Listrik Rp 10.000,00 Per Bulan di Pulau Terdepan


Di tepian dermaga Lamdesar Barat, Pulau Larat, saya bertemu dengan kelompok pengelola pembangkit listrik tenaga surya, mereka menamakan dirinya "Faduk Mavu", padanan filosofi Cahaya Pengetahuan. Hadirnya terang dan cahaya di pulau terdepan pertanda ikhwal peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan, begitu harapan masyarakat sewaktu Rapat Negeri digelar. Faduk Mavu menjadi tumpuan keberlanjutan pengelolaan energi matahari di desa tepian Arafura tersebut.

Mari tengok ke belakang dan realitas, adanya kondisi mangkrak bantuan-bantuan dari pemerintah maupun pihak lain, karena kurangnya perhatian pada pembangunan manusia, penyiapan sumber daya untuk mengelola bantuan tersebut. Mengapa? Karena dengan adanya penyiapan sumber daya manusia untuk mengelola, keberlanjutan akan kesadaran kepemilikan dan kebutuhan bersama menjadi sebuah bagian dari nadi kehidupan masyarakat.

***

Tahun 2014, merupakan sebuah catatan masyarakat Lamdesar Barat, Pulau Larat. Sebuah desa pesisir di pulau terdepan, bilangan jarak 300 mil dari Darwin, Australia  ini, mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal dengan kapasitas 50 kwp (kilowatt-peak). Hal ini menjawab kebutuhan listrik di pulau terdepan.

Kehadiran fasilitator pulau terdepan merupakan teman bagi masyarakat dalam mengelola bantuan tersebut, akhirnya dibentuklah kelompok masyarakat pengelola (KMP). Masyarakat juga dilibatkan semenjak awal pembangunan, hal ini guna menunbuhkan rasa keberpihakan dan kepemilikan bersama. Gotong royong sudah menjadi ruh negeri ini. Dari anak sekolah sampai kakek nenek ikut membantu proses pembangunan PLTS yang diawali dengan doa dan upacara adat. Mereka mengambil porsi keterlibatan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Ada yang membangun fondasi panel surya, memikul baterai, membersihkan areal, menyediakan makanan dan minuman dan banyak cerita menarik lainnya.

Dalam perjalanan proses pendampingan, sudah ada kesepakatan dalam musyawarah desa mengenai aturan dalam pengelolaan (AD/ART), besarnya iuran tiap bulan, kerja bakti membersihkan areal PLTS, hal-hal yang tidak diperbolehkan dilakukan untuk menjaga kelangsungan pembangkit.
Proses pendampingan selalu ada cerita tersendiri. Ada cerita sukses dan sebaliknya, ada cerita "lecet" di pertengahan jalan. Justru proses "lecet" ini yang akan mendewasakan semua pihak dari masyarakat maupun pendamping. 

Bukan seberapa banyak kita jatuh, tetapi apakah kita mau bangkit dan berdiri kembali?

Ketika memasuki bilangan menjelang akhir tahun 2015, terjadi keresahan yang menjadi buah bibir masyarakat. Setelah ditelusur karena adanya salah satu oknum masyarakat yang menyambung kabel secara ilegal, sehingga mengakibatkan kerusakan pada salah satu komponen PLTS. Dengan adanya kerusakan tersebut, menjadi pelajaran cukup berharga bagi masyarakat, karena ketika sebelumnya di malam hari terang, sekarang gelap dan kembali menggunakan lampu minyak atau genset warga.

Adanya kemarahan dari masyarakat terhadap oknum tersebut, menjadikannya sebuah musyawarah panjang dalam Rapat Negeri yang dipimpin oleh kepala desa. Pemberlakuan sanksi dan hukuman pun diberikan, begitu juga dengan sanksi sosial secara tidak langsung dari masyarakat itu sendiri. Saat adanya kerusakan, kelompok pengelola sudah mengerti prosedur pelaporan yang harus dijalankan. Dimulai dari pemerintah desa sampai pemerintah kabupaten. Memang butuh proses bertahap, tetapi kelompok sudah melaksanakan prosedur yang sesuai.

Jawaban atas perbaikan akhirnya datang juga di tahun 2016, dalam kurun waktu sekitar 6 bulan kerusakan, komponen tetap dipelihara dan terjaga dengan baik. Setelah adanya perbaikan, digelar kembali ajang Rapat Negeri yang dipimpin oleh Kepala Desa untuk berkomitmen bersama masyarakat dalam menjaga dan mengelola PLTS. Kini mereka menyadari bahwa pengelolaan merupakan tanggung jawab bersama.

Dengan iuran Rp 10.000/bulan, masyarakat kembali menikmati kerlip cahaya di malam gulita. Iuran tersebut dikumpulkan untuk memberikan apresiasi kinerja kelompok pengelola dan perawatan PLTS. Saat ini sekitar 188 KK, 742 jiwa merasakan manfaat dari tiga buah mata lampu yang terpasang di tiap rumah. Geliat anak-anak belajar mulai tambah semarak, ibu-ibu mengelupas kulit kacang tanah dan membuat kain tenun serasa ada harmoni dalam bunyi ombak pecah di karang ujung desa.

Di lain kesempatan, pemerintah desa akan memasukkan anggaran perawatan PLTS jangka panjang dalam dokumen RPJMDes dan RKPDes. Satu lagi bentuk bukti konkrit dari masyarakat pulau terdepan dalam menjaga sarana prasarana. Pengelolaan bantuan berbasis masyarakat menjadi kepemilikan bersama untuk sebuah keberlanjutan. Pulau terdepan mengajarkan contoh kearifan dan arti sebuah tanggung jawab. Kunci keberlanjutan dari adopsi teknologi terletak pada kolaborasi aspek teknis dan sosial. Dukungan teknis berupa pelatihan operator pengelola dan transfer ilmu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Perlahan tapi pasti, kolaborasi membuka ruang diskusi dan partisipasi untuk proses kemajuan pulau terdepan.

Pemberian bantuan sarpras berupa teknologi baru (contoh PLTS) tanpa adanya keterlibatan, penyiapan sumber daya manusia untuk mengelolanya dan dukungan teknis yang bisa diakses, bisa jadi hanya sebuah pepesan kosong untuk bicara keberlanjutan! 

Mari berkolaborasi untuk pulau terdepan NKRI!

*artikel ini menjadi headline di Kompasiana, 19/2

Surat Kecil untuk Bapak


Bapak,
Tak terasa waktu cepat berlalu, putramu yang dulu nakal kini sudah beranjak dewasa. Putramu yang baru saja kemarin menyelesaikan jenjang perguruan tinggi dan juga baru mendapatkan pekerjaan, sebuah mimpi Bapak beberapa tahun silam bahwa putra pertamamu ini harus bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi entah bagaimana itu cara dan segala daya upaya. Dan beberapa mimpimu kini telah terwujud Pak !

Baru saja kemarin rasanya berada di pundakmu, sekarang putramu yang nakal ini sudah melewati usia kepala dua. Rasanya baru kemarin, Bapak meminta kami untuk rajin belajar, belajar dan belajar hampir setiap waktu. Bapak yang selalu mengawasi perkembangan sekolah kami. Mengawasi kenakalan-kenakalan kami di sekolah maupun di rumah. Bahkan Bapak-pun tahu dan mengerti pada saat aku berkelahi dengan teman di sekolah dan di lingkungan rumah, maupun pada saat aku ditilang oleh polisi pada pagi hari waktu akan berangkat ke sekolah.

Bapak yang paling paling keras mengajariku belajar membaca dimulai dari harus mengeja huruf satu per satu yang Bapak tempelkan di papan tulis hitam kecil kami. Sederetan abjad dari A sampai dengan Z ditambah dengan angka-angka yang sekarang selalu melekat dalam pikiran. Dari papan tulis hitam kecil itulah, aku belajar membaca, hingga lancar sampai sekarang.

Bapak yang selalu menerapkan disiplin dalam kehidupan kami. Bapak yang keras dan kokoh tak tertandingi, tetapi sangat lembut hatinya. Di pagi buta kami harus segera mandi untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kadang jika air di sumur kami mulai mengering, aku harus berlari sehabis Subuh ke tempat pemandian terdekat di sungai. Menerobos rasa takut dan dingin demi sebuah impian dan masa depan.

Bapak yang memastikan kami berangkat ke sekolah tepat waktu, Bapak tidak mau kami terlambat ke sekolah. Bapak yang selalu mencari kabar dari guru-guru kenalan Bapak mengenai tingkah laku kami di sekolah, sebegitu besar rasa sayang bapak kepada kami. Bapak yang selalu memastikan kami pulang sekolah langsung pulang ke rumah, tidak boleh main ke rumah teman dahulu karena ada beberapa tugas yang harus kami selesaikan.

Setelah pulang dari sekolah dasar, kami bergegas makan siang dan istirahat. Di sore harinya, kami dilatih bapak untuk mencari rumput buat kambing-kambing kami di rumah. Kadang dengan perasaan masih mengantuk, kami berangkat ke sawah atau tempat biasa kami mencari rumput. Pada petang harinya, kami harus segera mandi dan berangkat mengaji di surau. Bapak paling keras kepada kami dalam hal ini. Kami harus disiplin untuk mengaji dan khatam Al Quran. Bapak selalu memastikan hal tersebut. Bahkan aku teringat sempat pindah tempat untuk belajar mengaji beberapa kali. Bapak yang mengaturnya, ingin agar kami maju dalam hal pengetahuan juga agama untuk keseimbangan dalam hidup nantinya dan bekal kami kelak dewasa.

Bapak pula yang meminta kami untuk belajar adzan dan benar hampir tiap sore kami berangkat ke surau untuk adzan bahkan pernah sampai ke masjid di desa sebelah. Apalagi pada saat bulan puasa, Bapak tidak henti-hentinya mengingatkan kepada kami untuk segera ke masjid jika sudah mendekati waktunya, agar kami bisa adzan terlebih dahulu. Sungguh mulia sekali niat baikmu, Pak ! Bapak yang selalu menyuruh kami tetap diam di rumah sehabis sahur daripada ikut teman-teman sebaya kami keluyuran untuk main bola sehabis Subuhan. Bapak lebih memilih untuk meminta kami belajar dan mengaji di rumah saja. Walaupun kadang-kadang, aku juga sempat bergabung dengan teman-temanku tanpa sepengetahuan bapak.

