakap seukuran pergelangan tangan orang dewasa kita bisa membelinya seharga Rp 50.000-60.000, apalagi ketika anda lihai menawar dibumbui dengan obrolan hangat akan mendapatkan harga yang lebih murah.

Menurut Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang dilansir dari data Dinas Kelautan dan Perikanan, di tahun 2013 produksi perikanan di Tanimbar Utara (Pulau Larat) sebesar 1.382 ton dan mengalami penurunan sebanyak 1.207 ton di tahun 2014. Untuk melihat potensi perikanan ini kita perlu melihat angka armada dan alat tangkap yang dipergunakan oleh nelayan Pulau Larat.

Jumlah perahu/motor tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan Pulau Larat adalah perahu jukung sejumlah 190 dikuti perahu kecil 168, perahu besar 33, motor tempel 139, dan kapal motor 26. Armada tersebut beberapa bersumber dari bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Masyarakat di Pulau Larat sebagian besar menggunakan pancong, sero, dan jaring insang untuk menangkap ikan dalam kesehariannya. Belum tersedianya cold storage di Pulau Larat juga berpengaruh terhadap nilai tambah perikanan tangkap. Selama ini, nelayan memanfaatkan es produksi rumahan, itupun hanya bertahan beberapa hari saja.

Suasana di dermaga, tempat nelayan sering mendaratkan hasil tangkapan
Suasana di dermaga, tempat nelayan sering mendaratkan hasil tangkapan

Buce, Ketua Kelompok Nelayan Barrakuda, ketika ditemui di rumahnya juga mengatakan hal yang sama. “Kami kalau melaut jauh-jauh tidak sebanding antara BBM, es dengan jumlah tangkapan. Di sini belum ada pabrik es atau penyimpanan ikan, ini yang kami harapkan dari pemerintah baik pusat mapupun daerah, agar nantinya perikanan di Pulau Larat ini bisa maju dengan dukungan sarana dan prasarana yang ada,” katanya.

Potret dalam Kacang Botol

Selain menyimpan potensi perikanan, Larat dikenal dengan potensi pertaniannya, seperti kasbi (singkong), umbi-umbian lain, pateka (semangka), jagung, dan kacang tanah. Saat menjumpai masyarakat di salah satu desa Pulau Larat yaitu Desa Lamdesar Barat, kita akan melihat potret aktivitas masyarakat sedang menjemur dan mengupas kacang tanah di selasar rumah.

Dengan jarak 50 km ke pusat Larat, masyarakat Lamdesar Barat biasa menjual kacang tanah yang telah dikelupas dengan harga Rp 20.000-25.000 per kg. Tumpukan karung kacang tanah seakan menjadi saksi jerih payah selama bekerja berladang. Dalam satu karung besar terdapat 30-40 kilogram kacang tanah masih dengan kulitnya. Untuk menghasilkan satu karung kacag tanah bersih (sudah dikelupas kulitnya), mereka harus mengelupas 3-4 karung kacang tanah.

Kacang botol khas Larat
Kacang botol khas Larat

Lebih serunya lagi, setelah pulang sekolah atau di waktu senggang, anak-anak di Lamdesar Barat tidak mau ketinggalan berbagi keceriaan dengan mengelupas kulit kacang tanah. Terkadang memang, tangan mereka lebih cepat dari tangan orang dewasa mengupas kulit kacang. Akan nampak senyum bahagia dan gigi putihnya ketika mereka diberi uang jajan Rp 30.000 per karung kacang tanah bersih seusai ikut mengupas. Semakin banyak karung dengan isi 30 kg per karung, maka akan semakin lebar senyum mereka, artinya akan mempunyai tabungan untuk membeli keperluan sekolah.

“Kalau untuk kacang botol, yang ditaruh di botol seukuran air mineral harganya Rp 15.000, sedangkan botol kaca bisa Rp 25.000-30.000,” ujar Bapak Pice yang juga mempunyai ladang kacang tanah.
“Kalau sekarang sudah mulai enak, sekitar dua bulan lalu, karena ada truk yang masuk ke sini, jadi gampang jual kacang ke pusat Larat, kalau tempo lalu, ketika akan menjual dalam jumlah banyak, kami harus pakai perahu ketinting dan ongkosnya lebih mahal,” sambung Pice saat sedang menjemur kacang tanah depan rumahnya.

Angin segar harapan berhembus ke Larat. Jalan trans Larat sudah mulai dikerjakan tahun ini. Beberapa tahun lagi semua desa akan merasakan lancarnya akses dan distribusi hasil panen, sehingga harapan mereka dapat meningkatkan roda perekonomian selama ini semakin cerah.

Tenun dari Bumi Lelemuku
Bukan hanya rumput laut, ikan, dan kacang tanah. Di Larat terdapat anggrek endemik namanya lelemuku. Ini dapat pula dikembangkan terutama bagi pencinta bunga.

Pemandangan matahari terbenam di Larat
Pemandangan matahari terbenam di Larat

Selain itu, kurang lengkap rasanya kalau berkunjug ke Pulau Larat jika tak membawa oleh-oleh berupa kain tenun yang dibuat dengan tangan langsung (hand made) oleh masyarakat Larat. Hampir semua perempuan di desa bisa membuat tenunan, baik dalam bentuk scarf maupun syal.

Untuk selembar syal, mereka bisa menjual dengan harga Rp 150.000. “Satu syal bisa dua sampai tiga hari buatnya, tergantung kesibukan, kalau mau dikasi nama orang juga bisa di syalnya, atau memilih warna kombinasi benang dan corak syal,” terang Mama Desa Lamdesar Barat. Belajar dari kesabaran memintal benang-benang halus dan ragam corak warna, membuat kita akan jatuh cinta pada kearifan masyarakat di Larat.