Bapak pula lah yang mengajari kami untuk berlatih puasa baik pada bulan Ramadhan maupun hari-hari biasa. Kita belajar untuk puasa penuh dan belajar puasa Senin Kamis di hari biasa. Bapak dan Mamak yang selalu membuatkan tumpeng atau perayaan kecil dari beliau setiap kami berhasil melaksanakan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh puasa tanpa ada yang bolong-bolong.

Bapak yang selalu bersikeras bak bangunan yang kokoh tak tertandingi terus membangkitkan semangat mimpi-mimpi kami untuk sekolah lebih tinggi. Bapak yang selalu memotivasi kami dalam setiap langkahnya. Bapak yang bersikeras menyekolahkan saya di SMP favorit di kota sana, Bapak sangat yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa aku pasti bisa bersaing dengan anak-anak lainnya. Berkat usaha dan doa, aku lolos ke SMP tersebut sampai tetangga kami bahkan heran kenapa hal itu bisa terjadi apalagi setelah aku masuk ke kelas unggulan dengan beban biaya sekolah waktu  itu terasa bagi Bapak masih berat. Bapak akan mengusahakan jalan halal apa saja demi keberlangsungan sekolah anak-anaknya. Setelah lulus sekolah menengah, Bapak semakin besar tekadnya untuk menyekolahkanku di SMA nomor satu di kota kami. Bapak terus mendorong semangatku agar terus terjaga dan berkobar untuk seleksi tersebut. Dan alhamdulillah, doa dan usaha keluarga kami terjawab, aku melangkahkan kakiku ke sekolah tersebut yang menjadi batu pijakan pada akhirnya untuk menuju ke jenjang perguruan tinggi.

Bapak yang selalu mengajari kami untuk hidup prihatin dan menerima apa adanya serta selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Kuasa. Bapak selalu mengajari kami untuk bekerja keras karena dengan  bekerja keras kita akan banyak belajar mengenai hidup ini. Bapak yang selalu memintaku untuk tampil berani di setiap pertemuan-pertemuan di desa. Bahkan jika Bapak berhalangan, aku mewakili Bapak misalnya di acara selamatan ataupun kenduri warga. Bapak ingin aku belajar bersosialisasi dengan orang yang lebih dewasa dan lebih tua. Walaupun pada awalnya rasa cemas dan takut itu ada, tetapi aku berhasil mencobanya.

Bapak yang selalu marah jika kami lupa waktu, lupa dengan jadwal kegiatan sehari-hari kami karena keasyikan bermain dengan teman-teman. Bapak memberikan hukuman kepada kami agar kami belajar dari setia-setiap kesalahan yang kami perbuat. Namun, Bapak tidak segan-segan memberikan hadiah kepada kami jika kami mendapatkan hasil rapor yang bagus.

Bapak yang mengajari kepadaku arti hidup rukun. Rukun pada saudara kandungku dulu karena dulu kami sering bertengkar dan Bapak sangat marah jika kami bertengkar. Bapak meminta kami untuk saling meminta maaf. Bapak menasehati bahwa bersatu itu penting dalam ikatan keluarga, bagi Bapak keluarga kecil ini adalah segalanya.

Aku rindu dengan masa-masa bersama Bapak dulu. Aku rindu diboncengkan sepeda pada waktu menonton pertandingan sepak bola di lapangan kecamatan. Dibelikan makanan kesukaanku. Rasanya sudah cukup senang sekali waktu itu diboncengkan Bapak naik sepeda untuk sekadar jalan-jalan sore. Apalagi saat diajak Bapak bepergian naik bus ke saudara kami di Yogyakarta, dan pastinya Bapak selalu mengajak kami mampir berkunjung di salah satu kebun binatang yang cukup terkenal di sana. Melihat beberapa binatang yang belum pernah dilihat oleh kami, sangat senang sekali dan bahagia hati kami.

Bapak bangga sekali ketika aku mengikuti beberapa perlombaan semenjak dari sekolah dasar. Bapak bilang kepada kami tidak usah minder, percaya diri saja, semua orang itu sama. Bapak sangat bangga ketika aku mengutarakan bahwa diriku lolos menjadi finalis lomba penelitian ilmiah remaja di ibukota Jakarta. Bapak pulalah yang menemaniku pada saat mengikuti perlombaan di Jakarta. Bapak yang bercerita banyak hal mengenai perjalanan Bapak dulu. Bapak yang selalu mendukungku untuk berani maju dan jangan takut kalah pada saat perlombaan karena kamu sudah bagus sampai tahap ini. Bapak pulalah yang mengajakku jalan-jalan naik taksi dan bajaj. Walaupun dalam perlombaan tersebut aku belum bisa menang, tapi Bapak bangga sekali karena putra pertamanya pernah mewakili kabupaten untuk maju lomba ke tingkat nasional bertemu dengan orang-orang hebat yang sekarang menjadi salah satu motivasiku ingin menjadi seperti mereka, aku ingin menjadi seorang Profesor nantinya.

Bapak sangat senang sekali ketika di akhir tahun kelas tiga Sekolah Menengah Atas ketika mengetahui diriku lolos seleksi dua universitas ternama di Indonesia. Bapak pulalah yang sering menemaniku dalam mengikuti beberapa seleksi. Bapak memberikan pertimbangan agar aku memilih yang di ibukota agar aku bisa lebih belajar banyak hal dan benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Ya pak, kelulusan setahun yang lalu aku persembahkan dengan hormat dan bangga untukmu juga untuk mamak. Baru kali ini aku melihat bapak menangis di hadapanku pada waktu melihat aku keluar upacara wisuda di Balairung Universitas Indonesia, bapak menangis memelukku dengan tanpa banyak kata-kata yang terucap dari beliau, tapi aku tahu ini ungkapan paling dalam dari Bapak atas rasa bahagia bapak waktu itu. Aku memelukmu dalam-dalam, berterima kasih atas semua yang telah engkau berikan kepada kami.

Aku ingin membalas semua kebaikan budi yang telah Bapak tanamkan selama ini. Aku ingin memberikan ilmuku dan mengabdi untuk negeri dan tanah ini, seperti yang engkau telah ajarkan dulu kepada kami apa makna nasionalisme bagi kami. Engkau pun sempat menyelipkan tanah dan bendera merah putih kepadaku pada waktu aku pertama kalinya naik pesawat untuk berangkat ke Kuala Lumpur selama satu bulan. Bapak selalu mengingatkan kepadaku, Jaga nama Indonesia! Buat Indonesia bangga lewat dirimu ! Sekali lagi aku mohon doa restunya Pak agar aku bisa menyelesaikan segala proses yang telah aku mulai dan jalani, untuk satu tahu mengabdi di negeri yang sangat kucintai ini Pak, seperti engkau mencintai putra-putranya. Bapak ingin agar segala bentuk perjaanan menjadi sebuah mahakarya yang dapat membanggakan Indonesia. Bapak pulalah yang selalu memberikan kepadaku bendera Indonesi ketika setiap aku pergi dalam suatu pekerjaan.

Pak, putramu ini memang tak pandai untuk berkata dan menceritakan tentang dirimu. Tidak cukup hanya dengan tulisan ini saja, tidak cukup hanya dengan satu buku. Tapi aku sangat bangga mempunyai seseroang lelaki yang kukenal pertama kali dalam hidupku, Bapak.

Bagiku, Bapak adalah seorang lelaki yang sangat hebat dan kokoh tak tertandingi ini, sekarang engkau sudah semakin bertambah usia. Sudah banyak uban yang tumbuh di rambut Bapak. Terima kasih pak atas semua ini, semua yang telah bapak berikan kepadaku hingga aku bisa menyelesaikan pendidikan ke lebih tinggi. Aku janji akan meneruskan perjuangan bapak untuk berjuang lagi meraih beasiswa  ke luar negeri sampai menjadi Profesor seperti cita-citaku dahulu. Terima kasih sudah menjadi seorang Bapak, pembimbing, teman dan partner yang luar biasa dalam hidupku. Jasa-jasamu sungguh tak terhitung. Aku mendoakanmu selalu agar Bapak selalu diberi kesehatan oleh Tuhan dan diberi umur panjang. Aku ingin melihat Bapak tersenyum di hari-hari bahagiaku nanti. Semoga bapak selalu bahagia. Terima kasih Bapak atas segalanya. Aku rindu bapak.

Pak, aku sayang Bapak :)

Penulis:
Wido Cepaka Warih

Mamak, Sang Inspirator Hidupku

Mamak, Sang Inspirator Hidupku


Mamak, panggilan kami kepada seorang perempuan yang sangat spesial dan kokoh tak tertandingi di dunia ini. Mamak yang telah mengajari kepada kami banyak hal. Membuka mata kami pada kehidupan di dunia ini. Tidak akan cukup kata-kata dalam tulisan ini untuk menceritakan kebaikan mamak, sampai kapanpun tidak akan cukup walaupun ditulis dalam bentuk buku sekalipun. Kasih mamak yang tulus dan tak terhingga. Mamak yang selalu menggendongku di waktu kecil, membawa ke mana-mana, ke banyak tempat, ke banyak perjalanan. Yang sangat diingat Mamak menggendong kami ke rumah nenek waktu itu melewati jembatan gantung penghubung antar dua desa dengan susah payah tanpa kami mendengar keluhannya.

Mamak pulalah yang selalu membangunkan kami di pagi hari untuk mengingatkan kami sholat dan bersiap berangkat sekolah. Mamak yang selalu menyediakan sarapan pagi pada kami. Mamak yang luar biasa yang selalu menyiapkan air hangat untuk mandi di pagi hari yang dingin. Mamak yang menyiapkan baju kami untuk sekolah waktu kecil dulu. Setelah pulang sekolah, mamak sudah menyiapkan makan siang buat kami, kadang memang belum tersedia makan siang dari mamak karena mamak sedang bekerja, maka kami harus mandiri untuk menyiapkan makan siang sendiri.