Dari masyarakat di Pulau Larat, kita bisa belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal, belajar kearifan lokal dan budaya mereka, belajar untuk tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar.


Artikel ini dimuat di:
spacer

#24 Lingkaran Positif di Bumi Duan Lolat (Sebuah Kolaborasi dengan Penyuluh Perikanan)

Kantor PSKPT Saumlaki, MTB

Pagi ini di negeri Duan Lolat (sebutan untuk Kabupaten Maluku Tenggara Barat) cuaca nampak cerah dan bersemangat. Ku jelang sinar mentari pagi dengan mencuci setumpuk pakaian kotor. Mungkin pernah ada yang bertanya seperti halnya kejadian serupa saat aku mencuci motor di masa yang lalu, "buat apa dicuci toh nanti kotor lagi". Aku hanya tersenyum menanggapi gurauannya.Jalanan di depan sekretariat nampak sepi tidak seperti biasa, aku baru teringat kalau hari ini kantor yang berjajar seri di sepanjang jalan yang memuat nama proklamator republik ini libur. Hanya terlihat beberapa pemuda yang berlari kecil, seorang ayah yang memboncengkan sang putri di motor keluaran Jepang menuju ke suatu lokasi yang sudah disepakati, maupun Pak Panus dan Pak Maikel (keluarga baru di sekretariat PSKPT Saumlaki) tengah menyeka peluhnya sembari memperbaiki papan nama sekretariat.Satu persatu terdengar deru roda besi mulai berdatangan dan parkir di depan garasi mobil. Sambil tersenyum dan tertawa renyah mereka menyapa kami. Nampak benar semangat mereka pagi menjelang siang ini. Kiranya mereka penasaran diundang secara khusus oleh sekretariat PSKPT Saumlaki. Ada apakah gerangan? Terbesit tanda tanya di benak mereka.

Ya, mereka adalah orang keren yang menjemput kehormatannya menjadi Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) untuk mendampingi masyarakat di Tanimbar. Pak Nas (Field Manager) menyilakan mereka untuk masuk ke ruang tamu agar lebih santai dan akrab perbincangannya. Sambil menunggu kedatangan yang lain, aku, Mele, dan Pak Nas ngobrol ringan terkait beberapa isu mengenai kelautan terkini. Pak Nas menyampaikan kepada para penyuluh maksud dan tujuan mengundang mereka semua kemari. Pak Nas ingin mengajak kolaborasi untuk membuahkan aksi nyata. Dimulai dari pemaparan mengenai apa itu PSKPT, dilanjutkan dengan penyampaian tujuan dan mendengar sharing dari teman-teman Penyuluh. Maluku Tenggara Barat merupakan salah satu kabupaten yang menjadi lokasi Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu. Bahkan di tahun ini, Ibu Susi (Menteri KKP) menginginkan adanya ekspor perdana dari beberapa lokasi PSKPT. Sebagian dari penyuluh sudah pernah mendengar mengenai PSKPT karena sebelumnya kami pernah sharing pada waktu workshop diversifikasi hasil olahan perikanan tempo hari.

Basilur Arbol salah satu penyuluh yang ditugaskan di kec. Tanimbar Utara menyampaikan bahwa di tahun ini target untuk pembentukan koperasi nelayan seluruh Indonesia kurang lebih 600 koperasi. Ini yang dia dapatkan ketika mengikuti kegiatan di Ambon tempo lalu. Ada beberapa keluhan yang masuk mengenai status KTP nelayan. Slamet mengiyakan agak kesulitan mendapatkan nelayan yang mempunyai KTP dengan status nelayan, ada yang petani malahan. "Teman-teman nanti bisa dilihat kondisi di lapangan seperti apa, apakah pendapatan orang itu lebih banyak di laut atau di darat? Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk di laut maupun di darat? Agar data benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan", sambung Pak Nas. Daud yang saat ini bertugas di kec. Wuarlebobar menambahkan bahwa di pesisir timur Tanimbar ini, paling banyak ditemukan nelayan sambilan, artinya mereka akan melaut ketika mulai masuk musim barat. Begitu juga dengan keberadaan perahu-perahu nelayan yang ada. "Untuk tahun ini, Maluku Tenggara Barat mendapatkan kuota kartu nelayan sebanyak 3000", tambah Erlina yang saat ini beroperasi di Tanimbar Selatan.Aku sedikit menambahkan, kita nanti bisa buat bersama-sama kalender musim dari tiap kecamatan, agar bisa tahu lebih detail kegiatan masyarakat di sana. Kalender musim ini nanti juga berguna untuk analisa selanjutnya. Sebagai moderator, Basilus Arbor mencatat beberap poin penting terkait hasil sharing tadi. Basilus menyampaikan untuk pembentukan koperasi yang perlu diingat adalah penguatan kapasitas kelompok terlebih dahulu. Jangan dipaksakan, kita lihat perkembangan dan menjalani setiap proses yang ada. Hal ini diamini oleh penyuluh yang lain. Untuk penyuluh juga sudah ada wadah agar bisa menuliskan setiap perjalanan dan isu yang didapat dari lapangan.

Menulis bukan lagi menjadi hal berat, tetapi sudah menjadi kebutuhan kita untuk memberitahuan kepada khalayak ramai mengenai apa yang terjadi. Menulis juga sebagai jejak memori yang akan diingat selalu ketika nanti dibutuhkan. Mele salah satu fasilitator yang bertugas di Pulau Selaru juga menambahkan bahwa kita harus cukup cerdik untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, salah satunya bisa bekerja sama dengan RRI Pro 1 Saumlaki. Aku dan Mele sebelumnya pernah berbincang hanya dengan Pak Jei dari RRI mengenai kesempatan kami untuk sewaktu-waktu siaran di sana. Beliau pun cukup antusias bahkan mempersilahkan.

Gayung pun bersambut, kami juga mengajak teman-teman penyuluh untuk berkolaborasi menceritakan kekerenan masyarakat di Tanimbar. Tak terasa matahari sudah sepenggalah tingginya. Dan yang kebih konyol lagi kita lupa memperkenalkan diri lebih dalam di awal tadi. Tapi tak apalah, kami cukup bisa seketika cair layaknya sobat lama. Akhirnya aku, Mele dan Pak Nas bisa mengenal Obeth, Basilus, Felix, Erlina, Slamet, Apolos dan Daud. Di akhir sesi perkenalan disertai guyonan ringan, Basilus membacakan beberapa kesimpulan termasuk pertemuan rutin yang akan diadakan tiap awal bulan. Sekretariat PSKPT akan selalu menjad tempat dan saksi kolaborasi positif. Sungguh bahagia di tanah rantau ini, aku bertemu dengan orang orang keren yang idealis membangun negeri. Kami dipertemukan dalam lingkaran positif yang akan terus menularkan virus positif ini ke orang lain. Semoga niat baik akan diwujudkan dalam kolaborasi aksi positif selalu mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami siap mendampingi tangan-tangan optimis masyarakat Tanimbar. Kalwedo ! 

Saumlaki, 16 April 2016
spacer

#30 Blog Pesona Pulau Larat


Pulau Larat merupakan surga tersembunyi dengan segala potensi yang luar biasa di dalamnya. Sangat disayangkan, animo kunjungan ke Pulau larat begitu kecil. Minimnya informasi mengenai Pulau Larat menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya para wisatawan.Oleh karena itu, Fasilitator berinisiatif untuk membuat blog sebagai media promosi dan bercerita hal yang positif mengenai Pulau Larat. Kedepannya, Fasilitator akan mengajak semua pihak untuk ikut terlibat sebagai kontributor blog, di antaranya anak-anak SMA di Pulau Larat. Blog dapat diakses di alamat http://pesonalarat.bogspot.co.id

***

Aku kabarkan pada mereka tentang sebuah surga tersembunyi di gugusan kepulauan Tanimbar. Pulau yang terkenal dengan anggrek yang memesona, amggrek Larat dan pantai dengan sentuhan pasir putih nan halus membuat kita menyesapi nikmatnya indahnya karunia Tuhan.
.
.
Ini adalah sebuah awal untuk masa yang akan datang. Sebuah ikhtiar untuk kebaikan bersama. Mengumpulkan penggalan-penggalan cerita dan potret pulau Larat. Meraba denyut kehidupan masyarakat nan arif dan menjunjung kearifan lokal yang ada. Membersamai dalam ikatam saudara.
.
.
Katong tunggu di Pulau Larat !
.
.
Buat Anda yang ingin ikut berkontribusi foto Pulau Larat maupun cerita di dalamnya bisa menghubungi admin. Selanjutnya akan dipublish di laman pesonalarat.blogspot.co.id
.
.
Dengan ikut sebagai kontributor, Anda ikut serta gotong royong membangun kemajuan di Pulau Larat. Mari eratkan gandengan tangan. Berkolaborasi menjadi aksi positif.
.
.
Salam,
pesonalarat.blogspot.co.id
spacer

#29 Belajar memetakan POI Pulau Larat Menggunakan Google Maps




Pembuatan laman pemetaan lokasi-lokasi penting dan menarik (point of interest) di Pulau Larat, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dilandasi adanya kebutuhan akan informasi spasial berlandaskan informasi koordinat dalam suatu wilayah. Hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi siapa saja terutama kalangan akademisi dan praktisi dalam menemukan informasi dengan pasti lokasi tersebut. Informasi ini dapat digunakan dalam analisis keruangan lebih jauh dan diperlukan kontribusi dari berbagai pihak untuk melengkapi informasi yang ada.
Pembuatan laman diawali dengan pengumpulan data pada saat proses pembuatan profil Pulau Larat. Data yang diambil berupa informasi keruangan yang mencangkup informasi singkat di dalamnya, dokumentasi lokasi dan koordinat lokasi. Setelah pengambilan data dilakukan sampai saat ini, fasilitator mencoba mem-verifikasi data tersebut dengan citra pada google maps untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam laman pemetaan point of interest (POI).
Pembuatan laman ini secara gratis karena memanfaatkan platform google maps milik Google. Saat ini hanya fasilitator yang memiliki akses untuk menambah atau mengubah data lokasi POI tersebut. Berikut langkah singkat dalam pembuatan laman dan penambahan POI di google maps:
1. Log in menggunakan akun google
2. Memilih peta dasar, dalam hal ini fasilitator memilih peta citra satelit
3. Menambah layer penggunaan, seperti layer (lapisan) wisata, layer sarana prasarana, layer perikanan, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan
4. Merubah nama layer sesuai kebutuhan di atas
5. Menambahkan point (titik lokasi) baik secara manual dengan memasukkan koordinat lokasi dan menambahkan secara otomatis menggunakan tool “add point” dengan cara mencari lokasi di citra satelit (memperbesar/zoom in ke arah lokasi yang akan ditambahkan, misalnya dermaga Jetty Apung Pulau Larat)
6. Setelah menambahkan lokasi (point), selanjutnya melengkapi data dan informasi lokasi yang ditambahkan tersebut, seperti nama lokasi, deskripsi lokasi, foto lokasi, penanda lokasi, video.
7. Simpan hasil dari penambahan lokasi (point) tersebut dan siap untuk dibagikan ke umum
Dalam beberapa periode ke depan, informasi lokasi tersebut akan terus diperbaharui mengingat kebutuhan akan informasi lokasi berbasis koordinat geografis pulau terluar, khususnya Pulau larat sangat dibutuhkan dalam proses perencanaan dan implementasi dalam pembangunan wilayah.