Mamak yang selalu menyuruh kami tidur siang agar sorenya nanti segar waktu mengaji di langgar (mushola). Mamak yang tak pernah kenal lelah mengantarkan kami mengaji, menyeberangkan kami karena memang kami takut menyeberang jalan besar yang dipenuhi dengan mobil dan motor yang silih berganti. Mamak pulalah yang menjemput kami pulang ke rumah ketika kami keasyikan bermain setelah mengaji. Mamak yang selalu mengingatkan kepada kami untuk bersiap "maghriban" di mushola sebelum bapak pulang, Mamak tidak mau kami dimarahi Bapak kalau maghrib belum di mushola. Mamak yang selalu menyiapkan makan malam terbaik kami walaupun kadang apa adanya tapi sungguh nikmat luar biasa. Mamak yang kadang suka menemani kami belajar di malam hari, padahal beliau sudah lelah seharian mengurusi rumah dan kami. Terkadang kami tertidur di meja belajar, Mamak yang membangunkan kami untuk pindah ke tempat tidur. Malah pada saat awal sekolah dasar Mamak yang menggendong kami ke tempat tidur ketika kami ketiduran waktu mengerjakan PR di malam hari. Beliaulah yang menyelimuti kami di malam itu, mendoakan kami dengan setulus hati agar kami menjadi anak yang berbakti, sholeh dan pintar.

Mamak yang selalu membela kami di depan Bapak ketika Bapak memarahi kami akibat kenakalan yang kami lakukan. Mamak yang memberi nasihat kepada kami sehabis kami dimarahi Bapak. Tidak tergambar raut muka marah kepada kami, kami ingat senyuman itu agar kami berjanji kepada beliau untuk tidak mengulangi kembali kenakalan kami. Mamak kadang sedih kalau kita bermain dengan teman-teman sampai lupa waktu. Mamak pulalah yang selalu mencari kami ke tempat kami bermain, terkadang hal ini membuat Mamak sedikit marah kepada kami, karena janji yang telah kami langgar. Kami sedih jika melihat Mamak menangis, kami tidak tahu penyebabnya. Terkadang beberapa teman-teman masa kecil kami iri dengan kami, karena perhatian dan rasa sayang Mamak besar sekali kepada kami. Tapi Mamak selalu membesarkan mereka untuk selalu sayang dan berbakti kepada orang tua mereka.

Mamak yang sering "kuwalahan" menghadapi permintaan kami yang aneh-aneh, walaupun Bapak sudah menolaknya, terkadang Mamak diam-diam membelikannya buat kami. Mamak pulalah yang selalu melerai dan mengusap kepala kami ketika kami saling bertengkar. Mamak sang pendamai bagi kami. Mamak juga selalu membesarkan hati kami ketika nilai kami di sekolah turun. Kami takut dimarahi oleh Bapak, tapi Mamak selalu menenangkan kami dan menemani kami untuk belajar kembali. Mamak yang sering tidak tidur di malam hari ketika melihat kami panas kepala atau badan menggigil. Beliau yang mengompres kami dengan dengan air hangat, membuatkan kami minuman hangat, menyuapkan kepada kami makanan hangat ketika kami kecil dahulu. Mamak yang membawa kami ke pak mantri terdekat ketika panas kepala kami mulai naik kembali. Mamak menghibur kami bahwa penyakit itu ujian dari Tuhan agar kami lebih kuat dan selalu berdoa kepada-Nya.

Mamak yang selalu membesarkan hati kami ketika kami mendapatkan ejekan dari teman-teman kami. Mamak yang selalu cemas dan khawatir ketika kami belum pulang mencari rumput untuk kambing-kambing kami. Mamak yang selalu menunggu dan menyiapkan air untuk mandi di sore itu. Mamak yang selalu mendukung dan mendengarkan cita-cita tinggi kami. Beliau selalu tersenyum ketika kami bersemangat menceritakan ingin jadi ini itu ketika kami besar nanti. Mamak selalu mendoakan yang terbaik untuk kami.

Sampai ketika kami kuliah-pun, terkadang Mamak yang lebih banyak menelpon kami sekadar untuk menanyakan kabar kami, menanyakan kami sudah makan atau belum, sehat atau tidak. Mamak yang menyemangati kami ketika kami mau ujian semester, beliau mendoakan kami agar kami mendapatkan hasil yang terbaik. Beliau selalu pesan untuk menjaga ibadah dan kejujuran kepada kami di manapun kami berada. Mamak senang pada waktu aku memberi kabar mengenai skripsiku kepada Mamak apalagi pada saat menjelang sidang. Mamak yang datang bersama Bapak dan Adik ke acara wisudaku. Mamak menangis terharu dan memeluku dalam dan lama. Tanpa banyak kata, tapi sungguh Mamak telah mengatakan dari hati paling dalam beliau. Mamak menjadi orang yang paling bahagia pada saat melihatku wisuda di kampus perjuangan ini. Sebuah mahakarya yang aku persembahkan untuk buah keringat perjuangan Mamak dan Bapak. Aku berjanji kepada Mamak untuk selalu membahagiakannya. Terima kasih Mamak, kata-kata tidak akan pernah cukup untuk mu Mak, dari hati paling dalam kami selalu menyebut nanamu dalam doa kami, semoga Mamak selalu sehat selalu. Terima kasih ibuku tercinta, mamaku  tersayang. Kami sangat sangat bangga kepada Mamak.

Penulis:
Wido Cepaka Warih

Pembelajaran dari Sebuah Proses Pendampingan di Pulau Terluar Indonesia

Selama proses pendampingan yang dilakukan fasilitator di Pulau Larat, tidak sedikit hal-hal yang didapatkan yang telah memberi pelajaran maupun pengalaman berharga. Selama kurang lebih delapan bulan hidup dan tinggal bersama masyarakat, menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, serta melibatkan diri langsung dalam setiap aktivitas yang kiranya bisa memperat hubungan fasilitator dengan masyarakat dan seluruh stakeholder yang berkepentingan. Berikut uraian singkat pembelajaran berharga yang fasilitator dapatkan selama hidup bersama masyarakat di Pulau Larat:

A. Membangun Indonesia dari Pinggiran
Membangun Indonesia dari Pinggiran, merupakan sebuah perwujudan nawacita dari Presiden RI Bapak Joko Widodo dalam mengawal pembangunan negeri dimulai dari perbatasan dan daerah terdepan Indonesia. Sudah selayaknya sebagai anak bangsa, kita juga ikut mengawal niat dan aksi baik ini demi mewujudkan sebuah taman garda terdepan yang menjadi idaman setiap warga negara. Program pendampingan efektivitas sarana dan prasarana (Prakarsa) di pulau-pulau terluar merupakan implementasi dari nawacita membangun Indonesia dari pinggiran sebagai buah kerjasama antara DFW Indonesia dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mengawal pembangunan di pulau-pulau kecil terluar (PPKT) Indonesia. Menjadi seorang fasilitator untuk mendampingi kelompok pengelola sarana dan prasarana bantuan dari pemerintah bukanlah sebuah hal yang mudah. Terkait bagaimana merubah pola pikir masyarakat mengenai bantuan itu sendiri, peran kami untuk memberikan penyadaran terhadap masyarakat bahwasanya aset itu milik mereka, milik masyarakat, sehingga perlu adanya perhatian dan perawatan dari masyarakat. Kami terus berproses dalam kurun waktu delapan bulan mendampingi kelompok pengelola desalinasi, PLTS, abon ikan dan jetty apung. Lambat laun kelompok mulai berbenah diri, mulai nampak capain dambaan, mulai mengerti akan arti sebuah pengelolaan begitu juga dengan masyarakat setempat. Membangun Indonesia dari pinggiran bukanlah sebuah keniscayaan, tetapi sebuah sentuhan dan optimisme bahwa Indonesia dibangun dari sentuhan hangat kolaborasi dari berbagai pihak yang peduli.


B. Partisipasi dan Apresiasi
Pembangunan di pulau-pulau kecil terluar (PPKT) pada dasarnya sebagai sebuah rangkaian upaya pembangunan nasional yang berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk mewujudkan tujuan nasional yang termaksud dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamain abadi dan keadilan sosial. Membangun desa-desa di PPKT memerlukan serangkaian partisipatif kolaboratif dari segenap elemen masyarakat yang ada, dimaksudkan agar aspirasi dari berbagai kebutuhan dapat ditampung dengan baik. Selama bertugas di pulau terluar, saya pribadi belajar banyak hal mengenai arti sebuah partisipasi. Saya menjadi saksi saat mengikuti sebuah Rapat Negeri di suatu desa. Rapat negeri ini dihadiri oleh segenap elemen masyarakat dari pemerintah desa, adat, majelis agama, pendidik, masyarakat umum. Rapat negeri bertujuan untuk membahas mengenai pembangunan desa yang sudah tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMD). Saat rapat negeri berlangsung, saya sebagai fasilitator juga menyampaikan ide dan pendapatnya mengenai keberlanjutan pengelolaan bantuan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Selain itu apresiasi dari pemerintah pusat atas pencapaian pengelolaan menjadi sebuah pengalaman berharga untuk pengelola bantuan, seperti teknisi dan operator kelompok masyarakat pengelola (KMP) PLTS Faduk Mavu Desa Lamdesar Barat, Pulau Larat yang diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan PLTS pada bulan Agustus 2016. Begitu juga dengan teknisi kelompok desalinasi Tavarsina desa Ritabel diberangkatkan pada awal bulan Oktober 2016 untuk Bimtek Teknis Desalinasi di Kota Tual, Provinsi Maluku.