Hasil yang Dicapai:
1. Adanya informasi lokasi berbasis keruangan (koordinat geografis) dari Pulau Larat, Kabupaten Maluku Tenggara Barat
2. Mempermudah masyarakat umum yang mencari informasi mengenai lokasi penting dan menarik di Pulau Larat
3. Sebagai bahan dan data dalam merencenakan pembangunan dan analisis spasial (keruangan) pihak setempat seperti dinas-dinas di Kabupaten Maluku Tenggara Barat
4. Mempromosikan Pulau Larat kepada dunia lebih luas melalui digital promotion untuk membuka ruang interaksi dan kolaborasi leih jauh
5. Adanya laman pemetaan point of interest (POI) sederhana untuk Pulau Larat yang saat ini dapat diakses di http://tiny.cc/pesonalarat

spacer

#28 Belajar dari Rumah Terasmitra

Foto Bersama Seusai Kunjungan ke Rumah Terasmitra

Terasmitra merupakan salah satu mitra Global Enviromental Facility – Small Grand Programme (GEF- SGP) yaitu ajang berjejaring para pelaku usaha komunitas yang menjalankan usahanya dengan pendekatan lingkungan. Terasmitra juga diharapkan menjadi jembatan penghubung cerita komunitas wirausaha kepada masyarakat yang lebih luas agar mereka menjadi lebih peduli dan memliki komitmen terhadap isu-isu lingkungan dan mewujjudkan kepeduliannya bersama dengan Terasmitra (disadur dari berbagai sumber).

“Terasmitra’s ultimate goal is ensuring that small communities market their product successfully in order to be adequately paid for their day-to-day needs”

Pada intinya Terasmitra mempunyai tujuan dan  mimpi besar ingin menjadi bagian kepedulian yang memastikan bahwa masyarakat kecil di lokasi manapun untuk dapat berhasil memasarkan produk mereka dan diberikan apresiasi yang memadai untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-harinya.
Suatu kesempatan yang langka, ketika fasilitator Prakarsa diajak untuk mengunjungi dan belajar secara langsung di Rumah Terasmitra di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan bersama GIZ dan DFW Indonesia. Tujuan kami cukup sederhana, ingin belajar dan menjalin silaturahmi dengan mitra terkait.

Terasmitra bergerak dan fokus ke empat hal, yakni:
1. Food (makanan dan minuman)
Untuk kerjasama produk makanan terdapat sistim pembelian dalam kilogram yang nanti akan di-repackaging ulang oleh pihak Terasmitra maupun packaging dari mereka secara langsung (kelompok masyarakat) tanpa menghilangkan brand asli, Terasmitra hanya menambahkan tulisan atau desain tertentu yang menandakan bahwa produk itu merupakan kerjasama dengan Terasmitra. Untuk produk makanan akan dibeli secara putus oleh Terasmitra karena ada masa kadaluwarsa produk.
2. Craft (kerajinan tangan)
Konsinyasi untuk kerajinan tangan yang ditawarkan oleh Terasmitra sebesar 20 – 30 % (harga sudah dinaikkan dari harga produksi, jadi kelompok sebenarnya juga sudah mendapatkan keuntungan dari harga tersebut) dengan biaya pengiriman dari Terasmitra.
3. Knowledge (pelatihan)
4. Ecotourism (eko-tourism)

Terasmitra membuka kesempatan buat kelompok masyarakat pengrajin yang ingin menjalin kerjasama dengan Terasmitra terutama untuk perempuan dan anak-anak sebagai local resources. Terasmitra menggunakan jalur pameran yang sering diadakan dalam festival atau mengikuti pameran baik skala nasional maupun internasional. Dalam berbagai festival, Terasmitra memiliki berbagai produk yang dipamerkan, salah satunya dalah produk tenunan tangan. Salah satu mitra Terasmitra adalah “House of Lawe”. Lawe didirikan tahun 2004 yang peduli akan nasib kerajinan tenun tradisional berbasis di Yogyakarta. Peran Terasmitra adalah untuk membantu memasarkan prduk yang dihasilkan oleh Lawe.

Selain itu juga promosi lewat online baik melalui facebook (paling sering karena sudah ada pelanggan yang tertarik, tokopedia (jarang diupdate) dan website http://terasmitra.com (yang akan di-relaunching bulan September 2016). Terasmitra juga akan memberikan umpan balik (feedback) terkait produk yang sudah ditawarkan dan kerjasama dengan Terasmitra. Salah satu tantangan Terasmitra adalah melakukan monitoring yang tetap dan berkala kepada setiap mitra di daerah.

Setelah puas dalam tanya jawab dan pemaparan, kami diajak berkeliling ke tempat workshop milik Terasmitra. Di sana terdapat banyak produk-produk binaan dan kerjasama dengan terasmitra, seperti produk dari ban bekas, produk dari kain tenun, baju, produk makanan organic dan unik, produk madu dan masih banyak lagi. Akhirnya kami mendapatkan gambaran mengenai produk dan kemasan serta akses pasar. Sebagai penutup dari Terasmitra, tambahkanlah cerita unik dan khas dari setiap produk yang dibuat karena itu akan menjadi ciri khas dan nilai jual.

Setelah belajar di Terasmitra, kami menuju pasar Mayestik yang lokasinya berdekatan dengan Rumah Terasmitra untuk melihat dan mempelajari kemasan yang ada di sana. Ada berbagai macam bentuk kemasan dari kertas, botol, kain, plastik, kaca dan sebagainya. Fasilitator Selaru dan Larat memilih dan membeli salah satu kemasan plastik ukuran 14 x 23 cm standing pouch yang akan dipergunakan untk kemasan abon ikan. Fasilitator Larat juga membeli sampel kemasan botol untuk kacang botol ukuran 370 ml. Hari ini kami belajar mengenai sebuah inovasi dan komunikasi dalam berbagai hal, dalam produk, kemasan dan pemasaran. Diperlukan kejelian dalam melihat setiap peluang yang ada demi bisnis sosial (social entrepreneurship) yang didampingi di beberapa lokasi pulau terluar Indonesia.

spacer

#27 Catatan Singkat Mengenai Workshop Regional Prakarsa 2016


Capaian Prakarsa 2016


Maluku Satu Darah 


#Hari Pertama Workshop
Hari pertama workshop regional fasilitasi pendampingan dan pengelolaan potensi sumber daya PPKT diisi dengan pemaparan materi yang terdiri atas dua panel, di mana masing-masing panel diisi dengan 3 narasumber. Berikut gambaran panel dan materi yang dibawakan oleh masing-masing narasumber: Sebelum acara dimulai dengan sambutan Dirjen dan penyerahan simbolis barang ATN kepada fasilitator.

Panel 1 : DFW Indonesia, Cipta Karya – PU, Swiss Contact
1. DFW Indonesia: Status, Hasil dan Rencana Tindak Lanjut Program Prakarsa
2. Cipta Karya – PU: Identifikasi Penetapan Lokasi Kawasan Permukiman Khusus Pulau-Pulau Kecil Terluar
3. Swiss Contact: Tourism Development for selected Destinations in Indonesia

Panel 2 : BRI, EBTKE, GIZ
1. BRI: Pembiayaan Koperasi dan UKM Nelayan
2. EBTKE: Kebijakan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi untuk Meningkatkan Elektrifikasi di Daerah Tertinggal, Daerah Perbatasan serta Pulau-Pulau Kecil Terluar
3. GIZ: Pengelolaan Listrik Pedesaan untuk mendukung Ekonomi Pulau Pulau Kecil

Pameran Produk UEP Pulau Terluar
Pada saat workshop hari pertama di Kementerian Kelautan dan Perikanan juga diadakan pameran produk hasil usaha ekonomi produktif pulau terluar di antaranya: Pulau Selaru (Abon Ikan), Pulau Sebatik (Abon Ikan, bangke, buras garis, kacang bumbu ikan, keripik rumput laut, jejari rumput laut dan amplang), Pulau Lingayan (Kripik Ikan), Pulau Lutungan (gelang), Maratua (kerajinan dari batok kelapa), tidak ketinggalan ada pula kacang botol dari Saumlaki. Produk hasil UEP ini banyak peminatnya dibuktikan dengan banyak pengunjung yang tertarik menanyakan proses dan mencicipi hasil UEP tersebut.

Pameran UEP Pulau Terluar

***

#Hari Kedua Workshop
Focus Group Discussion
1. Topik 1: Peluang dan tantangan pengembangan kemitraan multi pihak (kewilayahan), pemasaran produk hasil usaha ekonomi produktif di PPKT.
Untuk diskusi di topik 1 membahas mengenai beberapa isu yang terkait dengan kebijakan, perencanaan, penganggaran, kapasitas, implementasi, monitoring dan evaluasi Prakarsa.

2. Topik 2: Peluang dan tantangan pengelolaan sarana dan prasarana Kelautan Perikanan, kelistrikan dan telekomunikasi-informasi di PPKT.
Pada tipik ke-dua ini banyak hal yang didiskusikan dalam FGD antara lain: isu mengenai pendidikan, sanitasi, sarana prasarana, sasarn proyek, regulasi, RTRW, biaya operasional.

Foto Bersama Seusai FGD


***

#Hari Ketiga Workshop “Wirausaha Sosial dan Pemasaran”

1. Urchinodesia (Mas Yuri)
Konsep wirausaha social yang paling sering kita dengar hingga saat ini yaitu 3P (Profit, People, Planet). Ketiga konsep ini integrasi satu sama lain dan kolaborasi silang untuk meningktakan suatu nilai produk. Ada beberapa hal perlu diperhatikan dalam wirausaha social, antara lain:
a. Indentifikasi masalah sosial
Melakukan identifikasi secara detail dan menyeluruh mengenai masalah social yang ada serta potensi yang bisa diambil. Contoh melonjaknya populasi bulu babi di suatu daerah merupakan salah satu hama bagi sebagian orang, tetapi itu sebuha potensi untuk pengolahan makanan dari bulu babi.
b. Social Engagement
Bagaimana kita melakukan pendekatan kepada masyarakat, menjalin hubungan pertemanan sampai bisa diterima di tengah-tengah masyarakat. Hal penting di mana kita membawa suatu misi khusus yang berhubungan  dengan ekonomi masyarakat.
c. Model Bisnis
Ada berbagai macam bentuk model bisnis yang bisa disesuaikan dengan kondisi lokasi dampingan.
d. Pemasaran
Pemasaran memegang kunci penting dari suatu produk. Diperlukan kejelian untuk melihat peluang pemasaran, kalau perlu menciptkan pasar itu sendiri.
e. Pengukuran Dampak
Dampak sosial akibat dari proses wirausaha sosial, misalnya anak-anak bisa sekolah, pendapatan nelayan/petani meningkat.
f. Kolaborasi Silang
Dalam wirausaha sosial, sangat dianjurkan untuk melakukan kolaborasi silang atau kerjasama dengan lembaga-lembaga atau pemerinta terkait dengan produk yang akan dihasilkan.
g. Market Place
Market place dapat diintervensi dengan teknologi sekarang ini. Jarak bukan lagi menjadi halangan untuk pemasaran. Salah contoh pasarlaut.com merupakan marketplace hasil laut.