C. Belajar Toleransi dari Sudut Negeri


Toleransi itu bukan hanya diajarkan, tetapi juga dirasakan secara langung dari guru kehidupan. Selama delapan (8) bulan tinggal dan menyelami kehidupan masyarakat di Pulau Larat, fasilitator belajar banyak hal mengenai arti sebuah toleransi. Tersebutlah pada sebuah desa di mana ada PLTS, fasilitator tinggal bersama orang tua angkat dan menjadi satu-satunya muslim di desa tersebut. Saat itu sudah memasuki bulan Ramadhan, begitu juga dengan fasilitator menjalankan ibadah puasa. Orang tua angkat sudah menyiapkan makanan dan minuma untuk berbuka ketika menjelang waktu berbuka itu tiba, bahkan terus menanyakan keadaan fasilitator apakah masih kuat, masih sehat, bagaimana kondisi tubuh. Ini sebuah perhatian tulus dan seorang orang tua angkat di sebuah desa pulau terluar.

D. Sekolah Kepemimpinan dan Pengembangan Diri
Tinggal bersama dengan masyarakat dalam jangka waktu tertentu dalam proses pendampingan merupakan sekolah kepemimpinan bagi fasilitator. Ada banyak dimensi kepemimpinan yang berkembang dari fasilitator seperti Facilitating for Change (mendorong orang lain untuk mencari kesempatan melakukan pendekatan-pendekatan yang berbeda dan inovatif dalam menghadapi masalah dan peluang; memfasilitasi terjadinya penerapan dan penerimaan perubahan di tempat kerja), initiation acting (aksi inisiatif), decision making (kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami isu, masalah serta peluang; membandingkan data dari berbagai sumber untuk menarik kesimpulan; menggunakan pendekatan yang efektif untuk memilih serangkaian tindakan atau menyusun solusi yang tepat; mengambil tindakan yang konsisten dengan fakta, keterbatasan dan konsekuensi yang ada), dan Building Positif Working Relationships/BPWR (kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan hubungan kolaboratif untuk memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan kerja).

E. Pemahaman Akar Rumput
Grass root understanding (pemahaman akar rumput) merupakan sebuah modal bagi setiap anak bangsa untuk memahami apa yang terjadi di tingkat paling bawah. Realitas dan kondis real yang terjadi dalam pergulatan kehidupan masyarakat khususnya di pulau-pulau kecil terluar. Menjadi seorang fasilitator merupakan sebuah kesempatan berharga untuk memahami dan mendalami geliat permasalahan yang terjadi di masyarakat. Diharapkan kita dapat menyerap sebanyak apapun yang dapat kita lihat dan rasakan atas realitas yang ada, sebagai dasar yang kuat untuk menjadi pemimpin di masa mendatang. Dengan pemahaman akar rumput, seorang pemimpin diharapkan dapat menyentuh sampai ke tingkat akar rumput.

Belajar Bersama Masyarakat di Pulau Terluar


Kalwedo, kidabela!
Membawa semangat kalwedo dalam ruh setiap kehidupan masyarakat Maluku, terutama di kepulauan Tanimbar, kita semua bersaudara, kita semua harus bersatu. Inilah semangat kolaborasi sedari dulu yang ingin dibawa dan dibuat lebih “keren” di masa sekarang. Mengapa? Maluku Tenggara Barat sebagai salah satu lokasi Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (PSKPT) memerlukan kolaborasi, gandeng tangan serta turun tangan dari semua pihak. Bukan hanya tugas dari pemerintah daerah saja, tetapi didukung dengan semangat “Kalwedo” dari seluruh elemen masyarakat Tanimbar.

Kabupaten Maluku Tenggara Barat merupakan salah satu kabupaten Kepulauan di Provinsi Maluku yang terkonsentrasi pada gugus Kepulauan Tanimbar dengan luas keseluruhan 52.995,20 km2 yang terdiri dari wilayah daratan seluas 10.102,92 km2 (19,06%) dan wilayah perairan seluas 42.892,28 km2 (80,94%). Jumlah pulau-pulau kecil sebanyak 174 dan 122 diataranya telah bernama, panjang garis pantai sekitar 1623.27 km dan 4 (empat) pulau kecil terluar sebagai titik pangkal perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Australia menjadikan kabupaten Maluku Tenggara Barat sebagai kawasan yang sangat strategis.

Sebagaimana diatur dalam Perpres 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar mengandung 3 prinsip, yaitu: wawasan nusantara, berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Sehingga, perlu adanya sebuah pendampingan untuk menunjang kebutuhan dan menggali potensi masyarakat yang diimplementasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikananan melalui Dirjen Pengeloaan Ruang Laut dengan melatih dan mengirimkan para fasilitator pulau-pulau kecil terluar berpenduduk. Adapun komponen program pendampingan pulau-pulau kecil terluar terdiri atas:

  1. Penguatan data dan Informasi di PPKT. Adanya pemetaan isu, tokoh masyarakat, profil pulau dan pendamingan pernecanaan desa.
  2. Penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) sarana dan Prasarana yang menjadi fokus pendampingan. Pendampingan penguatan kapasitas SDM, pelatihan teknis dan manajemen, penguatan kelembagaan dan pengembangan program inisiatif.
  3. Pengembangan kemitraan dan kerjasama. Adanya identifikasi dan fasilitasi mitra potensial, pengembangan usaha ekonomi produktif serta pengembangan program inisiatif KMP.

Pulau Larat dengan luas wilayah sekitar 124,89 Km2 merupakan salah satu dari empat pulau kecil terluar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang berdasarkan Perpres 78 tahun 2005 termasuk salah satu pulau terluar dari 92 pulau terluar berpenduduk yang ada di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga. Pulau Larat terletak di sebelah utara dari Pulau Yamdena (pulau terbesar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat). Secara administrasi seluruh desa-desa di Pulau Larat termasuk dalam wilayah Kecamatan Tanimbar Utara Kabupaten Maluku Tenggara Barat Propinsi Maluku. Berdasarkan data BPS MTB, 2014 Kecamatan Tanimbar Utara terdiri dari 8 desa dan 1 kampung dan khusus di Pulau Larat hanya terdiri dari 7 desa. Secara keseluruhan desa-desa di Pulau Larat terletak di sepanjang pesisir utara Pulau. Ketujuh desa di Pulau Larat tersebut antara lain Desa Ritabel, Desa Ridool, Desa Watidal, Desa Keliobar, Desa Kelaan, Desa Lamdesar Barat dan Desa Lamdesar Timur.

Pulau Larat merupakan pulau yang sudah memiliki infratruktur sarana dan prasarana yang memadai, seperi pelabuhan kapal barang, fery dan dermaga Jety Apung. Terdapat kantor pemerintahan, kantor Camat, Kantor KB, pos militer, kantor Pos dan Bank BRI. Saat ini sedang dilakukan proses pengerjaan jalan Trans Larat yang akan menghubungkan semua desa-desa di Pulau Larat, sehingga dapat mempercepat persebaran dan pertumbuhan ekonomi serta aksesbilitas yang memadai.

Masyarakat di Pulau Larat cukup beragam jenis mata pencahariannya. Ada yang berprofesi sebagai guru, PNS, nelayan, petani dan pembudidaya rumput laut. Potensi terbesar di Pulau Larat adalah perikanan tangkap, budidaya rumput laut dan kacang tanah. Saat ini harga rumput laut mengalami penurunan, yaitu Rp 3.000 - 4.000 per kg rumput laut kering. Hal ini sangat dirasakan betul oleh pembudidaya, sehingga beberapa pembudidaya mulai beralih ke kacang tanah. Untuk penerangan di Pulau Larat sudah terjangkau instalasi listrik PLN yang beroperasi dari pukul 18.00 – 06.00 WIT, hanya saja di dua desa paling ujung timur bagian pulau, yaitu desa Lamdesar Barat dan Timur masih padam hingga kini, dikarenakan beberapa instalasi tiang listrik mengalami kerusakan seperti patah maupun jatuh.

PLTS Terpusat di desa Lamdesar Barat dan Desalinasi Air Laut merupakan bantuan sarana dan prasarana pulau terluar yang diberikan oleh Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) kerjasama dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Saat ini kondisi kedua sarpras tersebut (PLTS dan desalinasi) sudah dapat beroperasi dengan baik setelah mengalami perbaikan/revitalisasi pada bulan Agustus dan November 2016. Pada tahun 2016 ini, sebuah apresiasi dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam hal memberangkatkan teknisi PLTS dan Desalinasi untuk mengikuti bimbingan teknis bagi pengelola bantuan. Harapannya, ini sebagai sebuah langkah awal kemandirian dalam pengelolaan, ke depannya diharapkan apabila terjadi kerusakan dapat diatasi terlebih dahulu oleh teknisi lokal/kelompok.

Diharapkan melalui program pendampingan masyarakat ini bisa menjadi stimulus untuk masyarakat setempat agar lebih percaya diri untuk membangun desa dan mengajak kolaborasi semua yang perduli akan kemajuan daerahnya. Laut merupakan masa depan kita, di laut kita jaya, laut adalah halaman depan rumah kita! Semoga kolaborasi terus tumbuh dan terjalin seperti halnya gandengan rantai baja yang saling melengkapi. Lebih ringan bukan kalau dipikul bersama, dan terasa indah proses kerja yang terjadi. Kami percaya dan bisa!

Ringkasan Pendampingan Pulau Terluar Indonesia (Pulau Larat)

Pantai Keliobar, Pulau Larat
Pulau Larat sebagai salah satu pulau terluar memiliki sumber daya yang beraneka ragam, seperti hasil laut maupun hasil pertaniannya. Merupakan sentra perikanan tangkap dan pengembangan rumput laut serta kacang tanah menjadi komoditas unggulan dari Pulau Larat. Dikenal dengan kekayaan biodiversitas dari tanaman langka layaknya Anggrek Lelemuku dan berbagai macam jenis burung yang ada di negeri cahaya ini (Larat berarti Cahaya). Sudah sewajarnya berada di ujung utara Tanimbar semakin sering mendapatkan perhatian dari Pemerintah baik daerah maupun pusat, baik berupa pemberdayaan masyarakat maupun bantuan sarana dan prasarana.