2. Javara (Mas Martin)
Javara merupakan jembatan untuk emasarkan makanan asli atau pangan asli dari Indonesia sampai ke luar negeri. Pada intinya bagaimana suatu produk di suatu daerah bisa menjangkau sampai ke pasar. Tentu dengan adanya kolaborasi silang (kerjasama) antara lembaga-lembaga dan pemerintah terkait. Yang dilakukan Javara sampai saat ini, antara lain: pelatihan, sertifikasi, pemasaran, manfaat ekonomi (peningkatan pendapatan nelayan/petani, manfaat social dan kelestarian hasil pangan Indonesia).

Kelompok binaan Javara antara lain: tepung pisang, kenari, talas. Javara membina petani kenari dari Maluku Utara tepatnya di Pulau Makeyan. Yang khas dari kenari Makeyan adalah bentuknya besar dan enak rasanya. Untuk binaan tepung pisang dengan meningkatkan nilai tambah dari pisang menjadi tepung. Hal ini dilakukan melalui kolaborasi dengan LIPI untuk alat pembuat tepung. Dari tepung pisang tersebut bisa dibuat kukis atau makanan lain, diperhatikan juga kemasan suatu produk dan yang paling menarik adalah cerita di balik produk tersebut, karena ini menjadi nilai jual yang unik dari produk yang tidak ada dan tidak ditemukan di daerah lain.


spacer

#26 Selamat Datang di Pulau Larat



Kalwedo, kidabela!

Membawa semangat kalwedo dalam ruh setiap kehidupan masyarakat Maluku, terutama di kepulauan Tanimbar, kita semua bersaudara, kita semua harus bersatu. Inilah semangat kolaborasi sedari dulu yang ingin dibawa dan dibuat lebih “keren” di masa sekarang. Mengapa? Maluku Tenggara Barat sebagai salah satu lokasi Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (PSKPT) memerlukan kolaborasi, gandeng tangan serta turun tangan dari semua pihak. Bukan hanya tugas dari pemerintah daerah saja, tetapi didukung dengan semangat “Kalwedo” dari seluruh elemen masyarakat Tanimbar.
Kabupaten Maluku Tenggara Barat merupakan salah satu kabupaten Kepulauan di Provinsi Maluku yang terkonsentrasi pada gugus Kepulauan Tanimbar dengan luas keseluruhan 52.995,20 km2 yang terdiri dari wilayah daratan seluas 10.102,92 km2 (19,06%) dan wilayah perairan seluas 42.892,28 km2 (80,94%). Jumlah pulau-pulau kecil sebanyak 174 dan 122 diataranya telah bernama, panjang garis pantai sekitar 1623.27 km dan 4 (empat) pulau kecil terluar sebagai titik pangkal perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Australia menjadikan kabupaten Maluku Tenggara Barat sebagai kawasan yang sangat strategis.
Sebagaimana diatur dalam Perpres 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar mengandung 3 prinsip, yaitu: wawasan nusantara, berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Sehingga, perlu adanya sebuah pendampingan untuk menunjang kebutuhan dan menggali potensi masyarakat yang diimplementasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikananan melaui Dirjen Pengeloaan Ruang Laut dengan melatih dan mengirimkan para fasilitator pulau-pulau kecil terluar berpenduduk.
Adapun komponen program pendampingan pulau-pulau kecil terluar terdiri atas”
1.   Penguatan data dan Informasi di PPKT. Adanya pemetaan isu, tokoh masyarakat, profil pulau dan pendamingan pernecanaan desa.
2.   Penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) sarana dan Prasarana yang menjadi fokus pendampingan. Pendampingan penguatan kapasitas SDM, pelatihan teknis dan manajemen, penguatan kelembagaan dan pengembangan program inisiatif.
3.   Pengembangan kemitraan dan kerjasama. Adanya identifikasi dan fasilitasi mitra potensial, pengembangan usaha ekonomi produktif serta pengembangan program inisiatif KMP.
Pulau Larat dengan luas wilayah sekitar 124,89 Km2 merupakan salah satu dari empat pulau kecil terluar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang berdasarkan Perpres 78 tahun 2005 termasuk salah satu pulau terluar dari 92 pulau terluar berpenduduk yang ada di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga. Pulau Larat terletak di sebelah utara dari Pulau Yamdena (pulau terbesar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat). Secara administrasi seluruh desa-desa di Pulau Larat termasuk dalam wilayah Kecamatan Tanimbar Utara Kabupaten Maluku Tenggara Barat Propinsi Maluku. Berdasarkan data BPS MTB, 2014 Kecamatan Tanimbar Utara terdiri dari 8 desa dan 1 kampung dan khusus di Pulau Larat hanya terdiri dari 7 desa. Secara keseluruhan desa-desa di Pulau Larat terletak di sepanjang pesisir utara Pulau. Ketujuh desa di Pulau Larat tersebut antara lain Desa Ritabel, Desa Ridool, Desa Watidal, Desa Keliobar, Desa Kelaan, Desa Lamdesar Barat dan Desa Lamdesar Timur.
Pulau Larat merupakan pulau yang sudah memiliki infratruktur sarana dan prasarana yang memadai, seperi pelabuhan kapal barang, fery dan dermaga Jety Apung. Terdapat kantor pemerintahan, kantor Camat, Kantor KB, pos militer, kantor Pos dan Bank BRI. Saat ini sedang dilakukan proses pengerjaan jalan Trans Larat yang akan menghubungkan semua desa-desa di Pulau Larat, sehingga dapat mempercepat persebaran dan pertumbuhan ekonomi serta aksesbilitas yang memadai.
Masyarakat di Pulau Larat cukup beragam jenis mata pencahariannya. Ada yang berprofesi sebagai guru, PNS, nelayan, petani dan pembudidaya rumput laut. Potensi terbesar di Pulau Larat adalah perikanan tangkap, budidaya rumput laut dan kacang tanah. Saat ini harga rumput laut mengalami penurunan, yaitu Rp 5.000 - 6.000 per kg rumput laut kering. Hal ini sangat dirasakan betul oleh pembudidaya, sehingga beberapa pembudidaya mulai beralih ke kacang tanah. Untuk penerangan di Pulau Larat sudah terjangkau instalasi listrik PLN yang beroperasi dari pukul 18.00 – 06.00 WIT, hanya saja di dua desa paling ujung timur bagian pulau, yaitu desa Lamdesar Barat dan Timur masih sering padam hingga kini.
PLTS Terpusat di desa Lamdesar Barat dan Desalinasi Air Laut merupakan bantuan sarana dan prasarana pulau terluar yang diberikan oleh Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) kerjasama dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Saat ini kondisi kedua sarpras tersebut (PLTS dan desalinasi) masih mengalami kerusakan dan sudah dilaporkan baik ke Dinas terkait di Kabupaten (Dinas PU dan Tamben dan Dinas Kelautan dan Perikanan) dan Pusat (Kementrian kelautan dan Perikanan & Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral). Di bulan April 2016 ini, KKP mengadakan Bimtek untuk teknisi desalinasi pulau-pulau terluar. Harapannya dengan adanya Bimtek tersebut, sepulangnya nanti, teknisi dapat mengecek kerusakan dan memperbaikinya dengan sumber daya yang ada.
Diharapkan melalui program pendampingan masyarakat ini bisa menjadi stimulus untuk masyarakat setempat agar lebih percaya diri untuk membangun desa dan mengajak kolaborasi semua yang perduli akan kemajuan daerahnya. Laut merupakan masa depan kita, di laut kita jaya, laut adalah halaman depan rumah kita! Semoga kolaborasi terus tumbuh dan terjalin seperti halnya gandengan rantai baja yang saling melengkapi. Lebih ringan bukan kalau dipikul bersama, dan terasa indah proses kerja yang terjadi. Kami percaya dan bisa!