Proses fasilitasi dan pendampingan efektivitas sarana dan prasarana Pulau-Pulau Kecil Terluar Berpenduduk (PPKT), khususnya Pulau Larat yang terletak di Kabupaten Maluku Tenggara Barat sudah berjalan selama delapan (8) bulan. Ada beberapa catatan perkembangan yang terjadi dari bulan ke bulan yang ditemui oleh fasilitator selama berada di lapangan bersama masyarakat. Hal ini tentunya tidak lepas berkat dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Tenggara Barat, Dinas PU dan Tamben, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), Pemerintah Kecamatan Tanimbar Utara, Pemerintah Desa di Pulau Larat, Kelompok Masyarakat Pengelola (KMP) Desalinasi, Jetty Apung dan PLTS Terpusat serta dukungan dari seluruh masyarakat di Pulau Larat yang selalu berbaik hati kepada fasilitator. Adapuan proses pendampingan meliputi penguatan data dan informasi, penguatan kelembagaan dan SDM, pengembangan kemitraan dan pasar serta program inisiatif lainnya yang telah dilaksanakan.

Disamping itu, fasilitator juga melakukan pendekatan secara khusus dengan masyarakat guna mendukung pelaksanaan pendampingan. Seperti terlibat dalam acara di desa, diskusi santai dengan masyarakat yang sedang berkumpul, ataupun ikut dalam kegiatan sosial lainnya. Selanjutnya dari proses dan metode yang dilakukan fasilitator, didapatlah hasil yang menjadi tujuan dari program pendampingan. Meskipun hasilnya tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan, namun terdapat perbedaan dari sebelum pendampingan dan sesudahnya.

Proses pembuatan profil Pulau Larat sebagai penguatan data dan informasi dilakukan dengan serangkaian koordinasi dengan SKP terkait, survei institusional, wawancara, FGD, PRA, serta obervasi secara langsung untuk melihat kondisi real di lapangan. Selain output berupa profil pulau, untuk menambah khasanah data di dunia maya, fasilitator juga membuat blog dan tulisan terkait potensi Pulau Larat.

Ada tiga kelompok yang didampingi yaitu kelompok PLTS, Desalinasi dan UEP Abon Ikan. Proses pendampingan kelompok meliputi pelatihan administrasi, pelatihan keuangan sederhana dan kegiatan, fasilitasi pelatihan teknisi kelompok, fasilitasi pameran produk UEP dan pertemuan bulanan kelompok. Selain itu fasilitator juga membantu dan memfasilitasi kelompok pengelola sarana prasarana dalam hal perbaikan desalinasi dan PLTS. Masing masing anggota kelompok sudah semakin memahami tugasnya, dilihat dari kemampuan anggota kelompok mengatasi masalah jika terjadi kerusakan kecil dari perangkat desalinasi ataupun PLTS. Mereka tidak lagi saling bergantung, dan berusaha menyelesaikan semampu mereka. Disamping itu terjadi peningkatan kemampuan kelompok juga dalam hal penyusunan laporan keuangan, dan telah disusun juga masing - masing satu profil kelompok (profil kelompok PLTS dan Desalinasi) yang bisa digunakan kelompok untuk lebih mengembangkan pengelolaan sarpras. Sekarang sudah bisa dilihat bahwasanya masyarakat PPKT siap menjaga aset bantuan dari pemerintah yang menjadi milik mereka.

Untuk menambah warna di PPKT, fasilitator merintis Rumah Baca sebagai wadah anak-anak di Pulau Larat untuk menemukan jendela dunia dan menemukan potensi yang ada serta dalam menjalin tenun nusantara, dibuatkanlah jejaring anak nusantara yang diberi nama Sahabat Nusantara, program sahabat pena antara Indonesia Bagian Timur dengan Indonesia Bagian Barat.

Profil untuk Newsletter Prakarsa-KKP

WIDO CEPAKA WARIH

Fasilitator yang biasa dipanggil Wido ini adalah keturunan Jawa yang lahir dan dibesarkan di Purworejo, Jawa  Tengah. Sulung dari dua bersaudara ini berhasil menyelesaikan studinya di Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (UI) angkatan 2009.

Semasa kuliah, Wido aktif dalam kegiatan organisasi kampus mulai dari Himpunan Mahasiswa Geografi (HMG), Koperasi Mahasiswa FMIPA UI, Ikatan Mahasiswa Geografi (IMAHAGI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia. Wido juga berkesempatan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XXIV Makassar, Pertukaran Pelajar di University of Malaya, Malaysia dan menjadi perwakilan dari Universitas Indonesia dalam ajang Indonesia Japan Joint Symposium (IJJS) di Chiba University, Jepang. Wido juga pernah bekerja dalam bidang pemetaan sebagai GIS Analyst di dua perusahaan swasta.

Ketertarikan Wido dalam dunia pemberdayaan masyarakat dan pendampingan dimulai ketika saat menjadi Pengajar Muda (PM) dalam Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Saat itu Wido menjadi PM di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Selain bertugas sebagai pengajar di sekolah dasar, Wido juga menggerakkan segenap elemen masyarakat untuk terlibat dan peduli pada pendidikan. Bahwasanya pendidikan adalah tugas dari setiap insan yang terlahir, pendidikan menjadi milik bersama secara kerja bakti dari kolaborasi semua elemen.
Saat ini Wido sedang menjalani tugas sebagai Fasilitator Pulau-pulau Kecil Terluar (PPKT) Berpenduduk di Pulau Larat, Kab. Maluku Tenggara Barat. Kecintaannya pada negeri ini, berbagi dan dorongan untuk terus belajar menjadi motivasi kuat memilih untuk mendampingi masyarakat di PPKT.

Selain pendampingan sarana dan prasarana, fasilitator juga mengajak semua pihak untuk terlibat dalam mengelola sumber daya yang ada, salah satunya adalah potensi masa depan anak-anak di Pulau Larat melalui Gerakan Rumah Baca. Buku merupakan gerbang mereka untuk melihat dunia di luar sana. Sebagai inspirasi menggantungkan mimpi di sudut-sudut negeri setinggi langit menjulang. Mutiara yang akan menjadi harapan masyarakat di Pulau Larat.

Pulau Larat merupakan surga yang tersembunyi dengan sejuta makna dan potensinya. Sebagai salah satu ikhtiar bersama yang mengajak kolaborasi segenap pihak, maka muncullah inisiatif untuk membuat wahana bercerita kepada dunia melalui laman http://pesonalarat.blogspot.com. Laman ini merupakan sebuah jendela untuk membuka ruang kepedulian akan Pulau Larat. Semoga niat dan ikhtiar baik ini menjadi aksi yang terus positif dengan keterlibatan lebih luas.

Menjadi seorang Fasilitator bukan hanya bercerita mengenai bagaimana serunya mengarungi Laut Arafura dengan perahu ketinting, berceloteh riang bersama nelayan, atau menemani seorang nelayan rumput laut ketika sedang memerika long line budidaya, ataupun berbagi keceriaan bersama anak-anak negeri ketika senja menjelang di sebuah dermaga kecil desa di ujung timur pulau, tetapi sebuah proses pembelajaran tiada henti bersama kearifan masyarakat.

Dari masyarakat di Pulau Larat, kita bisa belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal, belajar kearifan lokal dan budaya mereka, belajar untuk tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar serta belajar memaknai setiap kebahagiaan.


Merah Putih Berkibar di Pulau Terluar Indonesia


Ini cerita mengenai keseruan kegiatan Aksi Tepian Negeri di Pulau Larat. Langit kala itu menjadi saksi berkumandangnya Indonesia Raya dengan lantang dan berkibarnya Sang Saka Merah Putih dengan gagah disertai semangat kolaborasi masyarakat di desa Lamdesar Barat. Berikut cuplikan singkatnya:


Upacara Bendera 71 Tahun Indonesia Merdeka

Pukul 08.30 WIT masyarakat sudah mulai bersiap-siap menuju ke lapangan upacara bendera peringatan 71 tahun Indonesia Merdeka. Upacara kali ini diadakan di lapangan desa (depan lokasi pembangunan balai desa Lamdesar Barat). Masyarakat akan menjadi peserta upacara yang terbagi ke dalam tiap rukun tetangga (RT). Pemerintah desa pun telah berkumpul di salah satu rumah milik kepala urusan pemerintahan desa untuk dikawal pasukan Paskibraka menuju lapangan upcara.

Pukul 09.00 WIT masyarakat dan siswa-siswi SD Kristen Lamdesar Barat dan SMP Satu Atap Lamdesar Barat sudah bersiap di lapangan upacara. Pemerintah desa mulai bergerak menuju lapangan upacara dikawal oleh pasukan Paskibraka. Upacara dimulai dengan cukup khidmat dan tenang walaupun cuaca di lapangan cukup terik panas. Pembacaan teks proklamasi dibacakan oleh ketua pemuda desa dengan lantang dan semangat laiknya Sang Proklamator kita, Soekarno. Tiba saatnya pengibaran bendera yang sudah ditunggu-tunggu oleh peserta upacara, pasukan Paskibraka mulai bergerak memasuki lapangan upacara dengan penuh semangat. Pasukan berhenti di depan tenda peserta pemerintah desa untuk menerima bendera yang akan dikibarkan pada upacara tersebut. Salah satu pasukan menerima bendera dari kepala desa Lamdesar Barat dengan penuh takzim dan penghayatan. Pengibaran sang saka Merah Putih berlangsung dengan penuh syahdu dan haru diiringi nyanyian Indonesia Raya dari peserta upacara, Indonesia Raya mengumandang dengan lantang di langit pulau terluar Indonesia bersamaan dengan berkibarnya Sang Saka Merah Putih dengan gagah.
Setelah upacara selesai, peserta upacara bersalaman satu sama lain, mengungkapkan rasa terima kasih atas apresiasi ikut menjadi bagian dari sejarah memeriahkan upacara kemerdekaan di pulau terluar.
Sebelum beranjak ke kegiatan perayaan selanjutnya, peserta uoacara istirahat sejenak menikmati kue buatan dari perempuan di desa Lamdesar Barat. Malam sebelum tanggal 17 Agustus 2016, perempuan-perempuan di desa Lamdesar Barat dengan giat dan tanpa mengenal lelah mempersiapkan kue-kue tradisional untuk menjadi hidangan setelah selesai upacara bendera.


Masyarakat mulai berkumpul di dekat tenda dan di bawah pohon rindang, sembari menyaksikan dan memberikan dorongan semangat kepada peserta baris berbaris dengan kreasi dari tiap rukun tetangga (RT). Peserta baris berbaris memakai baju khas dan unik dari tiap RT masing-masing, seperti anak-anak yang menggunakan baju dari tokoh salah satu sinetron, ada pasukan yang menggunakan baju putih, baju Pramuka, dan baju sekolah SMP. Setiap peserta baris-berbaris akan melewati rute keliling desa dan kembali lagi ke alapangan upacara. Setiap peserta baris-berbaris yang kembali ke lapangan upacara mendapatkan sambutan yang meriah dari masyarakat. Ada saah satu kelompok peserta baris berbaris di mana ketika memasuki lapangan upacara membuat suatu gerakan khusus saat aba-aba buka barisan, peserta langsung berjoget dengan khas dan sangat lucu sehingga membuat masyarakat yang menyaksikan tertawa, bahkan ada yang ikut berjoget.


Kegiatan penutup perayaan upacara bendera hari ini ditutup dengan perlombaan senam dari tiap-tiap RT di bawah pohon rindang. Salah satunya adalah senam Lambe-lambe yang khas dari Maluku. Masyakarat juga ikut senam bersama dengan pemerintah desa. Masyarakat menikmati dan menghayati setiap rangkaian peringatan upacara bendera 71 tahun Indonesia Merdeka. Suatu bentuk rasa syukur, masih diberi kesempatan hingga saat ini untuk menikmati dan mengisi peringatan kemerdekaan Indonesia dengan kerja nyata dan kolaborasi positif. Sesungguhnya istilah “keren” itu ketika kita bekerja bersama untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bersama.



Rumah Baca Desa Lamdesar Barat, Pulau Larat

Kegiatan rumah baca dimulai pada siang hari tanggal 17 Agustus 2016. Fasilitator Parakarsa bersama dengan anak-anak membuka buku dari kardus yang dibawa dari Jakarta. Awalnya baru beberapa anak saja yang ikut berkumpul di rumah baca, lama kelamaan anak-anak yang lain mulai berdatangan ke rumah baca karena penasaran dengan keseruan yang kami buat.


Ketika buku-buku sudah dikeluarkan dari kardus, mereka langsung menyerbu dan memilih buku-buku untuk diihat dan dibacanya. Ada total 128 buku untuk rumah baca ini. Sering terdengan keceriaan dan tawa dari beberapa anak yang sedang membaca buku. Beberapa anak cukup tertarik dengan salah satu buku, yaitu buku profil Oulau larat yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka langsung megetahui kalau itu pulau tempat mereka tinggal. Mereka tertawa saat melihat foto-foto di dalamnya, komentar dan diskusi kecil pun terjadi di anatara mereka mengenai isi buku profil Pulau Larat tersebut. Keyika dihadapkan pada peta Pulau Larat di buku tersebut, mereka juga mengetahui posisi dan lokasi desa Lamdesar Barat dalam pulau tersebut. Mereka menulusuri rute-rute perjalanan ketika mereka akan keluar dari desa Lamdesar Barat menuju kota Larat (sebutan untuk pusat Pulau Larat). Imajinasi mereka terbang dibawa dengan foto dan cerita dari buku tersebut.


Rumah baca tidak hanya anak-anak saja yang ikut berkunjung, tetapi juga pemdua dan seorang ibu yang ingin ikut membaca, begitu juga dengan ketua BPD Lamdesar Barat pun tidak mau ketinggalan dengan keseruan rumah baca. Beliau langsung mengambil buku pelajaran SD sambal nostalgia ketika dahulu beliau menjadi seorang pendidik dan kepala sekolah di SD Kristen Lamdesar Barat.


Fasilitator memberikan penjelasan kepada anak-anak mengenai sebuah buku dan isi di dalamnya, seperti ensiklopedi mini. Untuk menarik anaka-anak, fasiitator juga bercerita dan berdongeng kepada anak-anak. Ternjadi tanya jawab ketika kami sedang berinteraksi. Sebagian anak-anak, fasilitator berikan penjelasan dan pelatihan singkat sederhana mengenai pembuatan katalog buku secara sederhana yang terdiri atas judul buku, pengarang dan penerbit, Harapannya mereka juga ikut peduli dan menjaga buku-buku tersebut. Di kesempatan itu juga, fasilitator bercerita mengenai laut dan isinya dengan membawa sebuah buku. Anak-anak cukup antusias dan tertarik aplagi ketika mereka langsung menanggapi hewan-hewan yang ada di laut dan bercerita kondisi laut di sekitar desa serta bagaimana cara menjaga laut dengan sederhana seperti tidak membuang sampah di laut.



Pemutaran Film Anak-anak

Pemutaran film dilaksanakan padi hari Kamis tanggal 18 Agustus 2016 dimulai sekitar pukul 11.00 WIT sampai kira-kira pukul 15.00 WIT bertempat di lokasi rumah baca (rumah salah satu masyarakat). Penonton berasal dari anak-anak sekolah yang biasa datang ke rumah baca untuk membaca buku.

Film yang ditonton sebanyak lima (5) judul film dan satu (1) senam, lebih detailnya sebagai sebagai berikut:

  1. Kawan di Rawa Biru - Pustaka Anak Nusantara (mengisahkan mengenai adat sasi, kehidupan masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan kekayaan hasil laut melaui cerita dan kisah anak-anak di Merauke, Papua)
  2. Sahabat Lautku - Pustaka Anak Nusantara (film anak-anak ini mengambil setting lokasi di Manado Tua, Sulawesi Utara. Kisah tentang Kristie dan teman-temannya ketika bermain menyelam di laut Bunaken dan bercerita mengenai binatang-binatang bawah laut di sana, cerita mengenai bagaimana membakar ikan yang diperoleh dari laut dengan sederhana)
  3. Telur-telur Penyuku - Pustaka Anak Nusantara (tentang kehidupan penyu di desa Saubebah, Sorong, Papua Barat)
  4. Kutahu Dunia Air (kehidupan biota laut)
  5. Denias (Senandung di Atas Awan) - kisah anak untuk bersekolah
  6. Senam Penguin (senam seperti tarian penguin)

Proses pemutaran film berlangsung dengan lancar dan cukup seru. Anak-anak banyak bertanya mengenai film yang ditontonnya. Ketika ada salah satu segmen yang memutar tentang kehidupan bawah laut, sontak mereka mengambil buku profil Pulau Larat yang di dalamnya ada gambar-gambar mengenai biota laut, kemudian mereka mencoba untuk mencocokkan gambar tersebut dengan film yang mereka tonton.

Pemutaran film diselingi dengan pemutaran senam Penguin, tanpa dikomando anak-anak langsung menirukan gerakan senam penguin dengan diberikan arahan dari fasiitator. Sangat lucu dan membuat kami tertawa bersama di siang yang cukup panas saat itu. Tertawa bersama, bercanda bersama menjadi hal sederhana yang kami lakukan. Setelah selesai pemutaran film, fasilitator memberikan review mengenai film yang sudah diputar tersebut dan memberikan beberapa pertanyaan kepada anak-anak, alhamdulillah mereka dapat menjawab dengan lancar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh fasilitator. Kegiatan pemutaran film ini berlangsung dengan sangat sederhana tetapi mengandung makna dan arti yang sangat dalam untuk anak-anak di desa Lamdesar Barat dalam mengenali dan menjaga lingkuangan laut di sekitar mereka tinggal. 

Mini Kelas Inspirasi

Kegiatan mini kelas inspirasi diadakan setelah upacara bendera dan pada saat pemutaran film di rumah baca. Fasilitator mengajak anak-anak untuk bermain bersama dan belajar bersama. Berkumpul dengan mendengarkan cerita dan dongeng dari fasilitator mengenai kehidupan di laut, biota laut, menjaga laut dan asyiknya bermain bersama di laut. Laut sebagai bagian dan sumber kehidupan kita. Menjadi bagian dari cerita perjalanan anak-anak di sini kelak. Pemaparan dilanjutkan pada saat kegiatan pemutara film karena waktunya sangat cocok untuk menjelaskan berkaitan dengan film mengenai kehidupan laut seperti kisah anak-anak di Papua, kisah penyu dan cerita anak-anak saat menyelam di Sulawesi Utara.


Terjadi umpan balik yang cukup positif saat kegiatan ini berlangsung. Anak-anak cukup antusias mendengarkan cerita dari fasilitator. Selain itu, fasilitator juga mengajarkan mengenai senam penguin pada tahap awal. Senam ini sangat menarik dan lucu untuk menarik perhatian dan antusiasme anak-anak. Fasilitator juga memberikan pembelajar dan pelatihan singkat mengenai pembuatan katalog buku untuk rumah baca mereka, harapannya agar anak-anak terlibat dari awal dan diberikan apresiasi untuk menjaga keberlangsungan rumah baca.


Kegiatan kelas inspirasi ini berlangsung sederhana (mini kelas inspirasi) dalam jumlah yang kecil tapi meaningful (berarti). Semoga kegiatan selanjutnya menjangkau lebih banyak lagi anak-anak yang mengikuti. Kegiatan ini dipadukan dengan permainan-permainan sederhana dan ice breaking agar menjadi lebih semangat dan gembira.


ATN 2016

Satu Aksi untuk Tepian Negeri

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat
Nelayan di Pulau Larat

Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, dan relasi sosial. Dengan itu mereka bisa bertahan dan berkembang meniti kehidupan, dengan rumput laut, ikan, kacang tanah hingga kain tenun.

Wido Cepaka Warih, fasilitator Prakarsa KKP menuliskan dan mengirimkan temuan-temuannya selama berada di pulau yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia itu. Ragam foto dan narasi ini serupa tawaran untuk meraba urat nadi kehidupan di Pulau Larat versi fasilitator PPKT. 