*Tnebar : Tanimbar

spacer

#23 Kelas Inspirasi Purworejo

Kapan terakhir kali Anda datang ke SD? Jajanan apa yang anda rindukan? Siapa guru favorit anda?
Masa sekolah dasar memang masa yang selalu dirindukan, pijakan awal kita untuk melangkah lebih jauh. Masa di mana beragam mimpi dan cita-cita, sejuta keceriaan, dan ketulusan bergabung jadi satu.

Kami mengajak Anda semua untuk cuti sehari mengajarkan tentang profesi Anda di beberapa sekolah dasar dalam kegiatan Kelas Inspirasi Purworejo. Bagi Anda memang hanya cuti sehari, tapi akan menjadi inspirasi anak-anak seumur hidupnya. Di kelas nantinya Anda akan menyaksikan mata mereka yang berbinar dan senyum optimisme wajah masa depan negeri ini. Izinkan mereka membawa pulang ingatan itu untuk mereka ceritakan kepasa orang tua, tetangga dan masyarakat bahwa mereka ingin seperti Anda semua.

Bersiaplah dalam Kelas Inspirasi Purworejo di bulan April 2016 !!
Penasaran? Hubungi CP 085228474281
Kelas Inspirasi ! Bangun Mimpi Anak Indonesia !
@ki_purworejo
spacer

#22 Menunggu Purnama

Di saat semua berdiri dalam terpaku di kesunyian malam, di saat bintang dan kerlip lampu mulai bersahutan. Aku duduk terdiam memandang dalam kejauhan akan artinya cinta sejati. Cinta bukan hanya sekadar ego untuk memiliki, tetapi kesucian dalam penjagaan yang diharapkan. Cinta sejati tidak memaksa untuk memiliki atau dimiliki. Namun, bila cinta telah tiba di saat yang tepat akan mengantarkan kita ke gerbang kehidupan yang abadi.

Cinta akan datang bila cinta membutuhkan cinta. Perlu sebuah dinamika yang pelik dan tidak sebentar untuk menumbuhkan rasa yang telah lama hilang. Di  waktu dulu kita penah saling duduk bersama dan bertatap muka dalam masa yang berbeda. Di saat kita telah mulai menemukan rasa yang sepat terbesit.Namun aku masih ragu, apakah ini hanya rasaku saja. Di saat rasa itu tiba-tiba muncul kembali menghantui dalam setiap perjalanan hidup. Di saat aku mulai ragu untuk menyatakannya. Ragu untuk mulai mengungkapkan arti rasa yang sebenranya. Apakah ini benar-benar cinta sejati yang tulus dari dalam hati ataukah hanya rasa dan ego untuk memiliki.Kadang aku masih bertanyya-tanya pada diriku sendiri. Aku masih ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi untuk mengabdi selama dua musim yang akan kujalani akan musim-musim berat maupu n musim-musim yang telah lama kujalani.