Simak yuuuk!

***
Masyarakat Larat dan rumput lautnya
Masyarakat Larat dan rumput lautnya

Semenjak rumput laut mulai tertebas harganya, sebagian masyarakat di Pulau Larat memilih meninggalkan budidaya rumput laut. Beragam persoalan menjadi batu ganjalan bagi pembudidaya. Selain harga yang tak stabil mereka juga diserang penyakit. “Rumput laut kami terkena penyakit ice-ice, sekitar tahun 2014. Semenjak itu harga turun terus,” ungkap Ibu Maya sembari menunjukkan bekas lahan budidaya metode longline rumput laut di Desa Ritabel.

“Sekitar tahun 2012-an harga agar-agar (rumput laut) kering setiap kilogram mencapai Rp 15.000. Kalau sekarang hanya laku Rp 4.000-5.000,” kata Om Kui, seorang petani rumput laut di desa Lamdesar Timur, Pulau Larat.

“Ketika rumput laut berjaya, jalanan setapak depan rumah-rumah itu tertutup sama jemuran agar-agar. Masyarakat bisa menyekolahkan anaknya sampai lanjut kuliah, usaha dagang, buka warung, bangun rumah, banyak lagi pokoknya,” sambung ibu Maya.

Hingga Juni 2016, pemerintah daerah tak tutup mata melihat persoalan rumput laut. Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, berbagai bantuan seperti bibit rumput laut maupun pelatihan pengolahan budidaya dan hasil rumput laut tak lepas dari agenda rutin dinas terkait. Tujuannya demi kemandirian masyarakat Larat dalam mengelola sumber daya yang ada.

Pasar ikan di Larat
Pasar ikan di Larat

Selain gambaran status rumput laut dan dinamikanya saat ini di Larat, gambaran tentang potensi perikanan juga penting untuk diceritakan. Informasi awal tentang ini saya temukan saat bertemu dengan dua orang nelayan di Pulau Lelingluan yang sedang memanggul ikan bubara dan sakuda.
“Ayo mas, satu ikat Rp 35.000 saja ini, ikan masih segar baru nyampe subuh tadi,” salah satu penjual menawarkan ikan bawaanya
“Mama, ini ikan apa?”, tanya fasilitator DFW (Destructive Fishing Watch) yang sedang bertugas di sini, ikan yang berbeda.”Ikan samandar, harga seikat Rp 35.000, enak dan empuk dagingnya,” ujarnya. Transaksi pun terjadi, ternyata satu ikat isinya ada 15 ekor ikan samandar sebesar telapak tangan orang dewasa. Untuk jenis ikan sakuda maupun kakap seukuran pergelangan tangan orang dewasa kita bisa membelinya seharga Rp 50.000-60.000, apalagi ketika anda lihai menawar dibumbui dengan obrolan hangat akan mendapatkan harga yang lebih murah.

Menurut Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang dilansir dari data Dinas Kelautan dan Perikanan, di tahun 2013 produksi perikanan di Tanimbar Utara (Pulau Larat) sebesar 1.382 ton dan mengalami penurunan sebanyak 1.207 ton di tahun 2014. Untuk melihat potensi perikanan ini kita perlu melihat angka armada dan alat tangkap yang dipergunakan oleh nelayan Pulau Larat.

Jumlah perahu/motor tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan Pulau Larat adalah perahu jukung sejumlah 190 dikuti perahu kecil 168, perahu besar 33, motor tempel 139, dan kapal motor 26. Armada tersebut beberapa bersumber dari bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Masyarakat di Pulau Larat sebagian besar menggunakan pancong, sero, dan jaring insang untuk menangkap ikan dalam kesehariannya. Belum tersedianya cold storage di Pulau Larat juga berpengaruh terhadap nilai tambah perikanan tangkap. Selama ini, nelayan memanfaatkan es produksi rumahan, itupun hanya bertahan beberapa hari saja.

Suasana di dermaga, tempat nelayan sering mendaratkan hasil tangkapan
Suasana di dermaga, tempat nelayan sering mendaratkan hasil tangkapan

Buce, Ketua Kelompok Nelayan Barrakuda, ketika ditemui di rumahnya juga mengatakan hal yang sama. “Kami kalau melaut jauh-jauh tidak sebanding antara BBM, es dengan jumlah tangkapan. Di sini belum ada pabrik es atau penyimpanan ikan, ini yang kami harapkan dari pemerintah baik pusat mapupun daerah, agar nantinya perikanan di Pulau Larat ini bisa maju dengan dukungan sarana dan prasarana yang ada,” katanya.

Potret dalam Kacang Botol

Selain menyimpan potensi perikanan, Larat dikenal dengan potensi pertaniannya, seperti kasbi (singkong), umbi-umbian lain, pateka (semangka), jagung, dan kacang tanah. Saat menjumpai masyarakat di salah satu desa Pulau Larat yaitu Desa Lamdesar Barat, kita akan melihat potret aktivitas masyarakat sedang menjemur dan mengupas kacang tanah di selasar rumah.

Dengan jarak 50 km ke pusat Larat, masyarakat Lamdesar Barat biasa menjual kacang tanah yang telah dikelupas dengan harga Rp 20.000-25.000 per kg. Tumpukan karung kacang tanah seakan menjadi saksi jerih payah selama bekerja berladang. Dalam satu karung besar terdapat 30-40 kilogram kacang tanah masih dengan kulitnya. Untuk menghasilkan satu karung kacag tanah bersih (sudah dikelupas kulitnya), mereka harus mengelupas 3-4 karung kacang tanah.

Kacang botol khas Larat
Kacang botol khas Larat

Lebih serunya lagi, setelah pulang sekolah atau di waktu senggang, anak-anak di Lamdesar Barat tidak mau ketinggalan berbagi keceriaan dengan mengelupas kulit kacang tanah. Terkadang memang, tangan mereka lebih cepat dari tangan orang dewasa mengupas kulit kacang. Akan nampak senyum bahagia dan gigi putihnya ketika mereka diberi uang jajan Rp 30.000 per karung kacang tanah bersih seusai ikut mengupas. Semakin banyak karung dengan isi 30 kg per karung, maka akan semakin lebar senyum mereka, artinya akan mempunyai tabungan untuk membeli keperluan sekolah.

“Kalau untuk kacang botol, yang ditaruh di botol seukuran air mineral harganya Rp 15.000, sedangkan botol kaca bisa Rp 25.000-30.000,” ujar Bapak Pice yang juga mempunyai ladang kacang tanah.
“Kalau sekarang sudah mulai enak, sekitar dua bulan lalu, karena ada truk yang masuk ke sini, jadi gampang jual kacang ke pusat Larat, kalau tempo lalu, ketika akan menjual dalam jumlah banyak, kami harus pakai perahu ketinting dan ongkosnya lebih mahal,” sambung Pice saat sedang menjemur kacang tanah depan rumahnya.

Angin segar harapan berhembus ke Larat. Jalan trans Larat sudah mulai dikerjakan tahun ini. Beberapa tahun lagi semua desa akan merasakan lancarnya akses dan distribusi hasil panen, sehingga harapan mereka dapat meningkatkan roda perekonomian selama ini semakin cerah.

Tenun dari Bumi Lelemuku
Bukan hanya rumput laut, ikan, dan kacang tanah. Di Larat terdapat anggrek endemik namanya lelemuku. Ini dapat pula dikembangkan terutama bagi pencinta bunga.

Pemandangan matahari terbenam di Larat
Pemandangan matahari terbenam di Larat

Selain itu, kurang lengkap rasanya kalau berkunjug ke Pulau Larat jika tak membawa oleh-oleh berupa kain tenun yang dibuat dengan tangan langsung (hand made) oleh masyarakat Larat. Hampir semua perempuan di desa bisa membuat tenunan, baik dalam bentuk scarf maupun syal.

Untuk selembar syal, mereka bisa menjual dengan harga Rp 150.000. “Satu syal bisa dua sampai tiga hari buatnya, tergantung kesibukan, kalau mau dikasi nama orang juga bisa di syalnya, atau memilih warna kombinasi benang dan corak syal,” terang Mama Desa Lamdesar Barat. Belajar dari kesabaran memintal benang-benang halus dan ragam corak warna, membuat kita akan jatuh cinta pada kearifan masyarakat di Larat.

Dari masyarakat di Pulau Larat, kita bisa belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal, belajar kearifan lokal dan budaya mereka, belajar untuk tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar.


Artikel ini dimuat di:

#24 Lingkaran Positif di Bumi Duan Lolat (Sebuah Kolaborasi dengan Penyuluh Perikanan)

Kantor PSKPT Saumlaki, MTB

Pagi ini di negeri Duan Lolat (sebutan untuk Kabupaten Maluku Tenggara Barat) cuaca nampak cerah dan bersemangat. Ku jelang sinar mentari pagi dengan mencuci setumpuk pakaian kotor. Mungkin pernah ada yang bertanya seperti halnya kejadian serupa saat aku mencuci motor di masa yang lalu, "buat apa dicuci toh nanti kotor lagi". Aku hanya tersenyum menanggapi gurauannya.Jalanan di depan sekretariat nampak sepi tidak seperti biasa, aku baru teringat kalau hari ini kantor yang berjajar seri di sepanjang jalan yang memuat nama proklamator republik ini libur. Hanya terlihat beberapa pemuda yang berlari kecil, seorang ayah yang memboncengkan sang putri di motor keluaran Jepang menuju ke suatu lokasi yang sudah disepakati, maupun Pak Panus dan Pak Maikel (keluarga baru di sekretariat PSKPT Saumlaki) tengah menyeka peluhnya sembari memperbaiki papan nama sekretariat.Satu persatu terdengar deru roda besi mulai berdatangan dan parkir di depan garasi mobil. Sambil tersenyum dan tertawa renyah mereka menyapa kami. Nampak benar semangat mereka pagi menjelang siang ini. Kiranya mereka penasaran diundang secara khusus oleh sekretariat PSKPT Saumlaki. Ada apakah gerangan? Terbesit tanda tanya di benak mereka.