Aku ingat di saat kamu tersenyum kepadaku di kala itu. Senyuman penuh makna akan arti terdalam. Aku terpesona dan langsung hati saat itu. Senyuman yang begitu tulus dan membuatku selalu ingin memngulang kembali masa-masa itu. Aku kembali menuliskan senyumanmu itu. Menuliskan dalam lembaran putih coretan sederhana penuh emosi yang datang dari makna paling dalam. Bicara soal rasa yang kadang terlelap dalam lamunan senja di ufuk cakrawala. Menanti akan hadirnya tatapan mata dan sekelebat bayang yang selalu menghantui dalam setiap nafas-nafas. Dalam deru buaian angin malam yang dingin menusuk kulit-kulit kering. Teringat akan sebuah rasa yang lama terpendam dibalik kesunyian malam ditemani secangkir kopi hangat menhangatkan jiwa-jiwa yang telah lama sepi.

Terdengar suara gemerisik lembut pasir berisik pelan dan perlahan namun pasti selalu hadir dalam setiap langkah yang selalu menyertaimu. Kelabat sang burung camar terbang di jejak-jejak malam sunyi yang tertinggal di burutan kapal sore itu. Kapalmu telah melaju dengan perlahan meninggalkan garis tepi tempat aku berdiri di sini. Berdiri untuk selalu menunggu dalam ketidakpastian. Menungu untuk waktu yang telah ditentukan seperti purnama di ujung sana. Kau yang selalu kuat dan mandiri dalam setiap doa dan usahamu. Terkadang mengeluh akan hadirnya rasa yang tidak bisa terdefinisikan di dalam hati tak terduga. Kau yang tetap lanjut dalam perjalanan panjang untuk cita dan cintamu. Yang selalu merindukan akan hangatnya matahari khatulistiwa. Merindukan di setiap sudut-sudut kota yang penuh dengan kenangan dalam angan yang terbuai oleh makna.

Diri ini yang akan selalu optimis untuk selalu maju. Dirimu juga berharap sepeti itu sampai kita bertemu di belahan dunia yang selalu kita  impikan bersama di setiap malam panjang di tidurmu juga mimpiku. Berpijak di tanah yang penuh dengan salju. Bermain bola-bola salju dengan dirimu. Kubayangkan senyumanmu. Kubayangkan canda tawamu. Sorak dan semangatmu yang membara tidak sebanding dengan badanmu yang kecil. Sebuah penantian dan rasa harap memang terkadang menyakitkan juga membuat kita rindu akan hadirnya waktu itu kembali walaupun hanya sekejap mata memandang bayangan punggungmu yang beranjak pergi meninggalkanku. Terkadang aku juga takut akan rasa yang tiba-tiba menghantui kembali tanpa tahu kapan rasa itu datang dan pergi.

Membutmu tertawa dalam kebahagianku tersendiri. Tertawa dan ceria dalam tiap jengkal kehidupanmu. Kutitipkan sajak-sajak rindu petang ini pada sang purnama yang engkau akan melihat juga.Semoga bahagia dan seha selalu di sana. Aku di sini yang akan selalu menyebut namanu dalam setiap sujud di tengah malam ini.  Dari hati terdalam semoga engkau paham akan makna dari semua ini. Berharap rasa itu tidak datang lagi kembali padaku. Berharap rasa itu tetap tersimpan abadi selamanya di dalamrelung hatiku. Kusimpan rapat-rapat yang akan dibuka hingga ujung waktunya nanti. Selamat jalan sahabat. Selamat jalan, semoga engkau akan selalu bahagia dan terus menggapai cita dan cintamu.
spacer

#21 Di Suatu Sore

Sore itu......
Ketika sang surya mulai perlahan masuk ke peraduannya. Burung-burung pun mulai bergerak menuju sarangnya. Sejuk sang embun yang membasahi bumi, tanda kehidupan guyuran air dari sang langit. Di kejauhan tampak lampu satu per satu mulai berkelip-kelip menerangi malam yang perlahan semakin merasuki jiwa yang sunyi.

Sore itu.....
Terlihat ada yang beda dari tatapan wajahmu di waktu itu. Tatapan sendu nan riang yang sulit kumengerti. Senyuman yang seakan mengisyaratkan semangat dari dirimu. Semangat yang menular kepadaku sore itu untuk terus positif dalam memandang setiap kejadian dari perjalanan hidup. Diiringi suara jangkrik yang merdu bersahutan dengan suara katak di teras sana.

Teruntuk sahabat-sahabat terbaik yang selalu mengisi relung dan sendi kehidupanku. Sahabat yang silih terus datang dan berganti. Sebentar lagi kita akan berpisah untuk sementara waktu. Membumi dan mencumbu dengan ibu pertiwi nan suci dalam rajutan sebuah pengabdian nan tulus untuk senyum  mutiara cinta dari pelosok sana.

Kerlipan lampu malam semakin bertambah dan saling bersahutan. Seolah ingin malam ini terlihat indah di hadapan kita. Menerangi dalam setiap langkah-langkah kecil dalam sebuah pijakan awalan untuk jenjang yang lebih tinggi. Sebuah inspirasi dan perubahan datang dari berbagai sudut manapun yang kadang dekat sekali dengan kita. Terkadang kita tidak sadar, bahkan tidak mengerti akan hadirnya inspirasi itu. Butuh proses yang tidak mudah untuk mewujudkan sebuah perubahan kebaikan. Butuh perjuangan panjang yang membutuhkan  konsisten dan komitmen dari awal. Butuh untuk bersikap ikhlas dan menyingkirkan ambisi pribadi demi tujuan bersama yang lebih baik untuk masa depan anak cucu kita. Semoga jalan  ini menjadi langkah awal untuk langkah-langkah selanjutnya.  Langkah dalam balutan inpirasi nusantara. 
spacer