Ya, mereka adalah orang keren yang menjemput kehormatannya menjadi Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) untuk mendampingi masyarakat di Tanimbar. Pak Nas (Field Manager) menyilakan mereka untuk masuk ke ruang tamu agar lebih santai dan akrab perbincangannya. Sambil menunggu kedatangan yang lain, aku, Mele, dan Pak Nas ngobrol ringan terkait beberapa isu mengenai kelautan terkini. Pak Nas menyampaikan kepada para penyuluh maksud dan tujuan mengundang mereka semua kemari. Pak Nas ingin mengajak kolaborasi untuk membuahkan aksi nyata. Dimulai dari pemaparan mengenai apa itu PSKPT, dilanjutkan dengan penyampaian tujuan dan mendengar sharing dari teman-teman Penyuluh. Maluku Tenggara Barat merupakan salah satu kabupaten yang menjadi lokasi Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu. Bahkan di tahun ini, Ibu Susi (Menteri KKP) menginginkan adanya ekspor perdana dari beberapa lokasi PSKPT. Sebagian dari penyuluh sudah pernah mendengar mengenai PSKPT karena sebelumnya kami pernah sharing pada waktu workshop diversifikasi hasil olahan perikanan tempo hari.

Basilur Arbol salah satu penyuluh yang ditugaskan di kec. Tanimbar Utara menyampaikan bahwa di tahun ini target untuk pembentukan koperasi nelayan seluruh Indonesia kurang lebih 600 koperasi. Ini yang dia dapatkan ketika mengikuti kegiatan di Ambon tempo lalu. Ada beberapa keluhan yang masuk mengenai status KTP nelayan. Slamet mengiyakan agak kesulitan mendapatkan nelayan yang mempunyai KTP dengan status nelayan, ada yang petani malahan. "Teman-teman nanti bisa dilihat kondisi di lapangan seperti apa, apakah pendapatan orang itu lebih banyak di laut atau di darat? Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk di laut maupun di darat? Agar data benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan", sambung Pak Nas. Daud yang saat ini bertugas di kec. Wuarlebobar menambahkan bahwa di pesisir timur Tanimbar ini, paling banyak ditemukan nelayan sambilan, artinya mereka akan melaut ketika mulai masuk musim barat. Begitu juga dengan keberadaan perahu-perahu nelayan yang ada. "Untuk tahun ini, Maluku Tenggara Barat mendapatkan kuota kartu nelayan sebanyak 3000", tambah Erlina yang saat ini beroperasi di Tanimbar Selatan.Aku sedikit menambahkan, kita nanti bisa buat bersama-sama kalender musim dari tiap kecamatan, agar bisa tahu lebih detail kegiatan masyarakat di sana. Kalender musim ini nanti juga berguna untuk analisa selanjutnya. Sebagai moderator, Basilus Arbor mencatat beberap poin penting terkait hasil sharing tadi. Basilus menyampaikan untuk pembentukan koperasi yang perlu diingat adalah penguatan kapasitas kelompok terlebih dahulu. Jangan dipaksakan, kita lihat perkembangan dan menjalani setiap proses yang ada. Hal ini diamini oleh penyuluh yang lain. Untuk penyuluh juga sudah ada wadah agar bisa menuliskan setiap perjalanan dan isu yang didapat dari lapangan.

Menulis bukan lagi menjadi hal berat, tetapi sudah menjadi kebutuhan kita untuk memberitahuan kepada khalayak ramai mengenai apa yang terjadi. Menulis juga sebagai jejak memori yang akan diingat selalu ketika nanti dibutuhkan. Mele salah satu fasilitator yang bertugas di Pulau Selaru juga menambahkan bahwa kita harus cukup cerdik untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, salah satunya bisa bekerja sama dengan RRI Pro 1 Saumlaki. Aku dan Mele sebelumnya pernah berbincang hanya dengan Pak Jei dari RRI mengenai kesempatan kami untuk sewaktu-waktu siaran di sana. Beliau pun cukup antusias bahkan mempersilahkan.

Gayung pun bersambut, kami juga mengajak teman-teman penyuluh untuk berkolaborasi menceritakan kekerenan masyarakat di Tanimbar. Tak terasa matahari sudah sepenggalah tingginya. Dan yang kebih konyol lagi kita lupa memperkenalkan diri lebih dalam di awal tadi. Tapi tak apalah, kami cukup bisa seketika cair layaknya sobat lama. Akhirnya aku, Mele dan Pak Nas bisa mengenal Obeth, Basilus, Felix, Erlina, Slamet, Apolos dan Daud. Di akhir sesi perkenalan disertai guyonan ringan, Basilus membacakan beberapa kesimpulan termasuk pertemuan rutin yang akan diadakan tiap awal bulan. Sekretariat PSKPT akan selalu menjad tempat dan saksi kolaborasi positif. Sungguh bahagia di tanah rantau ini, aku bertemu dengan orang orang keren yang idealis membangun negeri. Kami dipertemukan dalam lingkaran positif yang akan terus menularkan virus positif ini ke orang lain. Semoga niat baik akan diwujudkan dalam kolaborasi aksi positif selalu mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami siap mendampingi tangan-tangan optimis masyarakat Tanimbar. Kalwedo ! 

Saumlaki, 16 April 2016

Surga Tersembunyi di Pulau Larat


Lelaki tua itu sedang sibuk membersihkan mesin ketinting yang baru saja diambilnya di gudang rumah. Tampak cekatan tangan terampilnya, membongkar mesin yang sudah mempunyai banyak kenangan berharga semasa rumput laut mengalami kejayaannya. Kendati demikian, lelaki yang sudah mencintai laut, tidak demikian seperti kata orang-orang. Dalam kondisi apapun, akan selalu bersama dengan lautan yang lama telah diarunginya.

Aku dipanggilnya untuk ikut serta melihat dan mengecek lahan budidaya rumput laut miliknya. Sudah beberapa hari ini angin mulai kencang kembali. Mungkin banyak beberapa rumput laut yang jatuh dari talinya, sehingga perlu diikat kembali. .
Dari kesederhanaan dan kecintaan beliau pada laut, aku belajar banyak hal. Belajar bagaimana untuk selalu menghargai proses dan berjalan terus dalam kondisi musim apapun yang menerpa. Meminjam istilah dari sesorang yang saya kagumi, "Tabah sampai akhir !"


Pikat Pantai di Pulau Larat

Ada yang bilang kalau pantai adalah muara dari segala kepenatan dan ruang untuk melepas semua keluh kesah dan itu menjadikannya semua kebahagiaan. Bermain dengan pasir putih dan birunya laut, membuat aku seakan lupa akan segala badai yang menerjang.

Pulau Larat ternyata menyimpan banyak lokasi tersembunyi yang belum diketahui banyak orang. Cocok buat Anda yang suka lokasi wisata yang menantang dan masih alami. Ada deretan garis pantai yang siap memanjakan Anda semua.



Salah satunya adalah nuansa pasir putih dan bersihnya Pantai Keliobar. Pantai ini terletak di pesisir utara pulau Larat tepatnya di sebelah barat desa Keliobar. Anda akan disuguhkan dengan romantika nuansa dan harmonisasi antara langit dan laut yang berpadu dalam birunya. Berteduh di bawah pohon kelapa yang rindang, siap dipetik kelapa hijau ketika haus. Nikmat bukan?


Cerita mengenai lelaki tua dan pantai Keliobar hanya bagian kecil dari surga yang tersembunyi di Pulau Larat. Masih banyak lagi yang nantinya akan kita lihat dan rasakan bersama, seperti wisata mangrove di pesisir desa Kelaan dan Lamdesar Barat, snorkling ditemani bintang laut dan ikan yang lucu, memanah ikan, melihat proses pembuatan kain tenun Tanimbar, keceriaan anak-anak di Pulau Larat, mencicipi ikan segar dan sejuta cerita :).


Lamdesar Barat di Timur

Lamdesar Barat di Timur

Perjalanan kali ini tentunya akan membawa cerita dan kisahnya. Bukan perjalanan biasa, tetapi dalam rangka mengemban sebuah tugas. Tugas yang menyenangkan tentunya, karena dapat belajar banyak dari masyarakat dan mengenal mereka lebih jauh.
Tersebutlah suatu desa di ujung timur Pulau Larat bernama Desa Lamdesar Barat. Jangan sangka walaupun toponimi desa mengandung unsur arah mata angin, tetapi letak sebenarnya di lokasi adalah di sebelah timur.
Menurut penuturan dari Bapak Zadok Abiatar Fun (Kepala Desa Lamdesar Barat), asal usul nama dimulai ketika dahulu Lamdesar masih menjadi satu. Kemudian ketika dipisahkan mulai timbul permasalahan toponimi. Berhubung dari lokasi saudara kandung Desa Lamdesar Barat, yaitu Desa Lamdesar Timur yang sekarang dapat melihat jelas ujung timur Pulau Yamdena, oleh karenanya desa tersebut diberi nama Desa Lamdesar Timur. Di sebelah timurnya baru diberi nama Desa Lamdesar Barat. Begitulah kiranya.
Ini menjadi perhatian di mana peta pada umunya sebelum adanya revisi menampilkan toponimi desa Lamdesar Barat dan Timur sesuai arah mata angin. Dampaknya ke beberapa kebijakan pembangunan terjadi hal yang membingungkan, baik dari pusat maupun pemerintah daerah. Terkait dengan bantuan-bantuan maupun program yang diberikan. Untungnya hal itu sudah berlalu dan menjadikannya sebuah perbaikan dari ikhwal pengalaman di masa lampau. Begitu pentingnya pengaruh toponimi suatu daerah dan sejarah di baliknya perlu mendapatkan perhatian dan kerjasama dari semua pihak. Baik dari pemerintah daerah dan pusat. Pola komunikasi dari tingkat desa ke pusat maupun sebaliknya menjadi kunci sebuah sinergisitas pembangunan.
***